
"Makan yang banyak biar tidurmu nyenyak" Kekeh Wisnu.
"Aku memang laper mas, tapi kalau sebanyak ini juga gak akan habis "
"Makanya aku bantu untuk menghabiskan ini semua! Aku juga laper tau! " Wisnu mengambil satu potong martabak dan melahapnya.
"Mas ini gak di kasih sendok? "
"Masak sih gak ada sendoknya! " Wisnu membuka kantung kresek untuk mengeceknya.
"Makan pake tangan aja mas kalau gak ada sendok"
"Ck, males kalau pake tangan! Kotor! "
Arin bangkit dan menuju wastafel untuk cuci tangan.
"Enak lo mas makan pake tangan itu"
"Iya, aku tau! Tapi meles nanti tangan ku jadi kotor" Wisnu memberi kode ke Arin.
"Bilang saja kalau minta di suapain! " Ledek Arin.
"Aku gak minta kamu untuk nyuapin! Tapi, kalau kamu mau sih... Aku juga gak akan nolak" Wisnu menaik turunkan alisnya.
"Sini, hak! Bayi gede ku" Arin menyuapi Wisnu langsung dari tangannya.
Satu suap untuk Wisnu, setelah itu satu suap lagi untuk dirinya sendri. Dan, itu di lakukan hingga makanan itu habis tak tersisa.
"Enak kan kalau makan pake tangan? " Tanya Arin di sela-sela makannya.
"He'em, enak! Apa lagi pake tangan kamu, biuhh... Tambah sedap " Wisnu mengacungkan dua jempolnya.
"Ihh,.. Gombal" Lirih Wisnu.
__ADS_1
"Aku serius" Wisnu meraih tangan Arin yang akan menyuapkan makanan ke mulut Arin sendri, lalu Wisnu mengarahkan tangan itu ke mulutnya dan hap... Wisnu melahap nya . Mata mereka saling beradu, Arin segera menarik tangan nya. Namun, dengan cepat Wisnu menahannya.
"Mas, ini nanti keburu dingin lo" Ucap Arin.
"Boleh aku minta sesuatu? " Tanya Wisnu dengan serius.
"Boleh, asal yang masuk akal! Tapi, ini lepas dulu aku mau makan " Arin mengerucutkan bibirnya.
Wisnu pun melepas tangan Arin.
"Rin! "
"Hemm" Sahut Arin karena mulutnya sedang penuh makanan.
"Jika nanti perjanjian kita sudah selesai, kamu masih mau kan berteman dengan ku? " Tanya Wisnu.
"Kenapa tanya seperti itu? " Arin melirik Wisnu sekilas, ia tak berani menatap laki-laki yang ada di hadapan nya.
Teman? Ah... Kenapa bisa aku mengharap yang lebih! Dia saja tak ada perasan apapun untuk ku. Sadar Rin , sadar! Kamu bukan tipe nya. Ingat kamu itu hanya akan menikah kontak dengan nya. Arin bermonolog.
"Maaf mas, aku gak bisa berteman dengan mantan! Walaupun kita nikah kontrak. Kalau untuk Yoga, mas Wisnu tak perlu menemuinya lagi setelah urusan kita selesai" Sahut Arin sambil tertunduk.
Ucapan Wisnu benar-benar menyayat hati Arin . Arin menyuapkan satu suap penuh nasi ke dalam mulut nya untuk menghindari pembicaraan.
"Tapi Rin"
"Sudah lah mas jangan di bahas lagi! " Sela Arin deng mulut yang penuh.
Bayangkan sendri bagaimana Arin bicara dengan mulut yang penuh dengan makanan. 😁
Arin terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, padahal di dalam mulutnya saja masih penuh belum ke telan.
Wisnu menahan tangan Arin, "maaf" Ucap Wisnu.
__ADS_1
Arin masih tertunduk.
"Maaf kan aku, aku telah membawamu ke dalam sandiwara ini " Ucap Wisnu saat melihat tetesan air yang jatuh di tangannya.
"Kamu tak perlu minta maaf mas, ini bukan salah mu! " Ucap Arin dengan bergetar.
Tangan Wisnu terulur merapikan rambut Arin yang menutup sebagian wajahnya.
Arin segera memalingkan wajahnya, ia tak mau jika Wisnu melihat dirinya menangis.
"Hei aku di sini! Kenapa malah melihat ke arah sana? " Ucap Wisnu.
Arin tetap diam tak bergeming.
Wisnu merengkuh tubuh Arin, ia bawa ke dalam pelukannya. Namun secepat kilat Arin melepas pelukannya.
Arin mendorong tubuh Wisnu, aku mau ke kamar mandi mas " Ucap Arin yang sudah beranjak dari duduknya.
Arin membasuh mukanya untuk menghilangkan sisa air matanya.
"Kenapa juga aku harus menangis! " Gunam Arin.
Setelah di sara cukup tenang, Arin pun keluar dari kamar mandi. Namun, saat keluar dari kamar mandi Wisnu udah tidak ada di tempatnya.
Pergi ke mana mas Wisnu? Batin Arin
Jangan lupa like 👍
Koment ✍
Favorit kan juga agar tidak ketinggalan bab selanjutnya😉
Jika cerita ini bagus menurut kalian berikan sedikit hadiah 🌹atau vote untuk author ya! Agar lebih semangat lagi 🤭
__ADS_1