Terlambat jatuh cinta

Terlambat jatuh cinta
Bertemu Iren


__ADS_3

Seperti kata Mas Rizal, sore ini kami berjalan-jalan, memasuki pusat perbelanjaan untuk mencari perlengkapan bayi. Oma yang begitu antusias tak dapat menahan senyumnya sepanjang perjalanan.


Tak menunggu lama lagi, kami segera memasuki toko perlengkapan bayi, hal pertama yang di lihat oma adalah tempat tidur bayi,


Oma:"Sayang, oma pengen deh belikan cicit oma box bayi yang warna pink,"


Rizal:"Oma,,anak Zal pasti laki-laki, jadi belinya yang biru aja ya.."


Oma:"Cewek itu mah cucu oma.."


Hana:"Ya udah, jangan berebut, gimana kalau kita pilih warna yang netral aja ya..gimana kalau kita ambil yang warna merah, menurut ima gimana?"


Oma:"Iya sih ya, ya sudah kita ambil yang merah saja."


Rizal:"Iya, kita juga belum tau kan jenis kelamin bayinya. Ayo sayang, kita kesana cari baju dan bedong bayi."


Aku mengangguk setuju dan menggandeng tangan oma. Kami memilah-milah mana pakaian yang nyaman di gunakan bayi. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk bayi kami, bukan juga mau memberikan yang mahal, mahal tapi tak nyaman di pakai kan sama juga bohong.


Kami bercengkrama sambil memilih-milih, mulai dari tempat tidur, bedong, pakaian, alat mandi, bedak , minyak wangi dan lainnya. Bahkan mas Surya ingin membelikan anak kami mobil-mobilan. Aku hanya dapat tertawa dengan oma, bayangkan saja, anak nya saja belum lahir, tapi dia sudah antusias sekali ingin memberikan mainan untuk anak nya.

__ADS_1


Setelah puas berbelanja perlengkapan bayi, kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan ini.


Belum masuk ke dalam restoran, sepertinya aku melihat orang yang aku kenal di kejauhan. Aku melihat Iren sedang berjalan membawa beberapa kantung belanjaan. Sepertinya dia sendiri.


Hana:"Mas, Oma, Kalian masuk dulu ya, Hana mau kesana sebentar, sepertinya Hana liat temen Hana."


Rizal:"Mas temenin kamu ya."


Hana:"Gak usah mas, Hana sendiri aja."


Rizal:"Ya udah hati-hati. Ya udah yuk oma, kita cari tempat duduk."


Aku berjalan menuju ke tempat Iren sedang berhenti, sepertinya dia sedang menerima panggilan,


Iren:"Hana...Kabar baik, kamu gimana kabarnya? wah...sudah berapa bulan?"


Hana:"Alhamdulillah mbak sehat dan ini sudah berjalan 7 bulan."


Iren:"Selamat ya Hana..."

__ADS_1


Hana:"Iya mbak,, sepertinya mbak juga udah isi ya?"


Iren tersenyum kearah ku,


Iren:"Iya Hana, Alhamdulillah sekali berkat saran kamu untuk selalu berdoa pada Allah dan berusaha akhirnya Allah mengabulkan doa kami."


Hana:"Sekarang sudah berapa bulan Mbak?"


Iren:"Sudah masuk 3 bulan Hana.."


Hana:"Alhamdulillah...Hana senang dengernya mbak, oh iya, tapi kenapa keliatannya mbak pucet, mbak sakit?"


Iren:"oh, eh..enggak, mungkin cuma kurang darah aja kali,kan biasa itu untuk ibu hamil." Iren tersenyum padaku, "Pasti seneng ya sebentar lagi kamu jadi ibu dan bisa liat anak kamu."


Hana:"Mbak bisa aja, mbak kan juga sama mbak,"


Ku lihat dia tersenyum, tapi ada semburat kesedihan di matanya. Aku tidak berani bertanya lebih jauh ketima suami ku datang menjemputku.


Hana:"Mbak, lain kali kita ngobrol ya, soalnya aku lagi bareng Oma."

__ADS_1


Iren:"Iya Hana, nanti aku hubungi ya kalau aku mau ke cafe."


Dah....Kami sama-sama melambaikan tangan, aku kembali bersama dengan mas Rizal ke tempat dimana Oma duduk. Dan kami menikmati makan malam kami bertiga.


__ADS_2