
"Loh Sus, pasien atas nama Yoga kemana? ", tanya Arin yang panik saat tiba di ruangan dahlia. Arin tidak menemukan ibu serta anaknya.
" Oh... Adik Yoga baru di pindahkan ke ruangan VIP mbak. ", jelas suster yang berjaga.
" VIP Sus? ", tanya Arin sambil menoleh Wisnu , Wisnu mengangkat kedua bahunya tanda dirinya juga tidak tau.
"Siapa yang memindahkan Sus? "
"Saya tidak merasa memindahkan anak saya ke rungan VIP! ", ujar Arin yang bingung.
" Tadi ada seseorang yang menyuruh kami untuk memindahkan adik Yoga. "
"Tapi orang itu tidak menyebutkan namanya mbak! "
"Hanya bilang jika beliau kerabat dari keluarga pasien. ", jelas suster.
" Apa dia ... ", Arin menyebutkan ciri-ciri mantan suami nya.
" Bukan mbak! "
" Orangnya tinggi putih dan memakai jaket jins. , ucap suster.
" Kalau ciri-ciri wajahnya seperti apa ya Sus? ", tanya Arin yang masih penasaran.
" Wah.. Kalau wajahnya saya kurang tau mbak, soalnya beliau memakai masker. ", jawab suster.
" Apa kami bisa lihat CCTV di rumah sakit ini Sus? ", kali ini Wisnu ikut bertanya.
" Silahkan !, saya anata ke rungan monitor. ", ucap suster.
Arin dan Wisnu berjalan mengikuti langkah sangat suster.
" Benar bukan bapak yang lakuin ini semua? ", tanya Arin.
" Bukan! "
"Awalnya sih iya, tapi aku belum sempat lapor ke suster. "
"Pengen nya nanti setelah ketemu kamu, baru memindahkan Yoga . "
"Eh... Tau - tau sudah ada yang ambil strat duluan. ", jelas Wisnu.
" Jadi penasaran saya! ", ucap Arin yang sudah berada di depan ruangan monitor.
" Silahkan masuk! "
"Saya permisi dulu! ", setelah mempersilahkan masih suster pun berpamitan.
Kini Arin dan Wisnu sedang mengecek siapa pelaku pemindahan kamar Yoga.
Wisnu dengan jeli mengamati rekaman CCTV rumah sakit. Tepat di pukul sebelas lewat dua puluh menit, ada seorang laki-laki yang mengenakan jaket jins dan juga mengenakan masker.
"Itu bukan ? ", tanya Arin sambil menunjukkan layar monitor komputer.
" Seperti gak asing! ", gunam Wisnu lirih.
" Pak Wisnu kenal? ", tanya Arin.
" Marchel! ", ucap Wisnu yang masih fokus melihat gerak-gerik orang misterius itu.
" Maksud bapak? ", tanya Arin lagi.
" Ciri-ciri orang itu mirip dengan Marcel! "
"Tapi gak mungkin dia ada di sini! "
__ADS_1
"Coba kamu lihat! Kamu kenal gak? ", tanya Wisnu, Arin pun menggeleng karena Arin juga merasa asing dengan orang misterius itu
" Mas, terimakasih ya! ", ucap Wisnu sambil menjabat tangan penjaga ruang monitor.
" Pak ini? "
"Itu mas! "
"Maaf sudah menggangu pekerjaan anda! ", sahut Wisnu.
" Makasih banyak ya pak! ", ucapnya sambil tersenyum ,dan langsung menyimpan satu lembar uang kertas warna merah yang Wisnu berikan.
Sepanjang jalan menuju ruang VIP Arin tetap kepikiran dengan laki-laki itu. Sampai mengabaikan Wisnu yang berjalan di sampingnya.
" Ibu! ", sapa Arin saat masuk ruangan VIP rumah sakit.
" Tadi ibu mau cari kamu! tapi Yoga kebangun. Baru saja tertidur lagi. ", jelas ibu Arin.
" Makasih ya nak Wisnu! "
"Seharusnya tidak usah di pindah ke rungan VIP. ", ucap Ibu Arin lagi.
" Hemm... Iya bu gak papa! "
"Agar Yoga mendapat penanganan yang tepat dan supaya lekas membaik bu! ", sahut Wisnu yang garuk-garuk rambut.
" Ini pak kopinya! ", Arin menyodorkan kopi ke Wisnu.
" Oh..iya sampai lupa! ", Wisnu meraih cup berisi kopi dari tangan Arin.
" Rin, bu mau ke mushola dulu ya? ", pamit ibu Arin.
" Sholat di sini aja lah buk! ", sahut Arin.
" Sekalian ibu mau cari angin segar di luar sebenar. ", ucap ibu Arin yang sudah ada di ambang pintu untuk keluar.
Tak menunggu lama mencomot satu potong kue coklat yang bertoping keju parut . Karena potongan kue yang pas satu suap, Wisnu langsung memasukan semua ke mulut .
" Awu..! ", ucap Wisnu sambil menyentuh bibirnya yang ada bekas gigitan drakula.
Arin langsung menoleh, " Masih sakit ya pak? ", tanya Arin yang melihat Wisnu menyentuh bibirnya sendri.
" Masih lah! "
"Gara-gara kamu ini! "
"Tadi sampai di tanya sama klayen! ", ucap Wisnu yang menyandarkan kepala di punggung sofa.
" Di tanya apa? ", tanya Arin .
" Ya di tanya itu bibir kenapa? "
"Di kira aku baru kecelakaan . "
"Mana ada kecelakaan lukanya hanya di bibir saja! ", jawab Wisnu sambil memejamkan mata.
" Hahaha.... Salah sendiri! "
"Makanya jangan suka nyosor! ", ucap Arin sambil menekan bekas luka di bibir Wisnu dengan jari telunjuknya.
" Awu... Sakit Rin! ", rintih Wisnu langsung membuka matanya.
" Sini biar aku beri salep, biar gak sakit lagi! ", ucap Arin yang bangkit dari duduknya untuk mengambil salep di tasnya.
" Sini! ", Arin mengulurkan jarinya yang sudah ada salep nya.
__ADS_1
" Enggak mau! ", Wisnu membuang wajahnya.
" Jangan manja deh! ", ucap Arin.
" Enggak mau! ", ucap Wisnu.
" Sini gak? ", Arin menarik lengan Wisnu dengan kasar. Karena kaget Wisnu pun langsung menoleh.
Serrrr...
Secepat kilat Arin mengoleskan salep ke bibir Wisnu.
" Udah! ", ucap Arin sambil mengambil satu lembar tisu.
" Salep apaan ini? "
"Kok baunya kaya permen? ", Wisnu menjilat sedikit bibirnya .
" Itu salep yang berbahan dasar madu, jadi aromanya seperti permen. ", jelas Arin yang selalu membawa benda kecil itu.
" Ohh..! ", Wisnu hanya ber oh riya.
Ke esok hari nya dengan di temani Wisnu, Arin mendatangi kantor Pengadilan Agama. Raut wajah Arin terlihat begitu cemas. Cemas jika ancaman akan ancaman dari mantan suaminya. Saat tiba di kantor pengadilan agama, Arin sudah di tunggu oleh pengacaranya. Satu jam sudah Arin berada di kantor pengadilan agama. Arin keluar dari kantor PA dengan menenteng map yang berisi akta cerai.
Arin bernafas lega sebab hak asuh Yoga jatuh ke tangannya.
"Kita langsung ke rumah sakit ya pak! ", ucap Arin yang sedang mengenakan helem. Iya helem, karena Arin dan Wisnu ke kantor PA menggunakan sepeda motor milik Arin yang ada di kampungnya.
" Heemmm... Cari makan dulu gimana pak? ", tanya Arin.
" Mau makan apa? ", tanya Wisnu.
" Saya pingin makan mie deh ! ", jawab Arin.
" Ya udah kita cari kedai mie nya! ", sahut Wisnu.
Wisnu mengendari motor dengan kecepatan 40km/jam , kecepatan yang sedang. Kini mereka sudah tiba di sebuah kedai mie setan .
" Ini kenapa menunya horor semua? ", tanya Wisnu yang membaca buku menu.
" Itu cuma nama saja! ", jawab Arin yang sudah menentukan pilihannya.
" Aku samain aja dengan punya mu! ", ujar Wisnu.
" Oke, ! "
"Mbak pesan mie yang level 4 , dua! "
"Minumnya es buto ijo dan es pocong ya mbak! ", ucap Arin.
" Makan pak! ", ucap Arin saat Wisnu hanya memperhatikan model mie yang ada di depannya.
" Katanya mie setan! "
"Lalu mana setannya? ", tanya Wisnu.
" Allahuakbar pak! "
"Itu hanya istilah saja, kalau setannya ya gak ada lah! "
"Nih, setannya ada di sini! ", Arin menyuapkan satu sendok mie ke mulut Wisnu.
" Hemmm.... Enak! ", ucap Wisnu pada suapan pertama. Namun lama-lama pedas mie itu semakin terasa.
" Haaaahh.... Kok jadi pedas kaya gini sih? ", Wisnu menyeruput es pocong miliknya.
__ADS_1
" Tapi enak kan? ", tanya Arin yang santai menikmati mie nya.
" Kamu makan saja sendri, aku gak kuat dengan pedasnya. ", ucap Wisnu yang sudah bercucuran keringat.