
CUP
Wisnu mengecup bibir Arin, tentu saja Wisnu tak hanya mengecup bibir Arin.Tangannya saja sudah menahan tengkuk Arin. Naasnya, saat akan m*elumat bibir Arin, ada seseorang yang datang ke ruangannya.
Wisnu menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang sudah datang mengganggunya. Arin memanfaatkan keadaan itu, ia segera berdiri dari duduknya.
"Mas, aku keluar sebentar ya! Mau bantuin Intan " Arin memilih keluar dari ruangan Wisnu, saat tau Marchel lah yang datang .
Wisnu pun menganggukkan kepala.
Marchel masih diam di dekat pintu, ia sengaja menunggu Arin lewat.
Arin tersenyum samar saat melewati Marchel.
Sedangkan Marchel terlihat cuwek, dirinya hanya melirik Arin sekilas .
"Ada perlu apa kau kemari? " Tanya Wisnu yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ini hanya butuh tanda tangan abang " Jawab Marchel datar.
"Lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu! " Oceh Wisnu, namun matanya fokus ke berkas yang di serahkan Marchel.
Marchel memutar bola matanya malas, memeng itu tujuan Marchel. Ia tahu jika Arin pasti sedang berada di ruangan Wisnu. Makanya ia langsung masuk tanpa mengetok pintu terlebih dulu.
"Nih" Wisnu menyerahkan berkas itu ke Marchel lagi.
"Gue pulang dulu bang " Marchel beranjak dari duduknya.
Wisnu mengernyitkan dahinya, "dia masih marah ! " Lirih Wisnu.
Marchel berlalu begitu saja, pandangannya lempeng ke depan. Bahkan ia tak menoleh Arin yang sedang berada di balik meja kerja Intan. Kok menoleh! Di lirik saja enggak!
"Apa omonganku waktu itu begitu menyakitkan? Sehingga dia enggan untuk menyapa ku? " Arin bermonolog.
Sesampainya di dalam mobil, Marchel mengutuk dirinya sendri.
"Bodoh, bodoh, bodoh kamu Chelsea! " Marchel memukul setir mobilnya berulang kali.
"Sakit" Marchel memegangi dadanya .
"Semakin gue menghindar, gue semakin tersiksa"
Setelah puas mengutuk dirinya sendiri, kemudian Marchel melajukan mobilnya dengan cepat. Marchel menuju tempat yang sekiranya bisa membuatnya lebih tenang.
Disini lah Marchel sekarang, ke danau yang pernah ia datangi bersama Arin.
"AAAA" Marchel berteriak sekencang-kencangnya, untuk mengurangi rasa sakit di hatinya.
"AAAAA, kenapa? Kenapa kau tak bisa melihat ketulusan cinta ku? "
"Kenapa kau malah memilih dia yang hanya menjadikan mu boneka? " Marchel menjambak rambutnya dan menjatuhkan tubuhnya di hamparan rumput.
"Kenapa aku jadi seperti ini? " Marchel mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Lama Marchel berada di danau itu, ia baru beranjak dari tempatnya saat hari mulai sore. Marchel melajukan mobilnya pelan, ia ingin menikmati pemandangan di sore hari.
Marchel sampai rumah saat hari usah petang. Setelah memarkir mobilnya, ia menyeret langkahnya masuk ke rumah.
"Sayang, kamu sudah pulang? " Mami Sofi menyambut kedatangan Marchel.
"Hemm" Hanya itu yang keluar dari mulut Marchel. Tanpa memperdulikan maminya , Marchel berlalu begitu saja.
"Sayang! Kamu kenapa? " Tanya Sofi.
Marchel hanya melambaikan tangannya, mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja.
"Nanti kamu segera turun ya? Kita akan makan malam bersama eyang mu! " Ucap Sofi.
"Iya mi " Jawab Marchel dengan nada malas.
"Anak mu kenapa sih Pi? " Tanya Sofi yang kembali duduk di dekat suami tercintanya.
"Biasa lah Mi, namanya juga anak muda. Kalau bukan masalah wanita apa lagi? " Jawab Aji.
"Memang Papi tau kalau Marchel punya pacar lagi? " Tanya Sofi.
Aji hanya mengangkat kedua bahunya.
"Papi seharusnya tau dong! Kan Papi sering bersama Marchel di kantor ! Gimana sih Papi ini " Ucap Sofi kesal dengan jawaban Aji.
"Habisnya Marchel gak cerita sih! " Bohong Aji.
Di restoran
"Selalu tidak tepat waktu! Dia yang ngajak , aku yang harus menunggu " Oceh Mariyam yang kesal dengan menantunya.
"Ma! Maaf sudah lama ya menunggu? " Ucap Sofi yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa lama sih? " Omel Mariyam.
"Nungguin si Marchel tuh! Lama mandinya kaya anak perawan aja " Jelas Sofi.
"Hai, kenapa mukamu di tekuk begitu? " Tanya Mariyam kepada Marchel.
"Iya, tau tuh Ma, dari pulang kerja udah kaya gitu" Ucap Sofi.
"Ada apa? Katakan sama eyang! Pasti eyang akan membantu mu! "
"Yakin eyang mau membantu ku? " Marchel melirik neneknya, sedangkan Mariyam mengangguk.
"Aku gak yakin jika eyang bisa membantu ku " Ucap Marchel.
"Jangan anggap remeh eyang mu! " Ucap Aji yang dari tadi hanya menyimak obrolan mereka.
Marchel menghirup udara dan membuangnya kasar, "huuft, sudah lah jangan di bahas lagi" Ucap Marchel.
"Wisnu mana Ma? " Tanya Sofi.
"Tadi mama telfon masih di kantor " Jawab Mariyam.
__ADS_1
Apa? Bang Wisnu juga ikut makan malam? Kira-kira Arin ikut gak ya? Mudah-mudahan gak ikut lah! Eh.. Tunggu! Kalau Arin ikut, otomatis kan ketemu sama Papi. Jadi, gue bisa tau gimana reaksi Arin dan Papi jika bertemu. Marchel bermonolog.
"Wisnu itu persis seperti kakak ya Ma? Setiap kali lihat Wisnu aku jadi merindukan kakak ku! " Ucap Sofi dengan sendu.
"Mama pun juga begitu! " Sahut Mariyam.
"Kalian kok jadi bahas yang sedih-sedih sih? " Protes Aji.
"Kamu kan bisa berkunjung ke pemakaman kakak mu , tak perlu bersedih seperti itu " Tutur Aji.
Sementara itu Wisnu dan Arin baru saja keluar dari kantor.
"Lho mas kok lewat sini? ini kan bukan jalan pulang? Kita mau kemana? " Tanya Arin.
"Kita nyusul eyang ke restoran, tadi eyang telfon ngajak kita makan malam di sana "Jelas Wisnu.
" Sama eyang aja mas? " Tanya Arin.
"Ada tante Sofi juga " Jawab Wisnu.
"Tante Sofi? " Ulang Arin, "ada om kamu itu dong mas? "
Wisnu menoleh Arin dan mengangguk.
"Mas aku gak mau ikut! Mas ke sana saja sendiri! " Ucap Arin.
"Ini sudah separuh perjalanan lo! Gak mungkin aku antar kamu pulang" Sahut Wisnu.
"Aku bisa naik taksi mas! Udah berhenti di sini mas! " Rengek Arin.
"Udah ikut aja! Kan ada aku! " Wisnu mengedipkan sebelah matanya.
"Aku takut mas " Rengek Arin lagi.
Wisnu tak lagi menyahut rengekan Arin, ia memilih fokus menyetir. Hinga tiba di sebuah restoran mewah.
"Mas" Arin menarik ujung jas yang di pakai Wisnu.
"Gak usah takut, sini! " Wisnu merangkul Arin dari samping.
"Mas, malu di lihatin orang tuh ! " Ucap Arin.
Benar saja saat meraka masuk ke dalam restoran itu, mereka menjadi pusat perhatian semua orang . Lalu Wisnu melepaskan Arin dan menggandeng tangannya.
Ihs, kaya mau nyebrang aja pake gandengan tangan 😁
"Malam semuanya, maaf terlambat " Ucap Wisnu.
Semua yang ada di meja itu pun menoleh ke sumber suara.
Arin memegang lengan Wisnu dengan erat. Wisnu tau jika pacar kontrak nya itu sedang ketakutan, kemudian Wisnu merangkul Arin dan di ajak bergabung dengan mereka.
Jangan lupa like , komen
Favoritkan juga agar kalian tidak ketinggalan bab selanjutnya. Thanks for reading, see you in the next chapter😉
__ADS_1