
Setelah Marchel pergi Arin melamun, seketika membayangkan akan seperti apa rumah tangganya nanti. Jika menikah tanpa di landasi oleh cinta. Tak lama kemudian Arin tersadar dari lamunannya.
"Enggak! ", Arin menggelengkan kepalanya.
"Aku gak akan mundur! "
"Lagian aku juga tidak di rugikan dalam Perjanjian itu. ", gunam Arin lirih.
"Tapi.... ", Arin menggantung ucapannya saat mengingat seseorang yang akhir - akhir ini ia lupakan.
Mas Arif! Arin memanggil dalam batinnya.
Dengan cepat Arin membuka tas dan mengambil ponselnya. Tangannya sangat lincah berselancar di layar HP.
" Kenapa aku bisa melupakan dia sih! ", ucap Arin sambil mengetik pesan . Setelah pesan di kirim , Arin kembali fokus pada layar laptop. Namun Arin tak bisa konsentrasi pikirannya bercabang.
Biasanya mas Arif langsung balas pesan yang ku kirim !
Atau mungkin hubungannya dengan istrinya sudah membaik!
Jika itu benar terjadi, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mu mas.
Semoga kelak kamu bisa menua bersamanya. Arin perang batin , hatinya terasa perih teriris. kedua tangan Arin dilipat di atas meja untuk membenamkan wajahnya.
Sementara di ruang ruang meeting.
" Selamat pagi semuanya! ", sapa Wisnu dengan seulas senyum saat memasuki ruang meeting.
" Selamat pagi! ", jawab mereka serempak.
" Baik! saya akan langsung ke intinya!"
"Kita akan membahas masalah pembanguan tempat wisata di kota malang. ", ucap Wisnu yang membuka laptopnya.
" Jadi seperti ini konsepnya nanti! ", Wisnu berdiri di dekat layar proyektor. Wisnu serius dan gamblang menjelaskan secara detail tentang konsep yang di gunakan. Semua orang menyimak dengan kagum.
" Jadi taman ini akan menjadi taman hiburan keluarga. "
"Dengan adanya banyak wahan permainan, saya yakin jika akan banyak pengunjungnya, baik tua tau muda."jelas Wisnu yang terlihat serius.
Semuanya yang mendengar penjelasan Wisnu hanya menyimak dan manggut-manggut.
" Sekian dari saya!", Wisnu membungkukkan tubuhnya.
"Jika ada pertanyaan silahkan ! ", Wisnu kembali ke tempat duduk.
Semua orang di meja itu terlibat pembicaraan yang santai tapi tetap serius. Bahkan Wisnu tak menghiraukan ponselnya yang berdering berulang kali.
Marchel yang duduk di samping Wisnu tanpa sengaja melirik ke ponsel Wisnu.
Arin! Batin Marchel
Tak lama kemudian ganti ponsel Riyan yang berdering. Riyan melihat siapa yang telah menggangu di sela-sela meeting nya. Setelah melihat nama Arin yang ada di layar HP nya, Riyan menoleh ke Wisnu untuk mencari jawaban . Namun, Wisnu tak sedikit pun menoleh ke Riyan. Begitulah Wisnu jika sudah serius ia tak akan bisa di ganggu.
__ADS_1
Riyan menyimpan ponselnya ke saku jas nya , saat mendengar ucapan dari klayen nya.
"Maaf jika pertanyaan saya ini keluar dari topik pembicaraan! ", ucap salah satu klayen yang mampu menyita perhatian semua orang. Semua mata tertuju padanya tanpa terkecuali.
" Maaf tuan Wisnu! "
"Apa anda baru saja mengalami kecelakaan? ", karena penasaran dengan luka yang ada di bibir Wisnu, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Semua orang mengalihkan pandangan nya ke Wisnu. Wisnu pun menautkan alisnya.
" Tidak! ", jawab Wisnu.
" Katakan saja jika anda baru saja mengalami kecelakaan! Bibir Anda terluka. ", ucapnya lagi.
" Ohh.. Ini hanya kecelakaan kecil saja. ", jawab Wisnu dengan datar.
kepo banget sih! batin Wisnu.
Riyan yang mendengar itu semua mencoba untuk menahan tawanya. Sedangkan Marchel mencoba mengamati wajah Wisnu.
Kenapa aku baru tau dan menyadarinya?, batin Marchel sambil tangannya mengepal di bawah meja.
" Oo... Begitu ya! Saya kira anda baru saja kecelakaan . ", ucapnya.
Dia kecelakaan di atas kasur pak! Jadi jangan khawatir kan bos kami! . Riyan membatin sambil mengulum senyum.
Marchel mendekat ke Wisnu dan membisikan sesuatu yang mendapat anggukan dari Wisnu.
" Maaf semuanya saya permisi terlebih dulu! ", ucap Marchel yang sudah posisi berdiri.
•••••
"Mbak intan! Kenapa pak Wisnu lama sekali sih? ", tanya Arin yang di landa gelisah.
" Tunggu saja dulu! Mungkin masih ada yang di bahas.", jawab Intan.
"Mbak! Aku gak bisa nunggu lama-laman! "
"Nanti tolong sampaikan ke pak Wisnu jika saya pulang ke kampung. ", ucap Arin yang menyambar tas miliknya.
" Iya! Kamu hati-hati ya? "
"Semoga anak mu baik-baik saja. ", sahut Intan.
" Iya mbak makasih! Saya akan pamit ke pak Wisnu lewat pesan saja nanti. ", ucap Arin yang sudah menjauh dari meja Intan.
Arin di buat panik saat mendapatkan kabar dari orang tuanya jika Yoga masuk rumah sakit .
Arin berlari menuju lift untuk turun ke bawah. Arin menekan - nekan tombol agar lift segera terbuka. Arin segera masuk saat pintu lift terbuka, Arin pun segera menekan tombol ke lantai paling bawah.
"Tunggu! ", ucap Marchel yang menerobos masuk saat pintu lift mulai tertutup.
Arin tak menghiraukan Marchel yang berada di dalam lift.
" Mau kemana kamu? ", tanya Marchel yang mendekati Arin.
__ADS_1
" Bukan urusan mu! ", jawab Arin ketus.
" Oke! Urusan mu buka urusan ku! ", ucap Marchel.
" Apa kamu benar mencintai Wisnu? ", tanya Marchel to the poin.
Mendengar pertanyaan dari Marchel, Arin menatap Marchel tanpa sepatah kata pun.
" Jawab pertanyaan ku Rin? ", ucap Marchel karen Arin tetap saja diam.
" Jawab Rin! ", ucap Marchel lagi yang mengguncang kan Arin yang tertunduk.
" Buka urusan mu! ", Arin berteriak dan menatap tajam Marchel. Mod Arin benar-benar tidak bagus. Sehingga dia sensitif dengan pertanyaan dari Marchel.
" Kamu nangis! ", ucap Marchel saat melihat cairan bening yang lolos dari mata Arin.
" Maaf aku tak bermaksud membentak mu. ", ucap Arin lirih bahunya bergetar menahan tangis.
" It's Oke! "
"Katakan ada apa? Apa yang membuatmu menangis?".
"Maaf jika pertanyaan ku tadi menyinggung perasaan mu. ", ucap Marchel yang masih memegang kedua pundak Arin. Seketika tangis Arin pecah.
" Hay! Ada apa? ", tanya Marchel bingung. Kemudian Marchel membawa Arin ke dalam pelukannya karena Arin tak kunjung membuka mulut. Tangis Arin semakin pecah di dalam pelukan Marchel. Pikiran Arin saat ini hanya ada Yoga, Yoga dan Yoga. Arin melepaskan diri dari pelukan marchel tepat saat pintu lift terbuka.
"Maaf aku harus segera pergi! ", ucap Arin yang langsung keluar dari lift.
" Tunggu Rin! ", Marchel mencoba untuk mengejar Arin.
" Arin tunggu ! ", Marchel berhasil meraih tangan Arin.
" Tolong biarkan saya pergi! "
"Saya harus segera bertemu dengan anak saya. ", ucap Arin yang membuat
Marchel terbengong saat mendengar kata anak. Arin segera melepas tangannya dan menuju jalan untuk mencari taksi. Tak butuh waktu Arin pun mendapatkan taksi.
" Arin tunggu! ", teriak Marchel saat menyadari jika Arin sudah berada di dalam taksi. Marchel mencoba mengejar Arin kembali tapi taksi itu suah melesat jauh.
" Anak! Dia bilang anak! ", gunam Marchel sambil memandangi taksi yang membawa Arin pergi.
" Enggak gue pasti salah dengar! "
"Arin gak mungkin punya anak. "
"Dia masih akan menikah dengan Wisnu! "
"Apa mungkin yang di maksud Arin itu anaknya dengan Wisnu! "
"Aaaa... Enggak! Ini gak mungkin! ", Marchel mengacak rambutnya dengan kasar.
Niat Marchel menemui Arin untuk menanyakan perasannya terhadap Wisnu. Jika Arin benar-benar mencintai Wisnu, maka Marchel akan berhenti untuk berharap, setelah melihat luka yang ada di bibir Wisnu. Namun Marchel menemukan kebenaran yang tak terduga.
__ADS_1