
Tiga hari sudah Wisnu menemani Arin di kampung halamannya . Yoga yang merindukan sosok seorang ayah, tidak mau jauh dari Wisnu. Bahkan jika Wisnu ke kamar mandi pun Yoga akan menunggunya di depan pintu. Saat tidur pun Yoga minta agar Wisnu yang menemani. Sungguh kini Wisnu telah menjelma sebagai seorang ayah yang hangat. Wisnu merasa mendapatkan hiburan tersendiri saat bermain dengan Yoga.
Hari ini Wisnu menepati janjinya untuk membawa Yoga jalan-jalan.
"Enaknya kita jalan kemana? "tanya Wisnu .
" Kita ajak saja ke taman kota mas! " sahut Arin yang kini merubah panggilan Wisnu.
" Kok ke taman? Kita ke mall aja! " sahut Wisnu.
" Di sini belum ada mall mas! "
"Makanya mas Wisnu bikin mall dong di kota ini , biar kalau ke mall gak harus ke luar kota! "ucap Arin yang masih sibuk menyisir rambutnya.
" Hemm... Gitu ya! nanti aku pikir-pikir dulu deh!" ucap Wisnu.
"Aku bercanda mas! jangan di anggap serius gitu dong! " sahut Arin.
"Serius juga gak papa! " kata Wisnu.
"Terserah mas saja lah! " Arin memutar bola matanya.
" Yoga sayang, Ayo kita berangkat ! " ucap Arin yang sudah rapi dengan setelan celana jins warna biru dongker, yang di padukan dengan blus berwarna krem.
" Yee... Jayan-jayan! "suara girang dari Yoga.
" Ayo sini gendong sama ibu! "Arin merentangkan tangannya agar Yoga segera mendekat.
" Gak au! Oga au yayah! " Yoga berlari menuju di mana Wisnu sedang berdiri.
"Mau di gendong ayah? Sini cium ayah dulu! " Wisnu berjongkok dan menyodorkan pipinya ke Yoga, agar mendapat kecupan dari bibir mungil bocah gembul itu.
"Kita naik motor lagi? " Tanya Wisnu yang menerima kucing dari Arin.
"Iya lah, aku hanya punyanya motor! " Jawab Arin.
"Maaf! Aku tidak bermaksud... "
"Gak papa! " Arin memotong ucoan Wisnu.
" Kamu pasti tidak nyaman kan? "
"Aku akan pesan taksi online saja kalau begitu! " Arin mengeluarkan ponselnya, dengan cepat Wisnu merebut ponsel itu dari tangan Arin.
"Enggak usah! Kita naik motor saja, biar kelihatan romantis! " Ucap Wisnu.
"Hemm... Kata siapa? " Arin berjalan keluar rumah.
"Aku lah! Kan tadi akun yang bilang ! " Sahut Wisnu yang mengekor Arin .
__ADS_1
Saat tiba di tempat tujuan, Yoga menjajal semua permainan yang di sewakan di taman kota itu.
"Aku juga mau naik yang itu! " Wisnu menunjuk seseorang yang berboncengan, dengan anaknya menggunakan mini cros.
"Haaa... Serius mas! Gak malau sama umur? " Ucap Arin sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa harus malu? Sahut Wisnu, tuh lihat orang itu saja tidak malu! "
"Ayo sayang kita naik yang itu! " Ajak Wisnu yang menggendong Yoga.
Arin memilih duduk di bangku taman. Arin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, saat melihat tingkah Wisnu yang seperti anak-anak. Arin tak lupa untuk mengabadikannya.
Suatu saat nanti , ini akan menjadi kenangan untuk ku dan Yoga. Melihatmu yang sabar dan pengertian kepada Yoga, aku tak ingin hari ini cepat berlalu. Batin Arin sambil melihat Wisnu dan Yoga yang tertawa girang.
"Sudah puas mainnya? " Tanya Arin yang mengambil alih Yoga dari gendongan Wisnu.
"Belum sih! " Sahut Wisnu yang duduk di sebelah Arin.
"Aku ingin belikan Yoga mini cros seperti itu! "
"Gak usah mas! Lagian Yoga masih terlalu kecil. Yoga juga belum bisa, jika tidak ada yang mendampingi. " Jelas Arin.
"Ya udah deh nanti saja nunggu Yoga gedean dikit. " Sahut Wisnu.
"Oh... Iya Rin, aku harus kembali besok pagi! Kalau kamu masih rindu dengan Yoga, kamu bisa ambil libur lagi. "
"Kalau masalah rindu sih, jangan di tanya lagi mas! "
"Aku akan ikut kembali besok! " Lanjut Arin.
"Kalau itu mau sih, aku tak bisa melarang mu! " Dalam hati Wisnu bersorak senang, karena Arin ikut dengannya pulang.
"Sebelum pulang, aku ingin melamar mu! "
"Melamar ku? " Ulang Arin.
"Iya, apa ada yang salah? " Sahut Wisnu.
"Tapi ini terlalu cepat mas! " Ucap Arin.
"Mumpung aku bertemu dengan kedua orang tua mu. "
"Jadi biarkan aku melamar mu nanti malam. " Jelas Wisnu.
Ada apa dengan jantung ku Tuhan? Tolong aku Tuhan! Kenapa detak jantung ku berdetak lebih cepat? Tiba-tiba jantung Arin berdebar saat Wisnu bilang jika akan melamarnya.
Ada rasa senang di dalam hati Arin, jika Wisnu akan melamarnya. Tapi Arin segera menepis rasa senang itu, lamar itu hanya sebagian kecil dari berlangsungnya sebuah sandiwara.
"Mas, kita pulang saja yuk! Ajak Arin, sepertinya Yoga sudah kecapean. "
__ADS_1
"Langsung pulang aja? Tanya Wisnu, gak mampir kemana dulu gitu? "
"Enggak usah mas! " Sahut Arin .
Wisnu menepati janjinya, malam ini ia akan melamar Arin.
"Kenapa gue jadi nerves gini? " Gumam Wisnu yang sedang bercermin.
"Padahal dulu sama sifa gak gini amat! " Wisnu mengingat perasaanya dulu saat melamar sifa. Setelah selesai berdandan Wisnu langsung keluar dari kamar hotel. Selama tinggal di kampung halaman Arin, Wisnu menginap di sebuah hotel.
Yoga orang pertama yang menyambut kedatangan Wisnu.
"Yee... Yayah datang! " Yoga bersorak gembira.
Sebelum berbicara ke intinya, Wisnu menyempatkan untuk bermain dengan Yoga.
"Bawa Yoga ke kamar! Bisik Wisnu, aku akan berbicara dengan orang tua mu. " Di akhir kata Wisnu mengedipkan sebelah matanya.
"Pak, bu! Maaf jika saya tidak sopan ! " Wisnu mulai bicara di saat Arin membawa Yoga ke kamar.
"Ada apa nak Wisnu? " Sahut bapaknya Arin.
"Begini pak, bu! Wisnu menjeda ucapannya, saya ingin melamar Arin anak bapak dan ibu! "
"Saya ingin menjadikan Arin sebagai istri dan juga ibu dari anak-anak saya! "
"Saya minta restunya dari bapak dan ibu! " Wisnu menahan rasa gugup saat berhadapan dengan orang tua Arin .
"Apa nak Wisnu yakin? "Ucap Ibu Arin.
" Iya... Pikiran dulu nak! Arin sudah pernah menikah dan punya anak dari pernikahannya yang pertama . " Jelas bapak Arin.
"Saya sudah memiringkan dengan matang - matang pak! "
"Saya juga sudah tau jika Arin pernah menikah. Maka dari itu saya ingin meringankan bebannya. "
"Saya juga yang telah menyuruh Arin untuk segera menggugat suaminya. Karena saya tidak tega melihat Arin sendirian mencari nafkah untuk Yoga. "
"Maka dari itu ijinkan saya untuk meminang anak bapak dan ibu! " Jelas Wisnu panjang lebar.
"Kalau begitu, kami selaku orang tua hanya bisa memberi restu. Tapi, semua saya kembalikan kepada anak kami Arin. " Ucap bapak Arin.
"Iya... Kita tunggu Arin dulu ya nak Wisnu! Sahut ibu Arin, nah itu anaknya! "
"Duduk sini Rin! " Bapak Arin menepuk bangku sebelahnya.
"Begini, nak Wisnu melamar mu! Apa kamu bersedia ? "
"Iya Pak! " Jawab Arin sambil tertunduk. Hatinya terasa sakit saat mengiyakan lamaran Wisnu yang hanya sandiwara.
__ADS_1
Wisnu pun tersenyum lega saat mendengar jawaban Arin.
Kenapa gue jadi seneng gini ya? Saat dia menerima lamaran gue! Ini kan hanya sandiwara . Rasa yang aneh, tapi nyata. Batin Wisnu.