TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
68. Menjadi Ayahnya Yoga


__ADS_3

Wisnu hanya berdiri di depan kamar tempat Yoga dirawat. Wisnu merasa iba melihat Arin dan anak kecil itu. Setelah lama berada di luar, akhirnya Wisnu mencoba untuk masuk ke dalam tanpa bersuara. Supaya Arin terkejut dengan kehadirannya.


"Yayah! ", ucap Yoga yang melihat Wisnu masuk ke dalam kamarnya. Arin segera menoleh saat Yoga meyebut Yayah dan tangan Yoga yang menunjuk arah pintu. Wisnu pun langsung berhenti di tempat saat Arin menoleh ke arahnya.


Pak Wisnu! Batin Arin.


" Titu Yayah! ", ucap Yoga yang cadel.


" Bukan sayang! Itu bukan ayah! ", ucap Arin sambil mengelus punggung Yoga. Seketika wajah Yoga berubah menjadi mendung. Wisnu yang melihat perubahan wajah Yoga, langsung memperlebar langkahnya mendekati Arin dan Yoga.


" Iya sayang ini ayah! Sini gendong sama ayah! ", Wisnu meletakan paper bang yang ia bawa. kemudian Wisnu langsung meraih tubuh mungil Yoga dari gendongan Arin. Semua yang mendengar pengakuan Wisnu kaget. Terutama ibunya Arin.


" Siapa dia Rin? ", tanya ibunya.


" Emmm... ", Arin bingung harus menjawab apa .


" Kenalkan bu saya Wisnu! ", dengan posisi menggendong Yoga, Wisnu memperkenalkan dirinya.


" Hemmm...dia teman Arin kerja bu!. Iya teman Arin kerja. ", sahut Arin kemudian.


Wisnu menatap Arin dan mengangkat sebelah matanya.


" Yayah Oga! ", ucap Yoga dengan girang.


" Iya sayang! ", Wisnu menautkan keningnya ke kening Yoga.


" Yee... Yayah Oga udah uyang! ", cuap Yoga dengan senang bahkan terlihat seperti anak yang tidak sakit. Padahal tangannya masih tertancap jarum infus.


" Yoga senang? ", tanya Wisnu.


" Cenang-cenang! ", ucap Yoga sambil meloncat-loncat dalam gendongan Wisnu.


" Yoga sayang! , Jangan gitu! , Nanti jatuh! ", ucap Arin sambil mengelus punggung Yoga.


" Udah gak papa! lihat dia lagi heppy. ", ucap Wisnu setengah berbisik. karena posisi Arin dan Wisnu dekat.


" Kalau Yoga senang, Yoga harus tidur ya! "


"Yoga harus istirahat! "


"Biar cepet sembuh, kalau sembuh mau gak Ayah ajak jalan-jalan? ", Wisnu mencoba membujuk Yoga agar cepat tidur.


" Au... Oga au alan-alan. ", ucap Yoga sambil manggut-manggut.


" Ya udah, sini tidur sama ayah! ", Wisnu akan membaringkan Yoga ke tempat tidur tapi Yoga menolak.


" Gak au bobok!, Oga mau endong. ", Yoga mempererat pelukannya.


" Oke, ayah gendong! Tapi Yoga harus bobok ya? ", ucap Wisnu sambil mengelus punggung Yoga dengan lembut.


Tak butuh waktu lama Yoga pun sudah terlelap ke alam mimpi. Dengan hati-hati Wisnu membaringkan Yoga ke tempat tidur.


" Kenapa tadi gak nungguin aku selesai meeting? ", tanya Wisnu sambil melirik Arin yang berdiri di sampingnya.


" Maaf, tadi saya sangat panik! ", jawab Arin sambil tertunduk.


" Bu, saya boleh ajak Arin untuk bicara di luar? ", tanya Wisnu kepada ibunya Arin.


" Iya.. Silahkan, tapi jangan jauh-jauh ya! Nanti kalau Yoga terbangun biar ibu bisa gampang nyari kalian. ", ucap ibu Arin.

__ADS_1


" Iya bu! ", sahut Wisnu yang langsung menarik tangan Arin.


" Pak lepas! ", ucap Arin yang malu menjadi pusat perhatian orang-orang.


" Duduk! ", tatih Wisnu saat berada di taman rumah sakit.


" Bapak kenapa kesini? ", tanya Arin .


" Untuk menyusul mu! ", ucap Wisnu yang sudah duduk samping Arin.


" Seharusnya bapak gak usah repot-repot datang kemari. "


"Saya janji, setelah Yoga sembuh saya akan segera kembali. "


"Tapi tolong untuk saat ini berikan saya libur beberapa hari pak . ", ucap Arin dengan nada memelas.


" Apa Yoga sakit ada sangkut pautnya dengan mantan mu itu? ", tanya Wisnu.


" Tidak! ", jawab Arin yang bingung dengan pertanyaan Wisnu.


" Syukurlah! ", sahut Wisnu.


" Memangnya kenapa pak? ", tanya Arin.


" Saat Intan memberi tau jika anak mu masuk rumah sakit, saya jadi teringat dengan ancaman mantan suami mu itu. "


"Jadi itulah penyebabnya kenapa aku kemari. ", jelas Wisnu.


" Untuk masalah libur, kamu jangan khawatir. "


"Aku juga akan menemani mu merawat Yoga hingga sembuh. ", lanjut Wisnu.


" Tapi pak? ", ucap Arin.


Keduanya terdiam sesaat. Arin melirik Wisnu yang memandang lurus kedepan.


" Seharusnya tadi bapak gak usah mengaku sebagai ayahnya Yoga. ", ucap Arin yang memandang gemerlapnya bintang dengan menyandarkan kepalanya di bahu kursi taman.


" Kenapa? ", Wisnu menoleh sekilas ke Arin.


" Memang benarkan jika aku nantinya akan menjadi ayahnya Yoga? "


"Walaupun hanya ayah sambung buat Yoga. ", ucap Wisnu.


" Tolong jangan libatkan anak saya dalam sandiwara ini! ", ucap Arin yang masih melihat langit. Wisnu menoleh dan meraih kedua bahu Arin sehingga posisi mereka saling berhadapan.


" Izin kan aku untuk menjadi Ayahnya Yoga! "


"Aku akan menyayangi dia seperti anak ku sendiri! ", ucap Wisnu yang serius ingin menjadi ayah dari Yoga.


" Apa bapak tidak memikirkan nantinya? ", tanya Arin.


" Aku tau itu, bahkan setelah kita pisah nanti aku akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan Yoga. ", jelas Wisnu.


" Itu semua tidak perlu bapak lalukan ! "


"Yang saya mau hanya jangan melibatkan Yoga yang tidak tau apa-apaan. "


"Sebenarnya saya tidak masalah anda dekat dengan anak saya. "

__ADS_1


"Tapi jangan memberi harapan untuk anak saya. "


"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Yoga tau kalau anda bukan ayah nya. ", Arin berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


" Akan aku buktikan nanti! ", ucap Wisnu sambil menggenggam jari-jari Arin.


" Aku tak ingin anak ku menjadi korban perpisahan lagi. ", ari mata Arin akhirnya lolos juga .


" Percayakan semua kepada ku! ", Wisnu membawa Arin ke dalam pelukannya.


Wisnu sedang dilema dengan perasaannya , di sisi lain ia masih menggarap kan sifa. Tapi disisi lain Wisnu juga tak bisa jauh dari Arin. Di tambah lagi saat melihat Yoga, Wisnu semakin terjerat dalam permainan nya sendiri.


Arin melepas pelukan Wisnu saat ponselnya berdering. Arin menyeka matanya sebelum mengangkat telfon.


"Iya halo! ", ucap Arin saat terhubung dengan seseorang.


....


" Baik Pak, besok saya akan datang. ", sahut Arin.


....


" Terimakasih pak! ", ucap Arin mengakhiri telfonnya.


" Siapa? ", tanya Wisnu.


" Pengacara yang menangani perceraian saya. ", jelas Arin.


" Apa katanya? ", tanya Wisnu lagi yang sudah penasaran.


" Besok saya di suruh ke kantor PA, untuk mengambil akta cerai. ", jelas Arin dengan mata yang berembun, karena menahan tangis.


" Apa kamu menyesal telah bercerai dengan dia? ", tanya Wisnu yang melihat Arin menahan tangis.


Arin menggelengkan kepalanya.


" Saya tidak menyangka , bahwa pernikahan saya harus berakhir dengan perceraian. ", jelas Arin.


" Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu merasa lega! ", tatih Wisnu.


Arin menangis tanpa suara, namun air matanya telah menganak sungai. Tangan Wisnu terulur menyeka air mata Arin. Kemudian Wisnu meraih kepala Arin dan menyandarkan di bahunya.


Malam semakin larut, dinginnya udara malam terasa merasuk ke tulang. Wisnu mengajak Arin untuk kembali ke kamar Yoga. Saat akan bangkit dari duduknya, Arin mendengar bunyi aneh yang keluar dari perut Wisnu.


"Bapak belum makan? ", tanya arin yang mendengar perut Wisnu keroncongan .


Wisnu hanya menggeleng saja.


" Ayo kita cari makan dulu! ", ajak Arin.


" Enggak usah, tadi aku bawa kue! "


"Makan itu saja nanti. "


"Aku gak enak sama ibu mu, kita sudah lama berada di luar. ", ucap Wisnu.


" Ya udah! "


"Mau beli kopi? ", tawar Arin saat berjalan menuju ruang rawat Yoga.

__ADS_1


" Boleh deh kalau kopi! ", ucap Wisnu.


Ini lah yang membuat Wisnu tak bisa jauh dari Arin. Walau hanay perhatian kecil yang di berikan Arin tapi, itu semua mampu membuat Wisnu senang.


__ADS_2