TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
92. Korban sakit hati


__ADS_3

Setelah kedua orang itu keluar dari ruang perawatan. Riyan meninju dinding sebagai pelampiasan, rasa sakit hati nya tak sebanding dengan tangannya yang saat ini mengeluarkan darah.


"Apa salah dan kurang ku sehingga kau tega mengkhianati ku! " Gunam Riyan dengan rahang yang mengeras.


Riyan menoleh ke arah pintu melihat siapa yang masuk. Riyan mengerutkan alisnya saat melihat seorang wanita masuk ke ruang perawatan.


"Anda siapa? " Tanya Riyan dengan datar.


"Maaf saya kesini. . . " Ucapannya menggantung saat melihat ada darah yang menetes.


"Tangan tuan berdarah! " Suci buru-buru menghampiri Riyan.


"Lepas! " Riyan menarik tangannya yang akan di sentuh oleh Suci.


"Tangan mu berdarah! Bisa infeksi nanti! "


"Bodoh amat dengan infeksi"Riyan melangkah menuju brankar. Namun, tiba-tiba tubuh Riyan oleng , untung saja Suci segera menahannya sehingga tidak samapi jatuh.


Dengan perlahan Suci memapah Riyan menuju tempat tidur.


"Kau butuh sesuatu? Atau kau mau minum?" Tanya Suci yang sibuk membuka tas nya.


"Tolong ambilkan air minum saja"Riyan tak sungkan minta tolong dengan orang lain.


Suci mengambil air yang sudah tersedia di atas nakas, "mau aku bantu? " Tawar Suci sambil menyodorkan gelas itu.


"Tak, aku bisa sendri" Riyan sedikit mengangkat kepalanya dan meminum air itu hingga tandas.

__ADS_1


Tanpa seijin dari Riyan, Suci mengobati tangan Riyan. Tangan itu kini berbalut saputangan dengan motif bunga.


"Anda korban dari sakit hati ya? " Tanya Suci setelah selesai membalut luka Riyan.


"Maksudmu? " Riyan menautkan kedua alisnya.


"Kalau buka korban sakit hati, mana mungkin tuan bisa hilang kendali saat menyetir mobil! "


"Kamu tau dari mana? " Riyan mengubah posisi berbaring menjadi duduk .


"Tau lah! Kan saya yang membawa Anda kemari! "


"Benarkah? Terimakasih sudah menolong ku! Lalu apa yang membuatmu datang ke sini? "


"Aku ingin menemui teman ku, Arin! Katanya dia masih ada di rumah sakit, makanya aku ke mari" Jelas Suci.


"Iya karena aku dan Arin baru bertemu lagi semalam. Kita sempat berpisah saat mencoba kabur dari sebuah PT"


"Tunggu-tunggu! Kamu kabur dari PT? Jadi kamu teman Arin yang waktu itu? " Riyan sekelebatan mengingat saat akan menabrak dua wanita yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya.


Suci mengangguk, "lalu kemana Arin sekarang?" Tanya Suci.


"Oh.. Arin masih ke luar tadi " Sahut Riyan.


Suci melihat jam yang melingkar di tangannya, " Oh.. Ya udah kalau gitu tolong nanti sampaikan jika saya ke sini! Saya harus pergi sekarang!" Setelah berpamitan Suci pun keluar.


Riyan kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir satu minggu kejadian kecelakan itu. Saat ini Riyan pun sudah kembali fokus dalam pekerjaannya.


"Ini berkas yang lu minta" Riyan menaruh map di atas meja Wisnu, setelah itu Riyan langsung keluar. Begitulah sifat Riyan yang berubah menjadi dingin ke pada siapapun.


"Yan! " Pekik Wisnu.


Riyan menghentikan langkahnya.


"Apa kau sudah tak menganggap ku sebagai sahabat mu lagi? " Wisnu bangkit dari duduknya, melangkah menyusul Riyan.


"Aku masih banyak kerjaan" Riyan masih mencoba menghindari Wisnu.


"Yan, sadar gak sih ! Sifat mu itu seperti anak kecil! Di mana Riyan yang gue kenal? Hem? Mau sampai kapan lu mau mau menghindar dari gue? Masalah mu gak akan selesai jika lu tetap seperti ini " Wisnu memaki Riyan dengan kedua tangannya mencekal kerah kemeja Riyan .


Wisnu sudah tak bisa bersabar lagi. Pasalnya ia sudah terlalu lama memberi waktu untuk Riyan sendri.


Mood yang masih naik turun, Riyan pun terpancing emosinya saat Wisnu memakinya. Riyan pun membalas dengan mencekal kerah kemeja Wisnu.


Riyan menatap tajam Wisnu, entah apa yang ingin ia ucapkan. Sedetik kemudian Riyan mendorong Wisnu.


"Gue marah! Tapi gue gak tau harus marah dengan siapa, gue benar-benar kecewa. Dia telah berkhianat, selama ini dia telah membohongi ku. Kepercayaan yang aku beri di bayar dengan kedustaan"


"Maaf seharusnya aku tak... "


"Ini bukan salah mu!" Riyan memotong ucapan Wisnu, "aku hanya ingin sendri dulu, maaf jika kemarin sifat dan ucapan ku telah menoreh luka di hati mu dan Arin"


Setelah mengucapkan itu Riyan membuka pintu dan keluar dari ruangan Wisnu.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan juga ya! 😉


__ADS_2