
Di rumah marchel
Setibanya di rumah marchel langsung menuju kamarnya. Ia tak menghiraukan panggilan dari orangtuanya.
"Marchel kamu baru pulang? ", tanya sofi.
Tapi tak di jawab oleh marchel.
" Lihat pi anak mu itu! Di tanya bukanya jawab malah nyelonong pergi aja! ", kata sofi yang mengadu pada suaminya.
" Dia juga anak mu mi! ", jawab aji sambil terkekeh.
" Biarkan dia membersihkan diri nya terlebih dahulu, baru nanti terserah mami mau tanya apa saja! ", kata aji.
" Mi... Mami udah bujuk mama belum?, untuk menjodohkan Wisnu dengan anaknya daren? ", tanya aji.
" Udah pi! Tapi mama tetep kekeh gak akan mau menjodohkan Wisnu! "
"Lagi pula kenapa sih pi! Papi ngotot banget mau jodohin Wisnu dengan anaknya daren teman papi itu? ", tanya sofi penasaran.
" Ya papi gak mau Wisnu salah pilih mi! Lagi pula Wisnu kan juga keponakan ku! Jadi wajar dong aku sebagai om membantu dia dalam masalah jodoh! ", alibi aji, tentu aji tidak ingin istrinya tau apa tujuan sebenarnya .
Obrolan sepasang suami-istri itu terhenti saat ada sura orang sedang menuruni anak tangga dan memangil manggil art nya.
" Bik... Bibik! ", seru marchel dari tangga.
" Marchel! Ini bukan lapangan bola! Kenapa teriak-terik sih? ", ucap sofi yang melihat ke arah tangga.
Achew... Achew... Aa achew..
" Astaga kamu kenapa cel? ", tanya sofi berdiri dari duduknya dan menghampiri anaknya.
Achew... Achew
Marchel terus bersin - bersin
" Mi ... Tolong buatin marchel teh panas atau apa lah! Achew... Achew.. ", kata marchel yang tak berhenti bersin.
" Kamu tunggu disini biar mami buatkan! ", kata sofi dan berlalu pergi ke dapur.
" Kenapa bisa seperti ini boy? ", tanya aji saat marchel duduk di sebelah nya.
" Kehujanan pi! ", jawab marchel singkat.
" Kehujanan? ", ulang aji dengan mencincingkan sebelah matanya.
" Bukannya kamu naik mobil? Kenapa bisa sampai kehujanan? ", tanya aji.
" Hemm... Itu pi nolong orang lagi jatuh! ", bohong marchel.
__ADS_1
" Kamu ini! ", kata aji sambil menggelengkan kepalanya.
" Ini minum dulu! ", kata sofi menyodorkan gelas berisi wedang jahe.
" Mami buatin wedang jahe biar badan kamu angetan! ", imbuh sofi.
" Makasih mi! ", ucap marchel, kemudian menyeruput wedang jahe buatan maminya itu.
Setelah menghabiskan wedang jahe marchel pamit ke kamarnya untuk istirahat.
" Mi... Pi... Marchel istirahat dulu ya? ", pamit marchel.
Sofi dan aji mengangguk, menatap punggung anak laki-laki nya yang berjalan menuju kamar.
Di rumah utama
Setelah selesai membuat coklat panas, Wisnu membawa dua gelas berisi coklat panas ke atas. Wisnu tampak berpikir sejenak, sebelum menuju kamar arin.
" Di tunggu di sini atau di kamarnya ya? "
"Kalau gw tunggu di sini yang ada dia gak akan keluar! ", gunam Wisnu.
Akhirnya Wisnu memutuskan untuk menunggu arin di dalam kamarnya.
Wisnu perlahan membuka pintu kamar arin. Wisnu melihat ke dalam kamar tampak sepi seperti tidak ada orang nya. Mengetahui jika arin masih di dalam kamar mandi, perlahan Wisnu masuk. Matanya menyapu setiap ruangan yang tertata rapi. Kemudian Wisnu meletakan gelas di atas meja kecil di sebelah sofa, lalu Wisnu menjatuhkan bokongnya di sofa itu. Tak lama duduk Wisnu mengubah posisi nya kini Wisnu merebahkan tubuhnya dan tangannya memainkan ponsel yang berlogo apel yang di gigit.
arin menyudahi aktifitas berendam dengan air hangat nya karen merasa perutnya lapar.
Arin segera turun dari beattup dan mengambil jubah mandinya. Arin menggulung rambut basahnya dengan handuk .
Arin membuka pintu kamar mandi dengan tangannya sibuk merapikna tali jubah mandinya, tentu saja posisi arin sedang menunduk.
Wisnu menoleh saat suara pintu terbuka. Wisnu tak berkedip melihat arin yang keluar dari kamar mandi.
Dengan susah Wisnu menelan salvianya. Karena jubah mandi yang arin pake panjang nya hanya di atas lutut. Sehingga membuat pikiran Wisnu trefeling ke mana-mana. Karena dalam keseharian nya arin selalu menggunakan celana panjang di padukan dengan kaos lengan panjang juga. Pokoknya menutup aurat lah.
"Ngapain bapak di sini? ", pekir arin saat matanya menangkap keberadaan Wisnu yang terbaring di sofa dengan tatapan yang tidak berkedip.
Arin reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
" Ya nungguin kamu lah! Mau apa lagi! ", jawab Wisnu sambil mengalihkan pandangannya ke ponsel yang ia pegang.
" Bapak kan bisa tunggu di luar? Saya mau ganti baju! Sebaiknya bapak keluar! ", usir arin.
" Cckk... Tinggal ganti saja! Ganti di dalam kamar mandi juga bisa kan! ", kata Wisnu yang ogah beranjak dari sofa.
" Tapi saya mau ambil baju ganti di lemari itu! ", tunjuk arin pada sebuah lemari yang di dekat sofa.
Wisnu mengikuti arah yang di tunjuk arin .
__ADS_1
" Ambil ya ambil aja apa susahnya sih! ", kata Wisnu .
Arin menghentak-hentakan kakinya karena kesal dengan jawaban Wisnu.
" Katanya mau ganti! Kenapa masih berdiri di situ? ", kata Wisnu dengan melirik arin sekilas.
Arin berjalan menuju lemari dengan tangan nya menarik ujuk jubah mandi itu ke bawah.
Setelah mendapatkan baju yang ia pilih arin segera berlari ke kamar mandi.
Wisnu menahan senyum nya saat melihat arin secepat kilat berlari ke kamar mandi.
Setelah selesai ganti baju arin langsung keluar, dan menuju meja rias untuk mengoleskan cream malam.
"Aku buatin coklat panas! Minum lah keburu dingin! ", kata Wisnu yang melihat arin sengaja berlama - lama di meja riyas.
Arin bangkit dari duduknya dan menuju sofa di mana Wisnu sedang berada.
Wisnu mendudukan tubuhnya saat arin mendekat.
" Duduk sini! ", tangan Wisnu menepuk bangku sebelah nya.
" Minum! ", Wisnu mengulurkan gelas berisi coklat panas buatannya.
" Terimakasih! ", ucap arin. Kemudian menyeruput nya.
" Dari mana saja tadi! ", tanya Wisnu memecah keheningan.
Arin menoleh Wisnu kemudian kembali menikmati coklat panas yang sudah menjadi hangat itu.
" Gak kemana - mana! ", jawab arin.
" Kenapa baru pulang? ", tanya Wisnu.
" Aku hanya pergi ke masjid yang ada di dekat lampu merah, lampu merah yang sebelum kantor kamu. ", jawab arin.
" Kenapa pulang Hujan-hujan ? "
"Kenapa gak telfon aku atau Riyan untuk jemput? "
"Di telfon juga gak bisa? ", cecar Wisnu.
" HP ku lobet! ", jawab arin.
" Kamu marah dengan ucapan ku yang tadi siang? ", Wisnu memegang kedua bahu arin. Kini posisi mereka berhadapan.
Deg
Jantung arin seakan berhenti berdetak saat melihat mata Wisnu. Tatapan mata Wisnu yang susah di artikan .
__ADS_1
Arin membuang wajahnya ke samping untuk mengurangi rasa gugup nya. dengan mulut yang terkunci rapat.