
Jika saja hubungannya dengan Wisnu bukan sandiwara, pasti saat ini hati Arin sudah berbunga-bunga. Arin tersenyum samar menanggapi cerita Riyan.
"Memang dulu mas Wisnu gimana saat di tinggal sama kekasihnya? " Tanya Arin yang penasaran.
"Dulu tuh Wisnu biasa saja ! Hari-hari nya dia habiskan dengan kerja dan kerja. Bahkan di hari libur pun dia masih kerja, makanya dia jadi lajom ! " Jawab Riyan.
"Lajom? " Arin mengerutkan keningnya.
"Iya, lajom! Laki-laki jomblo! " Jelas Riyan dengan ekspresi datar.
"Huupp" Arin menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.
"Kalau mas Wisnu lajom, terus kak Riyan apa dong? Jones gitu? "
"Enak aja gue di bilang jones! Gini-gini gue punya pacar Rin ! " Sahut Riyan.
"Iya deh iya, yang punya pacar, LDR pula! " Ucap Arin mengejek Riyan.
"Oh.. Ya, kak Riyan sudah menemukan keberadaannya Sifa? " Tanya Arin.
"Kenapa? " Tanya balik Riyan.
"Hanya ingin tau aja! " Jawab Arin, " Lebih cepat ketemu lebih baik ! " Lanjut Arin, namun mimik mukanya terlihat murung.
"Yakin lebih cepat ketemu lebih baik? " Riyan menelisik Arin.
"Yakin lah kenapa enggak! " Arin membuang wajahnya saat di perhatikan Riyan.
"Emangnya kalian tuh sama gengsinya! Kalau sudah saling jatuh cinta itu di ungkapin. Jangan di pendam aja! " Ucap Riyan.
"Siapa juga yang jatuh cinta! " Sahut Arin.
"Hufft... Masih juga gak ngaku! " Gunam Riyan.
"Lu tentang aja gue udah tau di mana dia sekarang. Gue hanya tinggal pastiin dulu, semoga orang suruhan ku itu tidak salah memberi informasi. Selama aku belum memastikan sendiri, aku gak akan kasih tau Wisnu dulu. Aku gak mau membuat dia berharap yang lebih. Kamu juga harus merahasiakan ini darinya. "
"Rahasia apa? " Tanya Wisnu yang muncul secara tiba-tiba .
Arin dan Riyan kaget dengan kedatangan Wisnu, mereka sama-sama memangil Wisnu dengan lirih.
"Mas! " Ucap Arin lirih.
"Wisnu! " Ucap Riyan lirih.
"Apa, rahasia apa yang kalian sembunyikan dari ku? " Tanya Wisnu sambil berjalan mendekat ke mereka.
"Bukan apa-apa! " Jawab Riyan.
"Bohong lu, Gue denger tadi ! " Sahut Wisnu.
Arin dan Riyan saling pandang,
"Mas Wisnu dengar semuanya? " Tanya Arin.
"He'em! Jadi katakan rahasia apa yang kalian tutupi dari ku? "
"Jadi begini Nu! Gue tuh cerita sama Arin, kalau gue mau kasih suprise ke pacar gue gitu. " Bohong Riyan.
__ADS_1
"Kalau itu mah gue juga udah tau! " Sahut Wisnu.
"Hehe! Iya juga ya! " Riyan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Oh... Ya, semua team akan kembali ke ibu kota sore ini" Ucap Riyan.
Wisnu menanggapi dengan anggukan kepala, "kamu gak jadi ambil libur? " Tanya Wisnu.
"Jadi lah! " Sahut Riyan.
"Ya udah ikut pulang sono! " Ucap Wisnu.
"Serius nih?"
"Tapi gimana dengan lu? " Tanya Riyan
"Gak usah pikirin gue! lu urus aja acara suprise buat pacar lu itu . Gue akan kembali setelah Arin bener-bener sehat dan gue mau ajak Arin mampir dulu ke rumah ibu. " Ucap Wisnu.
"Ya udah! Gue tinggal beneran ya? " Ucap Riyan dengan wajah yang sumringah.
"Iya udah sono pergi! " Sahut Wisnu.
Setelah Riyan keluar dari ruang perawatan, Arin baru berani bertanya kepada Wisnu.
"Mas, emang harus banget ya ketemu sama ibu kamu? "
"Kenapa, Kamu keberatan? "
"Bukan begitu mas, aku hanya minder saja. Apa lagi dengan setatus ku, aku malu mas. "
"Gak perlu minder dan malu! Ibu ku baik kok percaya deh sama aku! "
"Kamu tau? Ibu ku dulu menikah dengan ayah ku juga bersetatus janda dan ayah saat itu mash bujangan. Jadi jangan takut ya! " Kata Wisnu.
°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°°
Setelah mendapatkan perawatan secara insentif dan sudah di izinkan pulang dari rumah sakit, kini mereka berada di kota kelahiran Wisnu.
Sepanjang perjalanan Arin hanya diam saja. Perasaan nervous membuatnya malas bicara. Bahkan, ia hanya menjawab dengan singkat pertanyaan dari Wisnu.
Wisnu tau jika Arin sedang nervous, lantas ia raih tangannya dan di genggam lah tangan Arin.
"Kenapa diam aja? "
"kamu grogi ya mau ketemu camer? " goda Wisnu.
Arin hanya menoleh Wisnu sekilas sepatah kata pun tak terucap dari bibir nya.
"Aku tau ini sangat tidak nyaman buat mu! Bukankah seseorang jika akan menikah harus minta restu dari orang tua? Aku sudah minta restu kepada orang tua mu, sekarang giliran ku yang meminta restu kepada ibu dan ayah ku. Kamu jagan khawatir, serahkan semua pada ku. " Wisnu berbicara dengan lembut seolah ia ingin menikahi Arin dengan sesungguhnya, tanpa ada embel-embel "kontrak".
" Terserah kamu mas! " Arin menarik tangannya dan menoleh ke samping jendela mobil. Hatinya terasa perih, Arin merasa menjadi boneka untuk Wisnu.
Kenapa rasanya sakit!
Enggak, aku gak boleh jatuh cinta
Di hati nya hanya ada satu orang Sifa, aku gak akan pernah bisa menggantikan Sifa di hati mas Wisnu. Arin melirik Wisnu sekilas.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi mereka kini sudah tiba di sebuah rumah berlantai dua. Rumah itu sangat berbeda jauh dari rumah nenek Wisnu, rumah sederhana berlantai dua itu memiliki halaman yang luas. Di halaman itu terdapat berbagai macam pohon buah dan juga bunga. Sehingga rumah itu terlihat lebih asri dan sejuk di pandang mata.
"Ayok masuk! " Wisnu menggandeng tangan Arin.
Arin menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar, " Hufft! " Perasaannya semakin tak karuan saat mendekati pintu rumah itu. Dan, di ketok lah pintu rumah itu oleh Wisnu.
Tok. Tok. Tok
"Assalamu'alaikum" Ucap Wisnu.
"Wa'allaikummusalam" Terdengar jawaban dari dalam rumah.
"Ayah! " Wisnu langsung menjabat tangan pria paruh baya itu.
"Wisnu! Kok gak bilang mau datang! " Sahut sang ayah.
"Iya yah, ibu mana? "
"Masuk dulu! Ibu mu ada di dalam. "
"Bu... Ibuk! Lihat siapa yang datang! "
"Ada apa sih yah kok teriak-teriak? "
"Wisnu! " Wanita paruh baya itu langsung berhambur memeluk anak laki-laki nya.
"Ibu kangen sama kamu nak! "
"Wisnu juga kangen sama ibu! Maaf ya Wisnu jarang nengok ibu. " Ucap Wisnu.
"Iya ibu tau, kamu pasti sibuk banget"
"Siapa dia Nu? " Tanya sang ibu saat melihat Arin yang berdiri di belanga Wisnu.
"Oh.. Iya, kenalkan ini Arin buk, yah! Dia calon istri ku. " Ucap Wisnu setelah melepas pelukan dari ibu nya.
"Calon istri? " Ulang sang ibu.
"Iya buk! " Sahut Wisnu.
"Kita duduk dulu yuk! Masak tamu kita gak di suruh duduk sih bu! " Ucap sang ayah.
"Ayo nak duduk sini! "
Arin mengambil posisi duduk yang bersebelahan dengan Wisnu. Arin tak berani mengangkat kepala, dari awal duduk mata Arin hanya tertuju ke bawah. Arin hanya sekali melirik Wisnu, sedangkan yang di lirik itu tampak serius berbicara dengan maksud kedatangannya.
Wisnu meminta restu kepada orang tua nya, Wisnu juga menjelaskan secara gamblang siapa Arin sebenarnya.
Dengan mudahnya Wisnu pun mengantongi restu dari kedua orang tuanya.
"Terimakasih ya bu, yah! Sudah memberi restu untuk Wisnu dan Arin. " Ucap Wisnu yang memeluk kedua orang tuanya.
"Iya nak, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu! " Sahut sang ibu.
Arin tersenyum getir saat melihat adegan orang tua dan anak saling berpelukan . Dalam hati nya senang telah di beri restu, namun sebagian hatinya merasa tak enak telah membohongi orang tua.
Andaikan ini bukan setingan mas,andaikan pernikahan yang akan kita jalani ini bukan nikah kontrak. Pasti saat ini aku menjadi wanita yang paling beruntung. Hati ini seakan tidak rela mas. Tapi apalah daya ku! Aku hanya insan biasa yang tak mampu menggapai hati mu. Arin hanya bisa membatin dalam hatinya.
__ADS_1
Jangan lupa like 👍komen ✍favorit'kan karya ini 💙