TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
56. Dokter cinta


__ADS_3

Mobil Riyan membelah jalanan ibu kota. Dengan cepat Riyan mengemudikan mobilnya agar segera sampai di rumah sakit, karena arin terus saja merengek agar Riyan menambah kecepatan mobilnya.


Tidak mau mendengar ocehan arin, Riyan pun menuruti kemauannya.


Arin tampak mondar mandir di depan ruangan UGD . Riyan yang melihat tingkah arin itu hanya mengulum senyum.


"Duduklah! ", ucap Riyan sambil menepuk bangku sebelah nya.


Arin menurut, ia duduk di sebelah Riyan. Namun belum sampai lima menit arin kembali berdiri dan mendekati pintu UGD. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah arin.


" Duduklah! Aku capek sendri melihat mu yang mondar - mandirseperti setrikaan. ",kekeh Riyan.


" Tenang lah sedikit! Wisnu sudah di tangani oleh para ahli nya. ", imbuh Riyan.


" Apa sebelumnya pak Wisnu pernah sakit seperti ini? ", tanya arin yang duduk di sebelah Riyan.


" Pernah! Sering malah! ", jawab Riyan asal.


" Sering? ", ulang arin penasaran.


" Ia... Sering! Wisnu itu sering sakit. "


"Tapi dia gak pernah periksa ke dokter! ", kata Riyan yang sok serius.


" Lalu kakak diam saja begitu? ", tanya arin dengan mata yang menatap Riyan dengan tajam.


" Hehe... Mau gimana lagi! ", kekeh Riyan saat mendapatkan tatapan tajam dari arin.


" Kok gimana lagi sih kak? "


"Kakak kan bisa bawa paksa pak Wisnu ke rumah sakit! "


"Katanya kakak sahabat nya! Tapi kenapa membiarkan pak Wisnu menahan sakit seorang diri? ", ucap arin.


" Emang ada dokter cinta di rumah sakit? ", tanya Riyan sambil menahan tawanya.


" Dokter cinta? Maksudnya kak Riyan apa? ", tanya arin yang tak mengerti dengan omongan Riyan.


" Maksudnya! Wisnu itu butuh dokter cinta. Bukan sembarang dokter! "


"Karena selama ini dia itu sakit hati, bahkan sudah level akut sakit nya. ", jawab Riyan.


" Dasar ihh... Kak Riyan ngerjain aku ya? ", kata arin sambil cemberut.


"Hahaha... "


"Habisnya dari kita datang ke sini kamu gak bisa diam sih! ", kata Riyan samabil tertawa.


" Awas ya! Aku aduin ke pak Wisnu nanti! ", ucap arin.

__ADS_1


" Ciye yang khawatir masa pak Wisnu! Uluh... Uluh... ", Riyan tak takut dengan ancaman arin. Dia malah meledek arin yang membuang mukanya sambil cemberut.


" Dokter! Gimana keadaan pasien? ", arin mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


" Anda dengan kelurga pasien? ", tanya dokter.


" Iya... Dok! Saya sahabatnya. ", jawab Riyan yang sudah ada di dekat arin.


" Kondisi pasien saat ini masih lemah belum setabil. Pasien juga kekurangan cairan. ", tutur sang dokter.


" Terus pak Wisnu sakit apa dok? Tadi sebelum di bawah ke sini beliau muntah-muntah. ", kata arin.


" Kemungkinan pasien sakit tifus. Itu masih prediksi awal. Kita lihat hasil lep nya nanti. ", jelas dokter.


" Kalau begitu saya permisi dulu! ", pamit dokter.


" Iya dok, terimakasih! ", jawab arin dan Riyan bersamaan.


" Maaf mbak! Tolong tebus resep ini untuk pasien! ", kata salah satu suster.


" Baik Sus! ", jawab arin.


" Kak, aku ke apotik dulu ya? ", kata arin yang langsung pergi.


Riyan hanya menggelengkan kepala nya. Sebelum masuk ke ruangan di mana Wisnu di rawat.


" Kelelahan sekali hari ini! ", gunam marchel sambil meregangkan otot-otot nya.


Marchel membuka aplikasi chat yang ada di ponselnya. Ia mengetik pesan untuk seseorang. " Mudah-mudahan kali ini dia balas pesan ku! ", kata marchel sambil tersenyum.


Lama marchel menanti balasan dari arin. Namun penantiannya sia-sia, pesan yang di kirim marchel tak di balas. Apa lagi telfon nya juga tak di angkat.


" Baru kali ini ada cewek yang gak mau balas pesan gw! ", kata marchel sambil mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan bulpoint.


Marchel memutuskan untuk mencari ke tempat kerja arin. Kini marchel berada di dalam mobil.


Mobil marchel berjalan dengan kecepatan sedang. Ia menuju perumahan elit yang ada di salah satu kota itu.


Dari jarak kurang lebih satu kilo meter, marchel melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Bi sumi! ", sapa marchel yang memberhentikan mobilnya tepat di depan bi sumi.


" Den! "


"Bibi ngapain malam -malam di sini? "


"Masuk bi aku antar pulang! ", kata marchel membuka pintu mobilnya.


" Terimakasih den! ", kata bi sumi yang sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


" Tadi bibi dari apotik, pas pulang gak ada taksi yang lewat. ", jelas nya.


" Emang ada yang lagi sakit bi rumah? ", tanya marchel sambil mengemudikan mobilnya.


" Den Wisnu yang sakit! ", kata bi sumi.


" Yang beberapa bi? ", tanya marchel yang di jawab anggukan kepala dari bi sumi.


Mobil marchel memasuki halaman yang luas. Setelah memarkirkan mobilnya, marchel ikut turun untuk melihat kondisi sepupunya.


" Den Wisnu di bawa ke rumah sakit! Sekitar dua puluh menit yang lalu. ", kata bi retno yang sengaja menunggu ke datangannya bi sumi.


" Rumah sakit mana? ", tanya marchel.


" Bibi kurang tau! Tapi tadi mbak arin bilang minta untuk di bawa ke rumah sakit terdekat dari sini! ", jelas bi retno.


"Arin? ", marchel mengerutkan dahinya.


" Iya den... Mbak arin itu asisten pribadinya den Wisnu sekali gus merangkap menjadi calon istrinya. ", kali ini bi sumi yang memberi penjelasan.


Mungkin namanya saja yang sama, tapi orang nya berbeda dengan arin ku.


" Ya... Sudah kalau begitu saya pamit dulu! Saya akan coba cari di rumah sakit medika. Karena hanya rumah sakit itu yang dekat dari sini. ", kata marchel.


Niat awal ingin mencari arin tapi gagal. Sebelum ke rumah sakit marchel melewati gang perumahan yang waktu itu mengantar arin. Marchel berhenti tepat di depan rumah mewah itu. Ia memandangi bangunan itu yang tampak sepi.


" Lain waktu gw akan kesini lagi buat cari kamu! ", kata marchel yang kemudian melajukan mobilnya.


Arin mengantri di apotik cukup lama sehingga membuat dirinya bosan.


Arin merogoh saku celananya mencari benda pilih miliknya.


" Ponselku! Dimana ponselku? ", arin kebingungan mencari ponselnya.


" Ya ampun! Aku lupa tadi gak sempat bawa ponsel. ", arin menepuk jidatnya sendri saat mengingat tadi dirinya terlalu panik dan buru-buru.


" Bagaimana ke adanya? ", tanya marchel yang mengagetkan Riyan yang sedang tiduran di sofa.


" Ck... Apa kamu gak bisa mengetuk pintu terlebih dulu? Bikin orang jantungan saja! ", omel Riyan.


" Sory! ", ucap marchel yang mendekati Wisnu yang terbaring di atas tempat tidur.


" Dari mana lu tau jika abang lu di rawat di sini? ", tanya Riyan yang sudah duduk kembali.


Marchel menceritakan semua nya. Dari mana drinya bisa tau jika Wisnu di bawa ke rumah sakit.


" Gw cabut dulu! " Pamit marchel yang langsung keluar dari ruangan VIP.


Arin buru-buru mencari ruangan Wisnu. Karana saat arin kembali ke UGD Wisnu sudah di pindahkan. Arin berjalan cepat saat melewati lorong rumah sakit. Di saat yang bersamaan ada pasien yang baru datang. Arin buru -buru melewati rombongan suster dan perawat yang sedang mendorong tempat tidur. Tempat tidur itu berisikan seorang remaja yang berlumuran darah karena kecelakaan. Arin berjalan di sebuah kanan dengan sedikit menunduk. Sehingga dia tak tau jika di sisi kanan nya ada marchel yang berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2