TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
91. Marah vs Wisnu


__ADS_3

Setelah di sara cukup tenang, Arin pun keluar dari kamar mandi. Namun, saat keluar dari kamar mandi Wisnu udah tidak ada di tempatnya.


Pergi ke mana mas Wisnu? Batin Arin


Arin mendudukkan tubuhnya di sofa, ia menoleh ke tempat tidur di mana Riyan berbaring dengan tangan yang terpasang infus.


Arin beberapa menguap karana kantuk yang tak bisa di tahan , Arin merebahkan tubuhnya di sofa itu. Dan, benar saja Arin langsung tertidur.


Waktu begitu cepat, malam pun kini sudah berganti pagi.


Arin mengucek matanya sebelum bangun dari tidurnya.


"Pagi" Ucap Wisnu.


"Hemm... Pagi " Sahut Arin dengan suara khas bangun tidur .


"Ternyata kalau kenyang itu bisa membuat tidur menjadi pulas ya? sampai aku kembali saja kamu gak dengar" Cicit Wisnu.


Arin terkekeh , "Semalam mas Wisnu dari mana? " Arin duduk dan bersandar di punggung sofa.


"Semalam aku telfon Intan agar menunda semua urusan ku hari ini " Jawab Wisnu.


"Kak Riyan!" Pekik Arin saat melihat tangan Riyan bergerak.


Wisnu dan Arin langsung mendekat, "kak Riyan! Kakak sudah bangun? "


"Mas cepat panggil dokter! " Ucap Arin.


"Kakak mau apa? " Tanya Arin saat Riyan mencari sesuatu.


Riyan menggeleng dan menoleh ke samping , seperti tak mau melihat dua orang itu.


"Rin gimana? " Tanya Wisnu.


"Dokternya mana mas? " Arin balik tanya.


"Segera ke sini! Nah itu! "

__ADS_1


Seorang dokter masuk ke ruangan perawatan dan memeriksa keadaan Riyan.


"Gimana dok? " Wisnu terlihat khawatir dengan sahabatnya itu.


"Tidak ada yang serius! Tapi harus tetap menjalani perawatan sampai keadaan nya benar-benar membaik " Jelas dokter.


"Terimakasih dok" Wisnu pun bernafas lega saat tau sahabat nya itu tidak mengalami luka yang serius.


"Kak makan dulu yuk! "


Riyan menepis tangan Arin dengan kasar saat Arin akan menyuapkan bubur.


"Kak! " Arin terkejut.


Wisnu pun tak kalah kaget nya, ada apa dengan sahabatnya ini. Lantas Wisnu mendekati Riyan, "bray lu kenapa? Ada masalah apa? " Wisnu berusaha mengajak bicara Riyan.


"Pergi kalian dari sini!" Ucap Riyan.


"Tapi Yan... " Ucapan Wisnu menggantung saat Riyan membentaknya.


"Kalau lu gak mau keluar! Biar gue yang keluar dari sini! " Ucap Riyan dengan nada yang tinggi.


"Kak jangan! " Arin mencoba menahan pergerakan Riyan. Naasnya, Riyan mendorong Arin hingga jatuh.


"AAA" Pekik Arin.


"Kamu gak papa kan? " Wisnu menolong Arin dan membantu berdiri.


"Lu kalau ada masalah ngomong! Jangan lu lampiaskan ke orang lain yang tak tau masalah mu! " Wisnu mencekal kerah piama Riyan, "apa masalahnya? Apa yang membuatmu marah - marah tak jelas?"


"Bukan urusan mu! " Riyan menyingkirkan tangan Wisnu dengan sekali hentakan.


"Semua urusan mu juga menjadi urusan ku! Katakan apa yang sudah terjadi ? Kau juga pulang dari Surabaya lebih awal, pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku "


"Aku bilang ini bukan urusan mu! Keluar sekang atau aku akan pergi dari sini! " Riyan mengusir Wisnu, ia tak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini.


"Gue gak akan keluar dan gak akan ninggalin lu sendri! "

__ADS_1


"Kalau itu yang lu mau!" Riyan berusaha turun dari brankar. Namun dengan cepat Wisnu menahannya.


"Katakan ada apa sebenarnya? Jangan melukai diri mu sendri, kau belum sembuh betul" Wisnu berbicara dengan tangan yang masih menahan Riyan.


"Peduli apa lu? " Maki Riyan.


Wisnu menggeleng, "gue tau lu ada masalah, dan gue gak akan biarkan lu untuk menghadapi sendiri"


"Terserah! " Riyan mendorong Wisnu.


"Apa ini masalah mu dengan kekasih mu itu? " Wisnu mencengkeram erat kedua bahu Riyan.


Pertanyaan Wisnu mengingatkan akan kejadian waktu itu di surabaya. Bayang-bayang penghianatan sang kekasih kembali melintas.


Riyan terduduk di lantai, pandangannya kosong, raut wajahnya terlihat sangat kecewa.


Arin yang dari tadi hanya sebagian penonton kini memberanikan diri untuk mendekati Riyan.


Di usap lah bahu Riyan oleh Arin, "kak, cerita saja dengan kami!"


"Iya bray, kita udah sohib dari kita masih ingusan! Kita selalu berbagi masalah kita! Kalau lu gak mau cerita, lalu gue ini lu anggap apa? Ha? " Setelah mengucapkan itu Wisnu memeluk tubuh kekar Riyan.


Sedangkan Riyan hanya diam, tak membalas pelukan Wisnu. Tak lama kemudian Riyan mendorong pelan Wisnu, " Biarkan gue sendiri! " Ucap Riyan dengan tatapan mata yang kosong.


"Tapi Yan... "


"Sebaiknya kita beri waktu kak Riyan untuk sendiri dulu mas " Arin memotong ucapan Wisnu.


"Kak, kita akan pergi! Tapi nanti kita akan kembali lagi " Ucap Arin. Riyan pun mengangguk pelan.


"Aku akan panggil kan suster untuk memasang infus kak Riyan lagi "


"Aku bisa sendri! " Riyan menolak Wisnu yang ingin membantunya berdiri.


"Aku tinggal dulu" Wisnu menepuk bahu Riyan.


Wisnu menuruti permintaan Riyan, ia meninggalkan Riyan di ruang perawatan.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, favorit kan juga ya! 😉


__ADS_2