TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
87. Laki-laki Mengkal


__ADS_3

"Anak-anak kemana sih ma? Kok lama bener, bilangnya cuma sebentar " Cicit Sofi.


"Mungkin mereka ketemu temannya, sudah jangan pikiran mereka! Mereka sudah besar bahkan sudah hampir tua " Sahut Mariyam.


"Kok tua sih Ma? " Protes Sofi.


"Terus apa kalau tidak hampir tua? Coba kamu pikir umur mereka berapa sekarang? " Ketus Mariyam.


"Laki-laki umur tiga puluh itu belum termasuk tua ma ! " Sofi tak terima jika anaknya di bilang tua.


"Lalu apa kalau tidak tua? laki-laki mengkal gitu? " Mariyam melirik anak perempuan nya.


"Mangga kali ma mengkal" Cicit Sofi.


Aji memutar bola matanya malas saat mendengar perdebatan yang tidak berfaedah itu.


Setelah makan malam selesai Mariyan beserta anak dan menantunya itu pun pulang.


"Aku mau telfon Marchel dulu ma, mau ngabarin kalau kita sudah mau pulang " ucap Sofi yang mengambil ponselnya dari dalam tas nya.


"Gak usah! nanti mereka juga pulang. Buruan mama sudah capek! " Mariyan menarik tangan Sofi, sehingga gagal untuk menelfon Marchel.


"Itu bukannya Wisnu dan Marchel? " Aji menunjuk ke taman yang di dekat restoran.


"Iya Pi, mami ke sana dulu ya? " Sofi langsung menghampiri mereka.


"Ternyata kalian di sini? "


Sura itu mampu membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber sura.

__ADS_1


"Pantas saja di tungguin dari tadi, gak taunya asik ngobrol di sini! Lagi bahas apa sih? " Ucap Sofi.


"Gak bahas apa -apa kok Mi! Mi, Marchel pulang duluan ya? " Marchel pun pergi untuk menghindari Papi nya.


"Tapi Chel.... " Ucapan Sofi tertahan karena Marchel sudah menjauh.


"Boy, mau kemana? " Aji menepuk pundak Marchel.


Marchel pun menepis tangan Papi nya, "bukan urusan Papi! " Ucapnya ketus.


"Mi, Marchel kenapa? " Aji heran dengan sikap Marchel .


"Gak tau Pi, aneh! " Ucap Sofi.


"Mas, aku jadi merasa bersalah sama Marchel" Ucap Arin di dalam perjalanan pulang.


"Jangan khawatir, ini juga bukan salah mu. Orang yang patut di salahkan itu om Aji " Sahut Wisnu.


"Jangan pikiran Marchel, dia pasti tau apa yang harus ia lakukan" Setelah mengucapkan itu Wisnu dan Arin sama-sama terdiam. Wisnu kembali fokus menyetir, sedangkan Arin menyibukkan diri dengan ponselnya.


Dering ponsel Wisnu memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Kok gak di angkat sih mas? " Arin heran karena Wisnu mengabaikan panggilan masuk di ponselnya.


"Males, gak ada namanya" Sahut Wisnu.


"Angkat aja, dari tadi lo nelfonin Mas terus" Ucap Arin.


"Kamu aja yang angkat! " Ujar Wisnu.

__ADS_1


Arin segera mengangkat telfon itu sebelum mati, "halo" Ucap Arin.


Arin menutup mulutnya dengan tangan kirinya.


"Ada apa? " Wisnu menoleh kesamping.


"Mas kita ke rumah sakit medika sekarang! " Ucap Arin setelah panggilan itu terputus.


"Siapa yang sakit? Lalu itu tadi telfon dari siapa? "Tanya Wisnu bingung.


" Kak Riyan mas"


"Kenapa Riyan? Dia itu masih di surabaya, masih kangen-kangen an sama ceweknya" Ucap Wisnu.


"Kak Riyan kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Tadi itu telfon dari orang yang nolongin kak Riyan. Buruan mas kita ke sana! " Jelas Arin dengan wajah khawatir nya.


Setelah mendengar penjelasan Arin, Wisnu langsung menambah kecepatan mobilnya.


Setelah tiba di rumah sakit , Wisnu dan Arin bergegas menuju ruang UGD.


Saat menuju ruang UGD, Wisnu menggandeng tangan Arin , ujiannya supaya Arin bisa mengimbangi langkahnya yang lebar.


"Di mana teman saya? " Tanya Wisnu ke pada wanita yang duduk di kursi tunggu dengan posisi menunduk.


Wanita itu mengangkat kepalanya.


Baru bisa nulis, itu pun cuma seiprit 🙃


Jangan lupa like , komen , Agar aku lebih semangat untuk nulis lagi 🤭

__ADS_1


Favoritkan juga agar kalian tidak ketinggalan bab selanjutnya. Thanks for reading, see you in the next chapter😉


__ADS_2