
Tak terasa siang berganti sore, sore berganti malam. Wisnu melihat arloji yang ada di tangannya
Menunjukan pukul 7malam . Wisnu segera Membereskan meja kerja nya.
Seharian ia tengah di sibukkan dengan pekerjaan yang harus menguras pikiran.
Mobil Wisnu berhenti di sebuah apartemen. Ya tentu Wisnu singgah di tempat Arin untuk makan malam sebelum pulang ke rumah mewahnya.
"Serasa mempunyai istri simpanan aja gue. "
"Boro-boro istri? Pacaran aja kagak punya! ", gunam Wisnu yang menyusuri lorong apartemen Arin.
Ting. Tung. Ting. Tung...
Wisnu menombol bel apartemen Arin.
" Kenapa lama sekali sih? "
Ting. Tung. Ting. Tung...
"Kemana sih? Masak gak ada orang? "
"Ahh... Bodoh kenapa aku melupakan password nya! ", Wisnu menepuk jidatnya sendiri dan memasukkan kode password apartemen Arin.
" Kaya gak ada orang? "
"Mungkin lagi keluar ", Wisnu berjalan menuju meja makan. Alangkah terkejutnya saat membuka tudung saji.
" Apa-apa ini? "
"Ngapain aja dia sampai gak masak makan malam !"
"Awas saja kalau dia mau makan gaji buta! ", keadaan Wisnu yang sudah capek plus lapar di tambah, dengan Arin yang tidak menyediakan makanan membuat Wisnu geram dan melempar tudung saji ke sembarangan arah.
Wisnu mencoba menunggu Arin pulang dia akan menginterogasi masih mau bekerja untuk nya atau tidak.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Lamanya Wisnu menunggu tapi tak kunjung ada tanda-tanda kepulangan Arin. Wisnu memutuskan untuk pulang , ia akan membuat perhitungan besok pagi saja pikirnya.
Saat Wisnu akan memasuki mobil sport nya ponsel yang ada di saku celananya berdering.
Wisnu mengernyitkan dahinya saat nomor baru itu menelfonnya.
"Ia.. Halo?"
__ADS_1
"Siapa? "
....
"Ia saya segera ke sana "
Tut. Tut. Tut
Sambungan telepon itu terputus .
Wisnu melajukan mobilnya dengan cepat untuk menuju alamat yang diberi si penelfon tadi.
Hanya butuh waktu satu jam wisnu sudah sampai tujuannya.
"Permisi? "
"Apakah ibu tadi yang menelfon saya? ", tanya Wisnu sopan ke wanita tua itu.
" Ia.. Nak ", ibu itu berdiri dari duduknya
" Apakah dia teman mu? "
"Tadi dia seperti orang kebingungan ", tutur ibu wanita itu .
" ARIN? " , Wisnu mendekat ke arah Arin yang duduk dengan kaki tertekuk keatas untuk menyandarkan kepalanya.
"Pa.. Pak Wisnu? ", jawab Arin takut.
"Bukanya menyelesaikan kerjaan mu malah asik keluyuran? ", Wisnu bertanya dengan nada yang keras.
" Jangan marahi dia nak! "
"Kasihan dia tadi tersesat katanya dia baru tinggal di kota ini! ", jelas ibu tua yang merasa kasihan melihat Arin di bentak oleh Wisnu.
" Tersesat? ", Wisnu mengernyitkan dahinya dan berjongkok di depan Arin
"Hiks. Hiks. Hiks", Arin menangis saat Wisnu mendekatinya. Dia merasa takut jika Wisnu marah dan memecatnya, karena Satu-satu nya harapan Arin saat ini pekerjaan yang di berikan oleh Wisnu .
" Jangan nangis ayo kita pulang! ", ajak Wisnu yang menarik lengan Arin untuk segera bangkit dari duduknya.
" Terimakasih ibu sudah menolong teman saya, ini untuk ibu! ", Wisnu memberi beberapa lembar uang kertas berwana merah itu ke wanita tua .
" Tidak usah nak", tolaknya.
"Tidak baik menolak rejeki bu! Terimalah bu anggap saja saya memborong dagangan ibu! ", Wisnu meraih tangan wanita tua itu untuk menyerahkan uang.
Saat ini Wisnu berada di pinggir jalan tepatnya di warung kecil milik ibu tua yang menolong Arin.
" Buruan masuk! ", perintah Wisnu yang membuka pintu mobil untuk Arin .
__ADS_1
Arin hanya diam mematung di belakang Wisnu.
" Kenapa masih diam saja? Buruan masuk atau aku tinggal disini,? Ha.. H? ", tambah Wisnu saat melihat Arin yang diam saja.
" Tapi baju saya basah pak, nanti mobil bapak jadi kotor! ", Arin tak kunjung masuk ke dalam mobil karena bajunya yang basah karena kehujanan. Ia takut jika kena marah pemilik mobil sport itu. Karena Wisnu sering memarahi Arin tanpa sebab yang jelas.
"Cek ", Wisnu berdecak mendengar alasan Arin.
" Buruan masuk! ", Wisnu menyeret tangan Arin dengan sedikit kasar dan memaksanya masuk mobil.
Setelah wisnu ikut masuk mobil, Wisnu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan warung itu.
Wisnu melirik ke samping kiri dengan ekor matanya yang melihat badan Arin gemetar karena dingin. Wisnu merasa iba dengan keadaan Arin menepikan mobilnya dan mengambil jas yang terletak di bangku belakang.
"Nih kamu pakai ini biar gak kedinginan! " tangan Wisnu terulur memberikan jasnya kepada Arin.
" Terimakasih pak! ", Arin meraih jas Wisnu dan langsung memakainya.
"Lain kali kalau tidak tau jalan pulang jangan gak usah pergi-pergi paham? "
"Mana tersesat sampai sejauh ini lagi! "
"Punya HP itu di pakai , bukan buat pajangan !"
"Kamu kan bisa telfon Riyan atau aku kalau bingung jalan pulang! "
"Buat apa bawa HP kalo gak di pakai hah? "
"Merepotkan saja! ", omel Wisnu.
" Maaf Pak, tadi saya setelah dari kantor bapak mau sekalian belanja di supermarket dulu tapi... ", omongan Arin di potong Wisnu
" Tapi apa? Tapi nyasar gitu? "
"Bukan begitu pak! "sahut Arin.
"Lalu? " tanya Wisnu.
"HP saya kehabisan batere! ", Arin menunjukan HP nya yang mati itu
" Dan Saat saya beli minum saya tidak sengaja melihat orang yang tempo hari ngejar saya dan reflek saya meninggalkan tempat itu dengan tidak memperhatikan jalan . Saya baru sadar kalau jalan itu bukan jalan menuju apartemen nya kak Riyan. " Arin menundukkan kepalanya ia takut pasti Wisnu akan marah karena ia repotkan.
"Dasar kau ini! "
"Lain kali kali kalau mau belanja atau mau pergi telfon sopir ku untuk ngantar, ngerti? "
"Kita beli makan dulu aku lapar, di rumah kamu juga gak masak !" Wisnu memarkirkan mobilnya di restoran mewah yang ada di kota itu.
Mereka menghabiskan makan malam tanpa ada yang bersuara. Arin hanya sesekali melihat Wisnu yang lahap dengan menghabiskan ayam bakar madu yang dia pesan . Arin ingin mengucapkan terimakasih tapi ia urungkan niatnya Arin takut jika Wisnu akan mengomelinya lagi.
__ADS_1
Jangan lupa like & comen 😉