
Gimana udah siuman? " Tanya Riyan yang baru datang, dengan membawa dua kantung kresek.
"Belum! " Jawab Wisnu yang singkat sambil menggelengkan kepala.
"Nih makan dulu! " Riyan menyodorkan satu kotak nasi yang ia bawa.
"Taruh aja di situ! " Jawab Wisnu yang masih betah memandangi wajah pucat Arin.
Riyan menghembuskan nafas kasarnya, "huuffftt! Bucin ya bucin! Tapi, juga harus mikirin kesehatan lu juga! Jangan sampai lu juga di rawat nantinya! " Ocehan Riyan sambil meletakkan kembali kotak nasi itu di atas meja.
"Gue gak bucin! " Dalih Wisnu, "gue cuma khawatir aja sama keadaan dia! "
"Ya.. Ya.. Ya gak bucin! Cuma, khawatir aja! "
"Lagi-lagi ku tak bisa tidur! Lagi-lagi ku tak bisa makan. " Riyan menyindir Wisnu degan penggalan lagu yang lagi viral di tik tok.
"Diem gak lu! " Wisnu melemparkan botol minuman yang ia ambil dari atas nakas.
"Awu! " Riyan mengusap punggungnya yang terkena botol. "Sadis amat sih lu kalau udah bucin! " Umpat Riyan.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara di kamar hotel,
Eva sedang dilanda kecemasan. Cemas jika perbuatannya di ketahui oleh Wisnu.
"Aaaahh!" Teriaknya, "kenapa sih gak mati sekalian itu orang! "
"Kenapa juga masih hidup! "
"Mudah-mudahan gak ada saksi mata yang lihat aku kemarin! " Eva begitu gelisah, ia mondar - mandir sambil memikirkan sesuatu. Eva terlonjak kaget saat pintu kamarnya di ketok.
Tok. Tok. Tok
Eva masih mematung di tempat, ia tak berniat membuka pintu.
"Va, buka pintunya! " Teriak Riyan dari luar, "aku tau kamu ada di dalam! Buka pintunya atau aku dobrak! " Riyan menggertak Eva, sehingga ia menjadi panik.
Aduh! Bisa gawat ini! Riyan sudah tau jika aku pelakunya, itu artinya Wisnu juga sudah tau! Ahh... Aku harus gimana? Kabur! Iya gue harus kabur dari sini! Batin Eva, iya segera menuju balkon kamar untuk melarikan diri.
"Aduh, mana dalem banget lagi! " Gunam Eva yang mengintip ke bawah.
"Gue hitung sampai lima! Kalau tetep gak mau buka pintunya, gue dobrak juga ini pintu! " Ucap Riyan memperingatkan Eva.
"Aduh, gimana ini! Aku harus apa? Ayo Eva mikir-mikir! " Eva semakin panik saat Riyan mulai menghitung.
Satu
"Cepat Eva mikir! " Gunamnya dalam kepanikan
Dua
"Kenapa di saat seperti ini otak gue gak bisa di ajak kompromi sih! " Eva menggigit kuku jari tangan nya sambil mondar-mandir.
Tiga
__ADS_1
"Ahhh! " Eva mengacak rambutnya frustasi.
Empat
Lim...
Riyan langsung berhenti berhitung saat pintu kamar Eva sedikit terbuka.
"Ngapain sih teriak-teriak! " Ucap Eva yang berada di balik pintu.
"Karena lu lama buka pintunya! " Sahut Riyan sambil mendorong paksa pintu kamar Eva.
"Mau ngapain sih lu? " Tanya Eva ketus saat Riyan berhasil masuk ke dalam .
Riyan duduk di tepi ranjang tempat tidur Eva,"Menurut lu mau ngapain? " Riyan membalikkan pertanyaan Eva. "Seharusnya kamu tau dong! Jika seorang pria dan wanita berada di dalam kamar? " Riyan menyeringai.
"Jangan macam-macam ya kamu! " Ucap Eva sambil membelalakkan matanya. Ia wanita pintar, jadi dia tau apa maksud dari omongan Riyan.
"Kenapa? Bukanya yang berbagai macam itu lebih menyenangkan? " Riyan bangkit dari duduknya. Ia melangkah perlahan menghampiri Eva.
"Mau ngapain kamu? Stop gak! "
"Kenapa takut? " Riyan melangkah perlahan, wajahnya terlihat seperti singa yang kelaparan.
"RIYAN STOP! " Teriak Eva yang langkahnya terhenti karena terhalang meja rias.
"Tak perlu takut begitu! Lihat lah wajah cantik mu menjadi jelek! " Ucap Riyan.
"Please Yan, STOP! " Tangan meraba meja rias, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan Riyan.
"STOP Yan! Mau lu apa? " Tanya Eva .
"Mau tau mau gue apa? " Tanya Riyan.
Eva mengangguk dengan cepat.
"Katakan apa yang sudah lu lakukan terhadap Arin? " Riyan menatap tajam Eva dengan posisi yang sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi.
"A-aku eng-enggk... "
"Jangan bohong! " Ucap Riyan yang mendekatkan wajahnya ke Eva.
Eva memejamkan matanya saat hembusan nafas Riyan menyapu wajahnya. Melihat Eva yang memejamkan mata, Riyan berusaha menahan senyum .
"Katakan dengan jujur atau aku akan memaksamu untuk mengakui semua perbuatan mu itu dengan cara ku sendri! " Ucap Riyan pelan namun terdengar menyeramkan bagi Eva.
"A-aku bener-bener gak melakukan hal apapun kepada Arin! " Eva masih saja membela diri.
"Jadi lu gak mau ngaku? " Tanya Riyan sambil berbalik badan membelakangi Eva.
Eva bernafas lega serta mengelus dadanya, saat melihat Riyan sudah berbalik badan.
"Kamu tau sendiri kan! Kemarin itu aku stay di lokasi terus! "
"Kamu gak bisa main tuduh begitu saja Yan! " Ucap Eva dengan alibinya.
__ADS_1
"Iya, gue tau! Jika lu stay di lokasi! " Sahut Riyan yang masih posisi membelakangi Eva.
"Lalu kenapa lu tuduh gue? " Tanya Eva.
"Karena lu satu-satunya orang yang benci dengan Arin di dalam rombongan kita ! " Jawab Riyan.
"Tapi lu gak bisa tuduh gue tanpa bukti dong! " Ucap Eva.
Riyan mematung tak bergeming, namun sedetik kemudian Riyan berbalik badan . Secepat kilat Riyan meraih kedua pundak Eva, ia cengkram dengan kuat. Kemudian Riyan memutar tubuh Eva dan di hempaskan ke tempat tidur.
Eva terkejut dengan tindakan Riyan.
"Lu mau ngaku gak? " Desak Riyan.
"Apa yang harus gue akui Yan! Gue kan udah bilang gue gak ngelakuin apapun terhadap Arin! " Sahut Eva yang masih tak mau mengakui perbuatannya.
"Ohh... Jadi masih gak mau ngaku juga! " Riyan menyusul Eva ke atas ranjang, "jangan salahkan gue jika gue berbuat lebih nekat lagi! " Ancam Riyan yang sudah mengkungkung tubuh Eva.
Eva berusaha bangkit namun, dengan cepat Riyan meraih kedua tangannya.
"Please Yan! Lu jangan gila! " Ucap Eva yang sudah takut.
"Makanya cepat ngaku! " Bentak Riyan yang sudah tak sabar lagi.
"Aku gak salah! Aku gak mau ngaku! " Eva memalingkan wajahnya.
"Oke, jika ini yang kamu mau! " Riyan menyeringai.
"Jika lu apa-apain gue! Gue pasti akan laporin lu atas tuduhan pelecehan! " Eva mencoba mengancam Riyan.
"Silahkan! Gue gak takut! " Riyan langsung menghimpit tubuh Eva. Riyan mengelus lembut pipi Eva, wajahnya ia dekatkan dengan wajah Eva. Tangannya menarik paksa kemeja yang Eva pakai, sehingga beberapa kancingnya terlepas.
"O-oke gue ngaku, gue ngaku! Tapi, please jangan lakuin ini sama gue! " Eva akhirnya mengakui perbuatanya.
Riyan tersenyum sumbang saat mendengan ucapan Eva, "sudah terlanjur! " Ucap Riyan singkat dan bersiap untuk mencium Eva.
"Iya gue yang udah kurung Arin di dalam gudang. Saat itu dia mau kembali ke kamar nya. " Jelas Eva dengan cepat.
"Lu tau! gara-gara ulah lu yang kampungan itu , semua orang menjadi panik! Jika berita ini sampai ke telinga Wisnu, gue gak jamin dengan reputasi lu! " Riyan berbisik dengan tubuhnya yang masih berada di atas Eva.
"Tolong jangan kasih tau Wisnu! " Mohon Eva.
"Oke! Tapi, ada syaratnya! " Ucap Riyan.
"A-apa? " Tanya Eva.
"Lu segera pergi dari sini! Dan lu jangan pernah sekali-kali muncul di hadapan Wisnu ataupun Arin lagi! MENGERTI! " Riyan mencengkram dagu Eva . Eva hanya menjawab dengan mengangguk .
Riyan segera bangkit dan merapikan bajunya, yang terlihat berantakan karena ulahnya sendiri.
"Sekarang cepat kemasi semua barang-barang lu dan pergi dari sini! " Riyan melempar gelang ke arah Eva yang masih terduduk di pinggir ranjang.
Eva membelalakan matanya saat gelang itu jatuh tepat di pangkuannya.
Jangan lupa like 👍komen ✍favorit'kan karya ini 💙
__ADS_1