
Arin memilih berbohong kepada ibunya tujuannya suatu saat nanti akan pulang untuk menemui anaknya.
Arin menutup telfonnya saat pintu kamarnya di ketuk.
Tok. Tok. Tok
Arin bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamarnya
"Ada apa pak? ", tanya arin .
" Apa baju Riyan masih ada yang tertinggal di sini? Aku gerah mau mandi! ", kata Wisnu sambil berjalan menuju kamar Riyan dulu.
" Coba saya carikan dulu sepertinya ada! ", kata arin yang mengekor Wisnu.
" Aku akan mandi dulu nanti kalau sudah ketemu bajunya kamu taroh di atas kasur saja! ", kata Wisnu saat melihat arin yang memilah milah baju.
" Siap boskuh! ", kata arin yang langsung menuju almari.
" Pak! Bajunya saya taroh di atas tempat tidur! Saya mau mau keluar! ", kata arin dari depan pintu kamar mandi.
" Ambilkan aku handuk! Aku kelupaan tadi ", jawab Wisnu dari dalam.
Tanpa menjawab arin mengambilkan handuk.
" Pak ini handuknya! ", arin mengetok pintu kamar mandi.
" Aaaa.... Kenapa di buka lebar-lebar sih pak pintunya? Ini nih... Ambil handuknya! ", arin berteriak kaget saat Wisnu membuka pintu seketika arin membalikan badan tangannya terulur kebelakang untuk memberikan handuk.
__ADS_1
" Apa sih teriak-teriak! Orang juga masih pake boxer juga ", kata Wisnu dengan santai nya dan mengambil handuk dari tangan arin.
" Kalau tidak ada yang di permukaan lagi saya permisi! ", kata arin langsung berlari keluar kamar.
" Katanya janda! Bukannya malah senang lihat yang seger-seger kaya gini? ", kata Wisnu sambil tersenyum.
" Pak! Pesenan nya sudah datang ", arin berbicara di depan pintu kamar.
" Kamu bayar saja! Ambil uang di Dompetku! ", jawab Wisnu yang baru keluar dari kamar mandi.
"Dompet!", batin arin
" Dimana dompetnya pak? ", tanya arin.
"Di meja depan TV! ", jawab Wisnu.
Arin bergegas menuju ruang televisi keningnya mengkerut saat melihat sebuah foto di dalam dompet Wisnu.
" Pak! ", kata arin
" Hemmm! ", jawab Wisnu yang fokus dengan makanan nya.
" Trimakasih ya pak sudah nolongin saya! "
"Saya akan melakukan apa saja untuk membalas kebaikan bapak ", kata arin.
" Cekk... "
__ADS_1
"Kamu yakin dengan omongan kamu itu? "Tanya Wisnu.
Arin mengangguk mantap.
" Besok kamu datang ke kantor ! ", kata Wisnu dan langsung berdiri meninggalkan meja makan. Saat akan melangkah arin juga ikut berdiri sehingga membuat mereka bertabrakan dengan sigap Wisnu menahan tubuh arin agar tidak jatuh.
Cup
Tanpa sengaja kedua bibir mereka bertemu. Keduanya terdiam sejenak dengan posisi bibir setia menempel, mereka saling pandang . Entah apa yang ada di pikiran Wisnu, lama saling menatap Wisnu tiba-tiba ******* bibir arin dengan sedikit kasar.
Arin membulatkan matanya saat mendapatkan serangan dari Wisnu. Arin mencoba mendorong Wisnu agar melepaskan tautan bibirnya. Dengan cepat Wisnu menekan tengkuk arin.
Merasa arin akan menghindar Wisnu memperdalam ciumannya dengan menggigit bagian bawah bibir arin , arin yang kaget dengan reflek membuka bibirnya dan itu mempermudah Wisnu untuk menelusuri rongga mulut arin. Wisnu tersadar dan menyudahi kegiatannya saat arin tak kunjung membalas ciumannya .
Arin langsung mendorong tubuh Wisnu dan berlari masuk ke kamar, arin takut jika Wisnu akan berbuat yang lebih lagi.
Wisnu mengumpat dirinya sendiri saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Haisss... Kenapa aku malah tergoda dengan bibirnya sih? "
"Sial... Mana manis lagi, semanis madu. kalau jadi ketagihan gimana coba? ", Wisnu mengusap wajahnya berulang kali.
"Pasti ini efek kelamaan sendiri! ", wisnu memandang lurus kedepan teringat masa lalunya dengan sifa kekasihnya. Teringat akan masa lalunya membuat Wisnu mengepal kan tangannya.
Sedangkan arin dilanda rasa takut, takut jika Wisnu akan melakukan hal yang lebih gila. Arin mengunci kamarnya dan menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur. Arin memegangi dadanya yang masih berdebar, dengan tangan satunya menyentuh bibirnya yang terasa perih.
"Hisss... Perih! ", gunam arin dan mengambil cermin di atas naks.
__ADS_1
" Panatas saja perih sampai kaya gini! ", gunam arin saat melihat bibir nya sedikit berdarah.
" Dasar bos mesum! Nyium gak pake kira-kira, ini rasanya lebih dari sariawan ", gerutu arin.