TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
62. Kejutan dari marchel


__ADS_3

Marchel semakin yakin jika wanita yang satu bangku dengannya itu adalah arin. Wanita yang sudah membuat dirinya gila. Gimana tidak gila? Setiap kali di chat atau di telfon selalu tak ada balasan. Marchel juga terheran dengan dirinya sendiri. Mengapa bisa dia kepincut dengan perempuan yang baru ia kenal.


Marchel menutupi senyumnya dengan satu tangannya.


Ternyata selama ini kamu sembunyi di keluarga ku sendiri ya?


Lihat saja aku akan buat kamu mendapat kejutan nanti. (Batin marchel)


"Hemmm.... Bang gw balik dulu ya? ", pamit marchel secara tiba-tiba.


" Kok buru-buru sih? Katanya di rumah gak ada orang? ", balas Wisnu.


" Ia bang! Ini teman gw ngajak ketemu. ", bohong marchel.


" Ya udah! Pergi sono! ", balas Wisnu.


Akhirnya makhluk aneh itu pergi juga. (Batin arin)


" Katanya tadi batuk? Terus kenapa maskernya di buka? ", tanya Riyan sambil menyuapkan potongan roti canai ke mulut nya.


" Hehe... Udah gak kak! ", jawab arin sambil nyengir. Kemudian arin menyeruput bobonya yang dari tadi ia anggurkan.


Hari menjadi gelap, cahaya rembulan menyinari gelapnya bumi. Wisnu memarkir rapi mobilnya di garasi. Arin lebih dulu masuk ke dalam rumah.


" Bik..! ", sapa arin saat berada di dapur.


" Mbak arin? ", bi Retno dan bi sumi menoleh ke sumber suara.


" Aku bantu bi! ", arin membatu menyiapkan makan malam.


Saking asiknya mereka bertempur dengan alat-alat dapur, sehingga tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan dari jarak yang dekat.


Arin dan Wisnu sudah berada di meja makan. Seperti biasa arin melayani Wisnu dengan telaten. Tangannya mengambilkan nasi dan kawan-kawan nya.


"Taruh dulu HP nya! ", ucap arin saat menaruh piring yang sudah penuh dengan isiannya di hadapan Wisnu.


Tanpa menjawab Wisnu pun meletakkan ponsel nya. Dengan lahap Wisnu menyantap makan malamnya. Tak ada suara selain dentingan sendok dan garpu.


" Wahh.... Makan gak ajak-ajak nih! "


Suara itu mengagetkan penghuni meja makan. Sontak mereka berdua menoleh . Dalam hitungan detik arin tersedak makanan yang masih ada di dalam mulut nya.


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...


Arin memukul-mukul dadanya yang terasa panas.


"Minum dulu! ", Wisnu menyodorkan air putih. Arin menenggaknya hingga tandas. Namun arin tetap terbatuk-batuk. Hingga buliran bening turun dari mata .


Arin berlari menuju wastafel, arin memutahkan semua makanan yang sudah ia makan tadi.


Wisnu dan marchel kompak menghampiri arin yang sedang berdiri di depan wastafel.


Ya marchel lah yang menyebabkan arin tersedak makanan. Untung saja setelah bisa memutahkan isi perutnya, arin suah tak lagi batuk. Arin membasuh mukanya sebelum


kembali ke meja makan.

__ADS_1


Kenapa dia ada di sini? Sejak kapan dia datang? Kok aku gak tau! (Batin arin).


"Kamu gak papa? "


"Are you oke? "


Tanya marchel dan Wisnu kompak.


Arin hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke belakang.


"Kapan lu datang? ", tanya Wisnu sambil menatap marchel.


" Barusan bang! ", bohong marchel.


Padahal marchel sudah berada di rumah mariyam setelah pulang dari cafe. Marchel juga yang melarang para art untuk memberi tau kedatanganya.


" A... Aku ke.. Kamar dulu! ", ucap arin dan langsung meninggalkan dua laki-laki maco itu.


" Rin! ", ucap Wisnu yang ingin mencegah kepergian arin. Namun arin sudah lebih dulu menaiki anak tangga dengan sedikit lari.


" Kenapa dia bisa kaget lihat lu datang? Sampai tersedak lagi. ", ucap Wisnu.


" Ya mungkin dia kaget karena melihat wajahku yang tampan ini bang. ", jawab marchel sambil duduk di kursi meja makan.


" Ckk.. PD amat sih lu. ", celetuk Wisnu yang ikut duduk dan melanjutkan makannya.


" Siapa sih dia bang? ", tanya marchel berpura-pura tak tau.


" Itu yang tempo hari mau gw kenalin ke lu. "


"Dia juga tadi ikut nongkrong di cafe. Masak lu udah lupa? ", oceh Wisnu.


"Ya mana gw ngerti bang! Dia tadi aja gak lepas masker, ya mana mungkin gw ngenalin wajahnya. ", tutur marchel sambil mengunyah bakwan.


Ceklik


Arin mengunci pintu kamar nya. Arin mondar-mandir tak tenang.


" Aduh... Gawat ini dia sudah tau jika aku tinggal di sini! "


"Pasti hidup ku akan tambah rumit lagi! ", arin menepuk-nepuk jidatnya sendiri.


" Gaswat ini ! Gaswat! ", arin menghentikan langkah saat ponsel nya berdering.


" Hah... Siapa lagi yang telfon? ", gunam arin .


" Kenapa lagi ini orang? ", arin tak ogah-ogahan untuk mengangkat telfon dari marchel.


Sudah lima kali marchel telfon, dan arin pun tetep tak mau menjawab. Akhirnya marchel mengirim pesan singkat.


Ting..


{Orang aneh }


Kelaurlah ke balkon kamar. Sekarang!

__ADS_1


Ting


{Orang aneh}


Keluar sekarang atau aku akan datang ke kamar mu?


"Maunya apa sih dia? ", gerutu arin yang berjalan ke balkon kamar.


Saat arin sudah ada di balkon kamar , pemandangan pertma yang ia lihat adalah senyum terindah dan termanis dari marchel. Arin memutar matanya malas.


" Ada apa? "! Tanya arin sambil melibatkan kedua tangannya di dada.


" Jangan cemberut gitu dong! ", ucap marchel dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya.


" Cepat katakan! Ada apa? ", ucap arin dengan sinis.


" Hemmm... Apa ya? ", marchel pura-pura berfikir.


" Kalau gak ada yang penting aku tinggal! ", ucap arin yang bersiap untuk masuk ke dalam kamar lagi.


" Kenapa sih kamu gak angkat telfon dari ku? ", tanya marchel pada akhirnya.


"Aku gak mau berurusan dengan orang asing. "


"Sekarang kamu sudah tau kan kalau aku ini keluarga dari yang punya rumah ini? "


"Justru itu! Aku gak mau menambah masalah. Apa lagi kamu cucu dari nenek mariyam." Jelas arin.


"Dan ingat! Aku calon istri dari abang sepupu mu. ", lanjut arin dengan menekan kata calon istri.


Gw gak peduli rin! Lu mau calon istri abang gw atau bukan. Selagi janur kuning belum melengkung, gw akan berusaha untuk mendapatkan mu. (Batin marchel)


"Ia... Gw tau itu! Wisnu mu itu sudah cerita . "


"Gw hanya ingin berteman dengan mu saja! Apa itu salah? ", ucap marchel.


"Kenapa harus aku? "


"Aku bukan dari keluarga yang berada seperti keluarga mu. " Ucap arin yang menyandarkan tubuhnya di dinding dengan posisi berdiri.


"Justru aku ingin mempunyai teman yang sederhana seperti mu. "


"Karena aku tak mempermasalahkan itu. "


"Aku mohon mau ya Terima aku jadi teman mu ! ", kedua tangan marchel di tangkupkan sebagai tanda permohonan.


Arin menarik nafas sebelum memberi jawaban.


" Oke! ", arin menjeda ucapannya.


" Tapi ada syaratnya! Kamu jangan bilang sama abang mu jika kita pernah ketemu dan kenal! ", lanjut arin.


" Kenapa? ", tanya marchel heran.


" Sanggup tidak? Kalau tidak aku juga gak akan pernah mau berteman dengan orang aneh seperti mu! ", ancam arin.

__ADS_1


" Oke... Oke! Gw sanggup. ", jawab marchel.


Keduanya lanjut berbincang. Hanya marchel yang sering melempar pertanyaan. Arin hanya menjawab pertanyaan yang menurutnya perlu di jawab.


__ADS_2