
Keesokan harinya arin menjalankan tugas-tugasnya.
Arin mengawali tugas pertama nya dari kamar Wisnu.
Saat arin membuka pintu kamar Wisnu, tenyata penghuni kamar itu sudah bangun tapi masih bermalas-malasan di atas kasur empuknya.
"Pak bos sudah bangun? ", tanya arin saat melihat Wisnu yang tengah berbaring dan sibuk dengan ponsel nya.
" Heemm... , kenapa sepagi ini kamu datang ke kamar saya? ", tanya Wisnu yang melirik arin.
"Biasanya juga jam segini pak! ", jawab arin berjalan menuju almari baju Wisnu.
" Ini masih terlalu pagi! Lihat matahari saja masih enggan untuk menunjukkan wujudnya. ", ucap Wisnu yang mengubah posisi tidur menjadi duduk.
" Ckk.... Ia memang mataharinya belum muncul. Entah kapan matahari akan menampakkan wujudnya jika terus saja mendung. ", kata arin yang menyiapkan baju kerja Wisnu.
" Ha... Jadi di luar mendung?, kenapa bisa awet bener ya hujannya! ", kata Wisnu.
"Ya bisa lah... Namanya juga musim hujan. ", kata arin sambil berjalan menuju jendela kamar Wisnu untuk membuka korden.
" Lihat! Masih mendung dan hujan masih tetap air. ", kata arin sambil menahan senyum.
" Haa... Apa kamu bilang? ", Wisnu mencincingkan sebelah matanya.
" Hujan masih tetap air? ", ulang Wisnu.
" Kamu pikir akan berubah menjadi hujan uang atau hujan es begitu? Kamu ini ada-ada saja! ", kata Wisnu sambil tersenyum.
" Ya siapa tau bakal hujan uang gitu! Kan saya bisa pungutin itu uang nya untuk membayar hutang saya pada anda. Jadi saya gak harus repot - repot kerja . Hehe! ", kata arin sambil terkekeh.
" Jika hujan uang, uang gak akan laku karena semua orang telah mempunyai banyak uang tanpa harus kerja. Dan kamu gak akan bisa membeli semua kebutuhan mu karena mereka semua akan menutup toko atau usahanya. ", ucap Wisnu.
" Kenapa bisa gitu? ", kata arin
" Ya karena mereka sudah tidak butuh uang! ", kata Wisnu yang berjalan mendekati arin.
" Jadi jangan berharap untuk turun hujan uang! ", tangan Wisnu menyentil kening arin.
" Auw... Sakit tauu! ", ucap arin sambil cemberut.
Arin pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Wisnu.
Sementara Wisnu melakukan push up sebelum mandi pagi. Wisnu melakukan itu setiap hari di pagi hari setelah bangun tidur atau sebelum mandi.
" Pak airnya sudah siap! ", ucap arin lirih saat melihat Wisnu yang sedang push up itu hanya mengunakan boxser dan t*lanjang dada. Walaupun arin sudah sering melihat pemandangan seperti setiap pagi , namun arin tak akan berhenti untuk mengagumi tubuh atletis Wisnu .
" Ck... Pagi-pagi sudah sarapan roti sobek! ", decak arin.
__ADS_1
" Di lihat dosa gak dilihat bikin nyesel! ",arin segera pergi dari kamar Wisnu sebelum pikiran arin treveling kemana-mana.
Setelah selesai sarapan arin dan Wisnu berangkat ke kantor.
Mariyam tersenyum melihat kemesraan yang Wisnu ciptakan.
Sedangkan di tempat lain.
Marchel sudah berdandan rapih bersiap untuk pergi.
" Pagi mi.... Pi! ", sapa marchel yang duduk di bangku ruang makan.
" Pagi boy! ", jawab aji sambil menikmati sarapan.
" Kamu mau ke kantor papi? Jadi kamu menerima tawaran papi mu? ", tanya sofi.
" Enggak mi! Marchel mau ada perlu . "
"Nanti kalau udah beres baru ke kantor papi, tapi masalah tawaran papi marchel masih belum terpikirkan! ".
" Marchel! Kamu anak tertua kami jadi mami mohon tolong untuk memimpin perusahaan keluarga kita. Jika bukan kamu lalu siapa? ", kata sofi membujuk anaknya.
" Ia mi... Nanti marchel pasti akan bantu! ", jawab marchel yang malas berdebat saat sarapan.
" Oh ya... Nanti siang kamu pulang ya? Tadi kanaya telfon katanya mau kesini! ", kata sofi dengan senyum.
" Ngapain sih mi dia kesini? ", tanya marchel.
" Mii... Hubungan marchel dan naya sudah lama berakhir. Jadi buat apa marchel harus bertemu dengan nya? ", kata marchel yang menyudahi sarapan nya.
" Tapi kan.... "
"Aku berangkat dulu mi.. Pi... ", potong marchel yang tak ingin mendengar omongan maminya.
"Papi..!! ", rengek sofi pada suami nya.
" Sudahlah mi... Jangan paksakan marchel untuk bertemu dengan naya! , biarkan marchel menentukan pilihannya sendiri. Papi yakin jika marchel tak akan salah pilih seperti keponakan mu itu! ", kata aji sambil tersenyum mengejek.
" Kenapa sih pi... Papi selalu bawa-bawa Wisnu? Dia itu anak dari kakak ku! Itu artinya sama saja seperti anak ku pi. ", ucap sofi kesal.
" Beda lah sayang... Anak kamu itu hanya marchel dan mike! , kalau Wisnu itu tetap keponakan mami karena dia tidak di lahirkan dari rahim mami. ", ucap aji.
" Terserah papi! ", sofi meninggalkan suaminya yang masih berada di meja makan.
Marchel melajukan mobilnya dengan pelan. Marchel kembali ke jalanan yang semalam ia bertemu dengan arin. Berharap hari ini bisa bertemu dengannya lagi.
" Aku harap kita bisa bertemu lagi girl! ", gunam marchel.
__ADS_1
" Bukanya ini jalan menuju rumah eyang? ", batin marchel saat menyadari jalan yang ia lalui adalah jalan menuju perumahan elit dimana neneknya tinggal.
" Sudah di sini lebih baik aku mengunjungi eyang saja! ", pikir marchel.
Marchel mempercepat laju mobilnya agar sampai di rumah nenek nya. Saat beberapa meter sebelum sampe rumah mariyam, marchel melihat ada mobil yang sedang keluar dari pintu gerbang.
" Apa eyang sedang pergi? ", batin marchel.
" Lebih baik aku pastikan saja dulu! ", gunam marchel.
Mobil marchel memasuki pintu gerbang yang masih terbuka lebar. Marchel menuturkan kaca mobil nya agar satpam yang berjaga bisa mengenali diri nya.
Dan benar saja satpam mariyam menundukkan kepala memberi hormat.
Saat sampai di dalam rumah pun marchel di sambut dengan para art mariyam.
" Selamat pagi den marchel? ", sapa bi Retno yang mengetahui kehadiran cucu dari nyonya besarnya itu.
" Pagi bi... Eyang ada di rumah? ", tanya marchel.
" Nyonya besar sedang ada di kamar. Beliau sedang bersiap untuk pergi ke kantor. ", jelas bi Retno.
" Baiklah... Terima kasih! ", jawab marchel yang langsung menuju kamar neneknya.
Tanpa mengetuk pintu marchel langsung membuka pintu kamar mariyam.
" Eyang! ", pekik marchel yang berlari dan memeluk neneknya yang sangat ia rindukan.
" Marchel!!! ", kata mariyam yang kaget.
" Kapan kamu datang dari Belanda? "
"Kenapa tidak beri tau eyang jika akan ke mari? "
"Kakak mu baru saja berangkat! Apa kamu sudah bertemu tadi? ", tanya mariyam sambil membelai rambut marchel.
" Marchel baru kemarin datang! , kebetulan tadi marchel lagi mencari rumah temen. Tapi belum sempat ketemu, malah ketemu rumah eyang duluan. Hehe.
Dan marchel belum bertemu dengan kak Wisnu! ", jawab marchel.
" Ayo duduk sini! ", mariyam mengajak cucunya untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
" Siapa teman yang kamu cari? Apa dia teman kuliah mu di Belanda?laki-laki atau perempuan? ", tanya mariyam yang kepo dengan cucunya.
Wisnu tersenyum mendengar semua pertanyaan yang keluar dari mulut neneknya itu.
" Dia perempuan eyang, dan juga bukan teman kuliah ku ", jujur marchel.
__ADS_1
" Lalu? ", tanya mariyam.
Wisnu mengangkat kedua bahunya tanda tak bisa memberi jawaban.