
Arin memegang lengan Wisnu dengan erat. Wisnu tau jika pacar kontrak nya itu sedang ketakutan, kemudian Wisnu merangkul Arin dan di ajak bergabung dengan mereka.
Marchel tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Marchel terlihat acuh, ia memperhatikan Arin dan Papi nya secara diam-diam.
Kenapa Arin terlihat takut sekali? Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Marchel.
Arin tak berniat melepas genggaman tangannya, sehingga Wisnu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Arin.
"Tante dengar kalian akan segera menikah, kapan? " Ucap Sofi di sela makannya.
"Sebentar lagi tan" Sahut Wisnu , tante Sofi pun menganggukkan kepalanya.
Karena tangan kanan Arin masih menggenggam tangan kiri Wisnu, sehingga Wisnu lah yang mengambilkan makanan untuk Arin.
"Segini cukup! " Tanya Wisnu lirih , Arin pun mengangguk pelan.
"Kenapa belum ada persiapan jika akan menikah dalam waktu dekat ? Tanya Sofi, " Apa perlu bantuan tante? " Lanjutnya.
"Gak perlu tan, nanti akad nya di kampung Arin " Jelas Wisnu.
"Eyang dan tante mu akan menyiapkan resepsi di sini " Timpal Mariyam.
"Tak perlu eyang! Yang terpenting akad nya saja" Ucap Wisnu.
"Apa kata orang-orang nanti! Apa kau kekurangan uang? Sehingga tidak bisa membuat acara resepsi? eyang akan menanggung semua biayanya jika kau tak mampu membuat acara resepsi!" Cerocos Mariyam.
"Bukan begitu eyang! Aku masih di sibukkan dengan proyek baru ku. Nanti setelah proyek itu selesai baru menggelar pesta pernikahan " Jelas Wisnu yang sedikit berbohong. Karena Wisnu ingin merahasiakan pernikahannya dengan Arin. Tapi tentang proyek itu Wisnu tak bohong.
"Terserah kau saja lah " Ucap Mariyam.
"Kenapa gak di makan Rin? " Tanya Mariyam yang melihat Arin hanya diam saja.
Bagaimana mau makan? Tangan kanannya saja masih memegang tangan kiri Wisnu.
"Kenapa gak di makan? " Tanya Wisnu yang menoleh ke Arin.
Arin melirik ke bawah , Wisnu pun mengikuti lirikan Arin.
"Lepas dulu biar kamu bisa makan " Bisikan Wisnu, Arin menggeleng pelan.
"Gak papa! Ada aku di sini " Ucap Wisnu sambil melepas tangan Arin.
Sedangkan Aji hanya menyimak obrolan merka sambil memperhatikan anak laki-laki nya dan juga Arin.
__ADS_1
Jadi benar yang di maksud Marchel, Arin yang ini? Oh ya Tuhan kenapa anak ku bisa kepincut dengan janda bolong sih! Apa istimewanya dari wanita ini. Tapi bagus lah jika Marchel menyukai wanita itu, jadi aku bisa memanfaatkan nya nanti. Lihat saja kau Wisnu! Akan aku buat hancur hidup mu. Batin Aji.
Sedangkan Marchel tidak melihat ada tanda-tanda yang aneh di dalam diri Papinya.
Tapi, kenapa pipi biasa saja? Seolah Papi gak kenal sama Arin. Batin Marchel yang masih mempunyai prasangka buruk terhadap Arin.
"Mas aku mau ke toilet sebentar " Ucap Arin yang mendapat anggukan dari Wisnu.
"Mau kemana Rin? " Tanya Mariyam saat melihat Arin beranjak dari kursi.
"Mau ke toilet eyang" Jawab Arin.
Semua orang menoleh ke Marchel , karena ponselnya berdering.
"Angkat dulu Chel siapa tau penting! " Ucap Sofi.
"Iya Mi" Marchel meninggalkan meja makan untuk mengangkat telfon.
Ini kesempatan ku untuk menemui Arin. Aku akan desak dia untuk bicara yang sebenarnya. Batin Marchel.
Marchel sengaja menunggu Arin, saat yang di tunggu keluar dari toilet dengan cepat Marchel menarik lengan Arin.
"Marchel! " Pekik Arin.
"Mau ngapain sih? " Tanya Arin setengah berbisik.
"Diem dan ikut gue! " Marchel membawa Arin keluar dari restoran.
"Lepas! " Arin menepis tangan Marchel.
"Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan papi ku? Kenapa kamu terlihat sangat takut dengan papi ku? " Marchel sudah tak sabar lagi ingin mengetahui kebenarannya.
"Aku sudah bilang kan! Jika aku tak mempunyai hubungan apa pun dengan Papi mu itu" Jelas Arin.
"Jangan bohong lagi! Apa anak kecil itu anak mu dengan Papi ku? "
"Anak kecil? " Ucap Arin.
"Iya, anak kecil yang ada di rumah sakit waktu itu " Sahut Marchel.
"Tau dari mana kamu? Atau kamu yang memindahkan kamar perawatan anak ku? " Arin menatap Marchel.
"Iya, karena aku penasaran saat kamu menyebutkan kata anak ku " Ucap Marchel.
__ADS_1
"Aku akan mengganti uang mu! " Ucap Arin.
"Tak perlu! Jika itu benar anak mu dengan Papi ku, maka dia adalah adik ku bukan" Ucap Marchel.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku dan Papi mu tak ada hubungan apapun. Dan, anak itu murni anak kandung ku dengan mantan suami ku. Asal kamu tau ya Marchel, mantan suami ku itu bukanlah Papi mu. Kau salah paham! " Jelas Arin dengan emosi karena Marchel tetap menuduh Arin yang bukan-bukan.
"Bohong! " Ucap Marchel setengah berteriak.
"Arin benar! Dia mengatakan yang sebenarnya " Ucap Wisnu dari kejauhan.
"Kamu mau tau yang sebenarnya terjadi? " Tanya Wisnu yang mendekati Marchel.
Marchel tak menjawab ia hanya menatap Wisnu dan Arin secara bergantian.
"Asal kamu tau Chel! Papi mu itu memiliki usaha perdagangan manusia" Wisnu mulai menjelaskan kepada Marchel.
Marchel menggeleng dengan cepat, "gak mungkin bang! Abang pasti bohong kan? "
"Itulah kenyatannya! Papi mu menutupi usahanya itu dengan berkedok sebuah PT. Tenaga Kerja Wanita. Dan, Arin salah satu orang yang bisa meloloskan diri dari tempat itu. Jadi wajar saja dia ketakutan saat melihat Papi mu " Jelas Wisnu.
"Aku gak percaya dengan ucapan mu bang " Ujar Marchel.
"Terserah! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya kepada mu. Jika kau mau tau tempat itu, aku bisa mengantarkan mu ke sana! " Ucap Wisnu.
Marchel menjatuhkan bokongnya di kursi taman. pandangannya kosong, ia masih tak percaya dengan penjelasan Wisnu.
"Kenapa abang gak kasih tau Mami atat eyang jika Papi mempunyai bisnis gelap? " Tanya Marchel setelah lama terdiam.
"Aku gak mau membuat hubungan mami dan Papi mu hancur. Aku ingin tante Sofi mengetahuinya sendri, begitupun dengan eyang" Jawab Wisnu.
"Maafkan aku Rin! Aku telah menuduh mu yang tidak-tidak" Marchel menatap Arin.
Arin mengangguk pelan, "aku juga minta maaf telah membuat mu salah paham" Ucap Arin.
"Makanya cari tau dulu kebenarannya, Sekarang kamu sudah tau kan alsan kenapa Arin sangat takut dengan om Aji? Aku sudah mengirimkan alamat itu ke ponsel mu, kau bisa buktikan sendri " Wisnu menepuk bahu adik sepupunya itu.
"Ternyata kalian di sini? "
Sura itu mampu membuat ketiga orang itu menoleh ke sumber sura.
Mohon dukungannya ya untuk author, beri hadiah dan juga vote biar author semangat nulis 🤭
Jangan lupa like , komen
__ADS_1
Favoritkan juga agar kalian tidak ketinggalan bab selanjutnya. Thanks for reading, see you in the next chapter😉