
Saat ini Wisnu mengantarkan arin menuju bandra.
Sebelum ke bandara arin minat Wisnu mengantarkan beli mainan untuk anaknya.
Wisnu tak hanya menuruti kemauan arin tapi juga membelikan banyak mainan untuk yoga. Jika arin tidak meyetopnya mungkin bisa satu toko ia beli.
"Pak sudah ini sudah banyak! Nanti saya gak bisa bawanya! ", kata arin.
" Hemmm... Tenang akan aku belikan koper agar mudah untuk kamu membawanya. ", jelas Wisnu meninggalkan arin di toko mainan.
Tak selang lama Wisnu datang dengan membawa koper yang cukup besar.
" Astaga pak? Buat apa ini koper gede banget? ", kata arin sambil menggeleng kan kepalanya.
Wisnu tak menghiraukan pertanyaan dari arin. Wisnu langsung menghampiri salah satu karyawan toko.
" Mbak tolong semua mainan nya di masukan dalam koper ini! ", Wisnu menyerahkan koper yang ia beli tadi.
" Baik Pak. "
Setelah membayar Wisnu dan arin bergegas untuk ke bandara.
"Nanti di kita ibuk saya akan buka toko mainan jika tau saya pulang bawa sekoper mainan. ", ucap arin saat di dalam mobil.
" Pasti anak mu akan senang! ", kata Wisnu.
" Ia pasti senang lah pak! Namanya juga anak kecil pasti girang banget dapat mainan. ", timpal arin.
" Anggap saja ini hadiah dari saya untuk yoga anak kamu! ", ucap Wisnu sambil menengok sekilas ke arin yang duduk di sampingnya.
" Heemm... Trimakasih! ", ucap arin yang tak mau ambil pusing , yang ada di pikiran nya hanya ingin segera memeluk anak laki-laki nya.
Saat tiba di bandara Wisnu memberikan amplop coklat ke tangan arin.
" Gunakan ini untuk menyewa pengacara terbaik di sana! "
"Agar urusanya cepat selesai. "
"Pastikan hak asuh yoga jatuh di tangan mu! ", kata Wisnu.
Hati arin terasa perih seperti teriris saat Wisnu mengatakan hak asuh anak. Padahal Wisnu hanyalah orang lain. Berbeda dengan ayah biologis nya yoga yang tak mau tau tentang kehidupan yoga.
Arin menggunakan kepalanya untuk mewakili jawaban nya.
" Aku pasti akan memperjuangkan hak asuh yoga . ", batin arin.
" Saya pergi dulu pak! "
"Terimakasih kasih sudah meluangkan waktu mengantarkan saya. ", setelah berpamitan arin menyeret kopernya. Baru satu langkah arin menoleh ke belakang dimana Wisnu masih berdiri.
" Jangan merindukan ku ya pak! ", kekeh arin dan segera melangkah menjauh dari Wisnu.
" Ckk... Ge er! Siapa juga yang akan rindu!", jawab Wisnu lirih.
__ADS_1
Arin tiba di bandara sore hari. Arin menggunakan travel untuk menuju kampungnya. Butuh waktu empat sampai lima untuk sampai rumah nya.
Arin sampai di rumah pukul sembilan malam. Arin menyeret kopernya memasuki halaman rumahnya. Rumah itu tampak sepi, padahal baru jam sembilan malam. Namanya juga di desa! , pasti berbeda dengan kota yang selalu ramai sampai tengah malam.
Tok...
Tok...
... Tok...
"Asalamualaikum bu.... Pak! "
... Tok..
Tok...
... Tok..
"Waalaikumsalam! " Terdengar suara laki-laki dari dalam rumah.
"Arin! ", sapa laki-laki paruh baya itu.
" Bapak! ", arin mencium tangan bapak nya.
" Dimana ibu pak? "
"Ibu sedang menidurkan anak mu! "
"Ayo masuk! Biar bapak bawakan! ", bapak arin mengambil alih koper yang arin bawa.
" Kenapa sih pak teriak-teriak! Yoga baru saja ti.... ", ucapan bu Rosa terhenti saat melihat putrinya berada di depan mata.
" Arin! ", bu Rosa langsung memeluk putrinya itu.
" Kenapa pulang gak kasih kabar ibu dulu? "
"Kan biar surprise! ", jawab arin sambil menampilkan senyum termanis nya.
" Yoga tidur ya buk? "
"Aku mau mencium anak ku! "
"Mandi dulu baru temui yoga! "
"Ibu akan buatkan teh hangat dulu . ", kata rosa yang menuju dapur.
Arin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu arin langsung menuju kamar dimana yoga sedang tidur dengan pulasnya.
" Sayang ibu kangen! ", ucap arin lirih supaya tidak mengganggu tidurnya.
Arin menciumi yoga dengan pelan dan lembut. Tiba-tiba arin teringat dengan kata -kata Wisnu, arin langsung mendekap tubuh gembul yoga.
" Yoga akan tetap tinggal dengan ku dan juga keluarga ku! ", batin arin sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
" Arin... Ayo makan dulu pasti kamu lapar! ", kata rosa mendekati arin.
" Ia bu! ", arin bangkit dari tempat tidur, sebelum beranjak arin menciumi yoga.
Arin makan dengan lahapnya. Karena masakan ibu nya sangat top mar kotop.
Arin juga menceritakan kepulangan nya. Jika dirinya akan mengurus surat perceraian. Tentu saja arin tidak cerita jika dirinya akan menikah kontrak dengan bosnya.
Mendengar penjelasan putrinya. Bu rosa setuju dan mendukung langkah arin.
Pagi yang cerah di desa arin. Kokokan ayam di pagi hari, kicauan burung di tambah udara segar di pagi hari, membuat hati damai.
"Bu pagi ini aku akan ke pengadilan agama untuk mendaftarkan perceraian ku! ", kata arin yang membantu ibu nya memasak.
" Ia... Ibu hanya bisa berdoa semoga lancar. Dan ini menjadi pertama dan yang terakhir buat kamu berurusan di kantor PA.", kata rosa.
"Ia bu! ", jawab arin.
" Ibu gak boleh tau jika aku akan menikah kontrak dengan pak Wisnu. ", batin arin.
Setelah selesai masak arin dan keluarga nya sarapan. Sedangkan yoga bocah kecil itu sedang asik bermain dengan mainan barunya.
" Kenapa beli mainan segitu banyak? ", tanya pak bambang.
" Kebetulan arin dapat bonus pak! , setiap dapat bonus arin belikan mainan, jadi numpuk deh. ", bohong arin.
" Lain kali jangan hambur-hamburkan uang . Jangan beli yang tidak perlu di beli. Karena tanggungan kita masih banyak! ", jelas bu rosa.
" Ia bu... Pak! ", jawab arin.
" Yoga sayang! Yoga suka gak sama mainan nya? ", tanya arin pada putranya itu.
" Cuka... Oga cuka anget. ", oceh yoga yang masih cadel saat bicara itu.
" Kalau begitu yoga harus jadi anak yang patuh , gak boleh bandel! Oke? "
"Nanti ibu akan belikan mainan lagi. ", kata arin sambil memangku yoga.
" Oke ibuk! ", kata yoga dan mencium pipi arin.
Sebelum berangkat ke kantor PA, arin mengajak yoga bermain main terlebih dulu. Karena waktu liburnya tinggal dua hari lagi.
Tak jarang arin menggoda anaknya hingga nangis. Yoga pun tak luput dari tingkah lucunya yang membuat arin tertawa.
Kesempatan libur yang di berikan oleh Wisnu itu, di manfaatkan dengan baik oleh arin. Tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Arin mempunyai ide untuk mengajak yoga pergi ke taman bermain , setelah urusan di kantor PA selesai.
Arin memasuki ruang pendaftaran di kantor PA , di temani oleh pengacara yang ia sewa.
Arin berulang kali menghirup udara dalam-dalam dan membuang nafas kasarnya untuk mengurangi rasa gugup di hatinya.
Setelah mendaftarkan diri kemudian arin di interogasi oleh petugas PA.
Arin memberikan pengakuan dengan jelas dan yakin.
__ADS_1
Setelah itu arin menyerahkan semua ke pada pengacaranya.