
Eva mengambil gelang yang Riyan lempar, "lu dapat dari mana gelang ini? " Eva menatap Riyan yang sedang bercermin, merapikan bajunya.
"Lu gak perlu tau gue dapat itu dari mana? " Ucap Riyan yang melangkah untuk keluar dari kamar Eva. Sebelum membuka pintu, Riyan menoleh ke belakang, "ingat, cepat pergi dari sini! " Ucap Riyan mengingatkan Eva.
"Iya.. Iya, gue gak lupa! " Sahut Eva.
Mendengar jawaban Eva, lantas Riyan tersenyum sumbang dan segera keluar ."BRAK! "Riyan menutup pintu dengan kasar, " Huufft! Akhirnya ulat bulu itu bisa juga gue singkirin! Untung aja tadi gue kagak kerasukan setan! Hiii... "Riyan bergidik mengingat ulahnya saat mendesak Eva untuk mengakui perbuatannya.
" Tugas gue tinggal nyari tuh si cacing pita. Was aja ya kalau udah ketemu, gue pites juga tuh cacing pita. Bikin susah hidup gue aja! " Gerutu Riyan.
°°°°°°°\=\=\=\=\=\=°°°°°°\=\=\=\=\=\=°°°°°\=\=\=\=\=\=°°°°°°
Di rumah sakit.
Arin mulai sadar, ia membuka matanya secara perlahan. Arin melihat langit-langit kamar yang terang, lalu ia beralih menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat menoleh ke kiri iris matanya menangkap Wisnu yang tertidur dengan lengan sebagai bantal.
Arin memperhatikan Wisnu yang sedang tertidur. Bibir Arin melengkung keatas , membentuk sebuah senyum. Dirinya tak berniat membangunkan Wisnu, ia malah asik menikmati wajah Wisnu yang terlihat tampan saat sedang tidur.
Ternyata kamu itu kalau di perhatiin dari jarak dekat gini ganteng mas, pake banget lagi. Dulu ibu mu ngidam apa sih mas? Wajah tegas dan garang mu sama sekali tak terlihat. Arin memuji Wisnu dalam batinnya.
Seperti tidak punya rasa bosan, lima belas menit sudah Arin memandangi wajah Wisnu. Saat ada pergerakan dari Wisnu pun Arin tak mengalihkan pandangannya.
"Sudah bangun mas? " Tanya Arin sambil tersenyum semanis mungkin.
"Kamu sudah sadar? " Wisnu mengucek matanya yang terasa sepet karena bangun tidur. "Gimana , mana yang sakit? " Wisnu bangkit dari duduknya dan segera mengecek tubuh Arin.
Arin tersenyum melihat Wisnu yang panik, " Duduk mas! " Arin menarik lengan Wisnu supaya duduk kembali. "Aku gak papa! Enggak ada yang sakit, aku cuma sedikit pusing saja! " Ucap Arin.
"Terus sejak kapan kamu sadar? " Tanya Wisnu.
"Baru lima belas menit yang lalau mas! " Jawab Arin dengan seulas senyum.
"Apa kamu bilang ? " Wisnu melototkan matanya.
"Iya aku gak tega buat bangunin kamu mas! " Jawab Arin.
"Kamu ya suka banget bikin aku khawatir! " Wisnu mencubit gemas pipi Arin.
Apa sebaiknya aku cerita saja ya? Tapi, kalau mas Wisnu tau..., pasti akan sangat marah dan membenci Eva.
"Hey, Kok ngelamun sih ! Mikirin apa? " Ucap Wisnu.
"Hemmm... Iya! " Sahut Arin.
"Mikirin apa sih? " Tanya Wisnu.
"Hemm... Aku.... "
Krucuk... Krucuk... Krucuk
"Kamu laper? " Tanya Wisnu saat mendengar perut Arin yang keroncongan.
"Hehehe" Arin tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih nya.
"Makan dulu gih, aku suapin! " Wisnu menyuapkan satu sendok bubur ayam ke mulut Arin.
"Aku bisa makan sendri mas! " Tolak Arin.
"Jangan membatah ku! Ayo buka mulut mu! "
Dengan malau-malau Arin melahapnya juga. Wisnu dengan telatennya menyuapi Arin hingga hampir habis bubur yang ada di mangkuk itu.
"Kamu gak mau cerita, gimana kamu bisa berada di dalam gudang itu? " Tanya Wisnu di sela-sela menyuapi Arin.
__ADS_1
"Aku sendri juga gak tau mas! "
"Saat sadar aku sudah ada di dalam gudang." Jelas Arin yang berbohong.
"Kamu gak ingat dengan wajah orang itu? " Tanya Wisnu yang serius.
Arin menggeleng, "orangnya memakai cadar mas! Jadi aku gak bisa liat wajahnya! "
Maaf mas, Aku harus bohong! Aku gak mau kamu membenci Eva. Walaupun kelakuannya sungguh tidak bisa aku maafkan. Aku tidak menutupi kesalahannya, aku hanya tidak ingin masalah ini menjadi panjang urusannya. Arin hanya bisa membatin dalam hatinya.
"Ayo makan lagi! " Wisnu menyodorkan sendok berisi bubur itu lagi.
"Aku sudah kenyang mas! " Arin menepis tangan Wisnu.
"Satu sendok ini saja! " Wisnu membujuk Arin layaknya anak kecil yang sudah makan.
"Cukup mas! Perut ku sudah gak muat lagi! " Arin mengelus perutnya.
Wisnu menghembuskan nafas kasarnya, "huft!! "
"Mas Wisnu sudah makan? " Tanya Arin.
"Gampang nanti! " Jawab Wisnu.
"Kok nanti !" Sahut Arin.
"Sudah sadar Rin? " Tanya Riyan secara tiba-tiba.
Arin dan Wisnu sama-sama menoleh ke sumber sura.
"Kak Iyan! " Ucap Arin.
"Gimana lu udah tau siapa pelakunya? " Tanya Wisnu.
"Siapa? " Wisnu mengikuti Riyan yang sudah duduk di sofa.
"Udah lu gak perlu tau siapa orangnya, udah gue eksekusi! " Jelas Riyan .
"Kak Iyan udah tau? "Tanya Arin lirih.
" He'em, mulai sekarang gak akan ada yang ganggu hidup mu lagi! Kecuali hemmm. " Riyan melirik kan matanya ke arah Wisnu
"Gue colok juga tuh mata! " Umpat Wisnu.
"Nih lu makan!" Riyan mengambil kotak nasi dan di berikan ke Wisnu dengan kasar, "sayang kalau gak di makan! " Riyan bangkit dari duduknya.
"Lu mau kemana lagi? " Tanya Wisnu.
"Gue mau telfon sebentar! " Riyan menunjukan ponselnya yang nampak sedang menghubungi seseorang.
Wisnu yang melihat nama di ponsel Riyan pun mencebikkan bibirnya.
Tak lama Setelah Riyan keluar dari ruang perawatan, datang lagi dokter dan juga suster.
"Selamat siang! Dokter mau cek kondisi pasien! " Ucap suster.
"Silahkan dok! " Wisnu berdiri dari duduknya.
"Keadaannya sudah membaik, jadi besok sudah bisa pulang! " Jelas dokter.
" Yang benar dok? " Tanya Wisnu memastikan.
"Iya Tuan,kekasih anda ini hanya mengalami dehidrasi, serta trauma saja. Jadi anda tidak perlu khawatir. " Jelas dokter. "Anda beruntung sekali nona, mempunyai kekasih yang sangat sayang dan setia. "
__ADS_1
"Tapi dok... " Ucap Arin menggantung saat melihat ke arah Wisnu yang sedang mengedip-ngedipkan matanya.
"Semoga hubungan kalian terus seperti ini. "Lanjut dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu! " Pamit dokter setelah memberi pujian kepada sepasang kekasih itu.
"Ini tuan silahkan tebus obatnya! " Ucap suster yang memberi selembar kertas.
"Baik Sus! " Sahut Wisnu.
"Mas ngomong apa sama dokter tadi? " Arin menatap Wisnu .
"Hehehe! " Wisnu menggaruk tengkuknya, " Iya gitu, aku bilang kamu kekasih ku! " Ucap Wisnu sambil nyengir.
"Ckk! " Arin berdecak, "bikin malu aja sih mas! " Umpat Arin.
"Kenapa harus malu? "
"Aku ganteng, tajir, baik hati pula!" Dengan peDenya Wisnu memuji diri sendiri,"Terus kurangnya di mana kok kamu malu? "
"Pede banget sih! "
"Kurangnya . . " Arin menjeda omongannya, "mas Wisnu gak segera tebus itu obat! " Arin menunjuk kertas yang di pegang Wisnu.
"Ya udah aku tinggal sebentar ya! " Ucap Wisnu pada akhirnya.
°°°°°°°\=\=\=\=\=°°°°°°°\=\=\=\=°°°°°\=\=\=\=\=°°°°°°
"Ya udah aku tutup dulu telfonnya! Kamu hati-hati ya, jaga diri baik-baik! " Ucap Riyan sebelum mengakhiri telfonnya.
Riyan menyimpan ponselnya di saku celana. Riyan kembali ke ruang perawatan VIP, tempat di mana Arin di rawat.
Arin menoleh ke pintu , "kak Riyan! "
"Kemana Wisnu? " Tanya Riyan mendekat ke tempat tidur Arin.
"Masih nebus obat kak! " Jawab Arin, "kak Iyan tau siapa yang udah ngurung aku di gudang? " Tanya Arin.
"He'em, kenapa? " Jawab Riyan dengan santai.
"Kakak jangan kasih tau ke mas Wisnu ya! " Ucap Arin memohon.
"Kamu di ancam sama ulat bulu itu? " Tanya Riyan.
Arin menggeleng, "bukan begitu kak! Aku hanya tak ingin memperpanjang masalah ini. Jika mas Wisnu tau bisa jadi rumit. " Jelas Arin.
"Kamu tenang aja! Aku sudah suruh dia pergi jauh-jauh . Seperti yang aku bilang tadi! Dia gak akan ganggu hidup mu lagi. Kecuali, ya itu si bucin! " Sahut Riyan.
"Si bucin? " Ulang Arin yang bingung , siapa yang di sebut si bucin.
"Gak usah bingung gitu! Si bucin itu Wisnu! " Sahut Riyan lagi.
"Kamu gak tau sih! Kemarin dia itu sampai seperti orang gila saat kamu menghilang. Ke sana, ke mari, semua orang yang dia temui ,di tanya "tau wanita ini? " Gitu sambil nunjukin foto mu. " Riyan merayakan bicara Wisnu saat mencari Arin.
"Kakak bohong iihhh..! " Ucap Arin yang menahan senyum.
"Serius! " Riyan menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya ✌.
"Asal kamu tau ya Rin! Dia sampai gak bisa makan, gak bisa tidur. Yang ada di pikirannya hanya dirimu dan dirimu. Oh.. Iya, gue juga baru lihat Wisnu meneteskan air mata nya saat dirimu menghilang. Sebelumnya aku gak pernah melihat Wisnu menangisi karena wanita . " Jelas Riyan.
Arin hanya diam mendengarkan penjelasan Riyan. Arin bimbang haruskah dia senang atau biasa saja, saat Wisnu benar -benar menghawatirkan dirinya.
Jangan lupa like 👍komen ✍favorit'kan karya ini 💙
__ADS_1