
Obrolan mereka terhenti saat arin menerima telfon. Arin menjauh dari marchel. Bahkan suara arin hampir tak terdengar karena ia berbicara setengah berbisik .
"Siapa yang telfon? ", tanya marchel yang sudah ada di belakang arin. Karena penasaran marchel meloncat pembatas antara balkon kamar arin dan kamarnya.
Refleks arin langsung mematikan telfon secara sepihak. " Bukan urusan mu! ", ketua arin. Yang berlalu masuk ke kamar.
Marchel hanya bisa diam melihat pintu kaca kamar arin tertutup rapat.
Kenapa dia gak tertarik dengan ku? Biasanya cewek-cewek akan merengek minta untuk gw pacarin. Lah ini malah sebaliknya. Gw harus pakai cara halus untuk menaklukkan hati nya. (Batin marchel).
Awali pagi dengan sesuatu yang baik-baik, salah satunya dengan tersenyum. Tersenyum di pagi hari akan membuat suasana hati menjadi lebih baik, sehingga harimu nantinya juga akan berjalan dengan baik pula.seperti saat ini senyum marchel tak pernah pudar. Dari keluar kamar sampai tiba di meja makan.
Arin melihat marchel dengan jengah. Arin juga tak menghiraukan kehadiran marchel di meja makan.
"Mas! Sini aku ambilin sarapannya. ", ucap arin dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Wisnu mengerutkan keningnya.
Anak ini salah minum obat atau gimana? (Batin Wisnu).
Wisnu masih mengamati gerakan arin . Arin yang paham dengan pandangan Wisnu lantas arin mengedipkan sebelah matanya.
" Mau makan sendiri atau aku suapi mas? ", tanya arin dengan sengaja.
" Heemmm...
"Aku suapi saja ya? ", sahut arin sebelum Wisnu menjawab.
" Ayo hak! ", ucap arin sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng seafood.
Marchel hanya bisa melihat adegan yang sengaja di buat mesra oleh arin. Tentu saja hati marchel ada percikan api. Namun marchel bersikap biasa seolah ia tak melihat mereka.
" Ihh... Mas Wisnu makanya kaya anak kecil deh! ", arin mengelap sudut bibir Wisnu dengan jempol tangannya. Dengan cepat Wisnu menangkap tangan arin. Sehingga mereka beradu pandangan. Wisnu yang tidak bisa menahan diri saat arin bersikap tak seperti biasa. Wisnu memajukan wajahnya sehingga hidung mancung nya menempel di hidung arin.
Arin membelalakkan matanya, dengan respon Wisnu yang di luar dugaan.
"Ckk.. ", marchel berdecak melihat dua anak manusia itu.
" Gw berangkat dulu bang! ", marchel memilih pergi dari meja makan karena sudah tak tahan melihat kelakuan abangnya.
Suara marchel mampu mengalahkan Wisnu yang sebentar lagi bibirnya akan mendarat di bibir arin. Wisnu dan arin sama-sama menoleh ke arah marchel yang sudah meninggalkan meja makan. Posisi mereka masih sangat dekat, kemudian tatapan mereka bertemu kembali. Dengan cepat arin memundurkan wajahnya. Secepat kilat pula Wisnu menarik tangan arin, sehingga wajah mereka kembali dekat, sangat-sangat dekat .
__ADS_1
"Ba... Bapak mau ngapain? ", tanya arin dengan terbata.
" Kamu yang memulai duluan! Jadi kamu harus bertanggung jawab! ", balas Wisnu sambil senyum menyeringai.
Arin menggeleng saat nafas Wisnu menyapu wajahnya. Tanpa meminta persetujuan dari arin, Wisnu langsung menyambar bi**r arin dengan ganas. Wisnu melupakan janjinya jika ia tidak akan pernah mencium arin lagi. Selama ini Wisnu mati-matian menahan gejolak agar tidak khilaf. Bibir arin bagaikan candu buat Wisnu.
"Allahhuakbar! ", bi Retno dan bi sumi langsung menutup mulut mereka dengan tangannya.
" Pagi-pagi kita sudah dapat jekpot bik. ", ucap bi Retno sambil mengusap dadanya karena kaget.
" Filem garis itu namanya no, mana live lagi ", sahut bi sumi sambil menggelengkan kepalanya.
" Pantas saja waktu itu nyonya marah besar. ", timpal bi Retno.
" Ia... Bener saja nyonya minta mereka segera menikah. Sepertinya mereka sudah tidak tahan lagi no. ", ucap bi sumi. Kedua orang itu cekikikan bersama.
Arin terengah-engah kehabisan nafas. Karena Wisnu tak memberi jeda sedikitpun. Untung saja arin bisa menggigit bibir bawah Wisnu , sehingga tautan bibir Wisnu terlepas.
" Auw..! ", Wisnu meraba bibirnya dan melihat jarinya ada bercak darah. Ia arin menggigit nya hingga terluka. Kemudian pandangan Wisnu beralih ke arin yang masih mengatur nafasnya. Wisnu mengulum senyumnya.
" Kenapa gak nafas? ", celetuk Wisnu.
" Gimana bisa nafas? Pak Wisnu saja tidak memberi jeda sedikitpun. ", sahut arin dengan wajah yang sudah merah karena malau.
"Mana ada kucing yang nolak jika di kasih ikan! ", ucap Wisnu dengan santai.
" Ia... Bapak itu kucingnya, kucing garong! ", bibir arin mengerucut dengan sempurna.
"Ciih.. Bibir nya! Bisa gak sih gak usah manyun gitu? Apa masih kurang? ", umpat Wisnu. Arin langsung mendekap mulutnya dengan kedua tangannya.
" Hahaha.... Takut amat sih! ", ucap Wisnu sambil minum teh.
" Bapak sih tukang nyosor! Jadi ngeri saya. ", sahut arin.
" Bilang saja ngeri-ngeri sedap ! "
"Engak! ", ucap arin langsung melengos.
" Bapak udah ingkar janji! ", timpal arin.
__ADS_1
" Ya maaf! Namanya juga manusia normal. Wajar jika berbuat khilaf. ", jawab Wisnu sambil tersenyum mengingat ke ganasannya tadi.
" Bapak harus bayar dendanya! ", ucap arin dengan nada sebal.
" Itu berlaku jika kita sudah menikah nanti. Jadi untuk sekarang tidak ada denda nya. Ya anggap saja sebagai asupan vitamin buat kamu. ", tangan Wisnu menoel pipi arin yang bersemu merah.
" Cih... Laki-laki itu maunya menang sendiri. ", arin bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar.
Sial bener pagi ku. Niat hati bikin marchel gak betah tinggal di sini , malah aku yang kena jebakan ku sendri. Ini mah bisa disebut dengan senjata makan tuan . Mana bibir jadi perih lagi. Tapi manis juga sih. Aaa... Sialan itu si kutu kupret marchel. Gara-gara dia aku jadi mencicipi bibir manis pak bos lagi. Arin menggerutu dalam hati sampai kamarnya.
"Cepat Rin! ", teriak Wisnu sambil melihat arloji di tangannya.
" Ia tunggu sebentar. ", Arin menjawab deng suara yang nyaring pula.
" Lama banget sih! ", gerutu Wisnu saat Arin baru masuk ke dalam mobil.
" Maaf! ", ucap Arin singkat.
" Kamu ada alat make up gak buat nutupi ini! ", Wisnu menunjuk bibirnya yang masih ada noda darahnya.
Arin mencincingkan mata sebelah nya. Sejurus kemudian Arin menahan tawanya melihat bibir Wisnu yang sedikit bengkak.
" Puuufft... Itu bibir kenapa pak? "
"Ke jedot atau gimana? ", tanya Arin yang tidak menyadari jika itu akibat ulahnya.
" Ckk... Kamu ni main gigit aja , Sakit tau ! "
"Mana nanti ada mitting sama kleyen dari berbagi perusahaan lagi. "
"Belum lagi Riyan! Pasti itu mulut gak akan berhenti ngeledekin gw. ", umpat Wisnu yang fokus mengemudikan mobilnya.
" Anggap saja itu ****** pak! Cuma cupangnya salah tempat. ", kekeh Arin.
" ******... ******. "
"Mending ****** di sini bisa ketutup. ", sahut Wisnu dengan menarik sedikit kerah bajunya.
" Hahaha... Udah gak papa! Tambah seksi itu bibir. "Kekeh Arin.
__ADS_1
" Nanti setelah rapat aku kasih obat biar gak sakit lagi. ", timpal Arin.
" Terserah kamu lah. ", ucap Wisnu.