
Saahhh??
Saaaaahhhh....jawab para saksi serta tamu undangan,, aku menangis melihatnya mengenakan kebaya putih tulang yang sudah sah menjadi seorang isteri Retno Wijaya. Doaku semoga dia selalu bahagia. Mas Eko yang melihat ku lantas mengusap air mataku,
Eko:" Jangan menangis, dia udah jadi milik suaminya,,"
Lida:" Iya mas,, Lida tau, Lida cuma ngingat kenangan kami bersama,.."
Eko:" nanti bisa sering-sering ketemu kok,"
Lida:" Insyaallah mas..."
Cantik sekali, kami para Kece memandang sahabat kami dengan tatapan kagum, dia yang selalu keras kepala, dia yang selalu menjadi dewasa dari kami, dia yang selalu mengayomi, sosok sahabat seperti dia hanya ada dia, gak ada yang lain. Betapa aku akan selalu merindukan Mada nantinya.
Memang gak cuma Mada yang pergi jauh, bang Hen akan ke Medan karena dapat panggilan kerja di perusahaan komunikasi,
Uzi juga akan pulang kampung ke Tapanuli Selatan untuk mengambil alih perusahaan yang di berikan oleh ayah nya, tapi kan kedekatan aku dengan mereka kan terbtas, gak seperti kedekatan ku dengan Mada.
Setelah acara ijab qabul, kami melakukan foto bareng, berbagai macam gaya kami lakukan, setiap ada yang menikah gak ada yang gak hadir, pasti semua hadir..
............
Eko:" Besok kita pindah kerumah mas ya sayang..."
Lida:" Ke rumah Bunda?"
Eko:" Enggak, kerumah kita.."
Lida:" Mas punya rumah?"
Eko:" punya, mas beli sebelum bangkrut.."
Lida:" Sabar ya mas, ini ujian untuk kita,, jangan bersedih, nanti di usahakan lagi,,"
Eko:" Makasih ya, kamu memang isteri yang pengertian sayang,,
Lida:" Makasih mas pujiannya..."
__ADS_1
Eko:" Ya udah, beresin gih barang yang mau di bawa,"
Aku membereskan badang-barang ku, baju-baju juga termasuk buku-buku yang akan aku gunakan untuk menyambung kuliah lagi untuk mendapatkan gelar Master.
.............
Sudah sebulan aku menempati rumah baru ini, aku kira rumah yang di beli mas Eko adalah rumah sederhana, tapi ini lebih kepada istana. Padahal dia bilang kalau dia bangkrut, tapi kenapa bisa beli rumah sebesar ini? Sedangkan perusahaan nya aja sampe di pindah tangankan untuk menutupi hutang. Aku jadi curiga... Ah,,,aku gak boleh seudzon sama orang, apalgi sama suamiku. Aku sih bersyulur, kalo aku di kasih tempat tinggal yang lebih dari kata layak, ada 1 pembantu disini, 1 tukang kebun 1 satpam dan juga 1 sopir, gimana aku gak curiga coba? Apalagi dia harus membiayai aku kuliah.
Mas Eko hanya Dosen, tapi dia bisa menggaji pekerja di rumah? Aku jadi curiga beneran kan... Apa sebaiknya aku tanya aja kali ya daripada aku penasaran...
Malamnya setelah dia memberaihkan diri seperti biasa. Dia langsung mengerjakan beberapa pekerjaan di meja kerja yang ada di ruangan sebelah kamar, yang di batasi pintu di kamar ku.
Lama aku tunggu dia keluar, sampai aku dwngar suara decitan pintu terbuka, dan keluarlah sosok yang aku tunggu. Dengan senyum manis aku mempersilahkan dia duduk di sampingku.
Eko:" Ada apa sayang?"
Lida:" Mas jujur deh sama Lida.."
Eko:" Maksud kamu?"
Lida:" Lida gak mau seudzon sama Mas, tapi semua perbuatan dan kenyataan ini gak seperti mas lagi bangkrut."
Lida:" Apa salah kalau Lida curiga?"
Aku menatapnya tajam seakan meminta penjelasan yang harus benar-benar kejujuran.
Eko:" Baiklah, mas akan jujur sama kamu."
Aku menyilangkan kedua tangan ku di depan dada, sedang mataku tak pernah berhenti untuk menatapnya, bahkan untuk berkedip pun aku lakukan 10 detik sekali, supaya dia liat kalo aku lagi serius.
Eko:"MAafkan mas,, Mas bohong tentang semua itu, sebenarnya mas gak bangkrut.."
Dia menatapku seolah-olah memiliki rasa bersalah yang amat sangat.
Lida:" Kenapa?"
Eko:" Mas cuma mau tau kalau mas gak punya apa-apa apakah kamu masih mau sama mas... Gak ada maksud lain kok,,"
__ADS_1
Lida:" ternyata gitu? Heh.." aku tersenyum miring. "Ternyata mas menilai aku cuma dari luar? Mas kira aku perempuan matre?"
Aku merasa kesal dengan perkataan yang dia lontarkan, hingga wajah ku merah menahan amarah, sebegitu rendah nya dia menilaiku rupanya.
Lida:" Kenapa mas nikahin aku kalau mas masih ragu?"
Eko:" bukan gitu maksud mas sayang..."
Lida:" Oke cukup. Aku gak mau denger apapun lagi. Aku udah tau seberapa harga aku di mata mas. Makasih udah nilai aku kayak gitu mas."
Aku langsung berdiri dan keluar kamar, sakit sekali ketika suamiku menilai aku mata duitan. Kalau memang dia ragu kenapa dia harus menikahi aku? Jadi selama ini yang dia berikan sama aku itu apa? Dia pikir aku matre? Sungguh harga diriku tersakiti mas..
Aku menangis sesenggukan, aku pikir orang yang aku kagumi benar-benar tulus mencintaiku, tapi rupanya dia ragu. Berarti aku belum cukup mampu untuk mendampingi dia.
Mas Eko datang duduk di sampingku, dia menggenggam tanganku, dan meminta maaf padaku.
Eko:" Maafkan mas sayang.... mas lakuin ini hanya karena mas takut, ms takut kehilangan kamu ketika kamu tau mas gak punya apa-apa. Mas hanya ingin tau jika kamu tulus sama Mas sayang.. Maaf.." katanya lirih
Lida:" gak seharus nya mas lakuin itu, menilai aku dengan seperti itu dan juga gak sehadusnya mas bohongi aku, aku bukan seperti perempuan di luar sana yang udah nyakitin kamu, aku jadi berpikir kalau seandainya aja apa yang kamu pikirin itu benar maka pasti kamu akan ninggalin aku.."
Eko:" Enggak sayang,, enggak.. maafin mas..mas memang cinta sama kamu sayang, gak peduli gimana pun kamu, yang penting kamu selalu sama sama mas.."
Lida:" Mas fak jujur sama aku, mas bohongi aku,.." huhuhuhh....
Aku masih menangis terisak duduk bersandar tembok di samping pintu kamar. Dia yang duduk di hadapan ku pin ikut juga menangis karena telah membohongiku...
Lida:"Di awal pernikahan aja mas udah bohong sama aku, menganggap aku marerialistis, apalagi nanti di pertengahan jalan pernikahan,,"
Eko:" Maafkan mas sayang, maafkan mas, trauma masalalu yang buat mas kayak gini, maafkan mas, mas gak mau kehilangan kamu... mas gak mau, maafkan mas..."
Lida:" Mas,, aku capek, besok udah mulai kuliah, aku mau tidur."
Aku bangkit dari duduk ku dan langsung menuju ke kamar, aku cuci muka dan langsung tidur memunggungi suami ku. Rasa kesal di hatiku karena tuduhan yang dia layangkan seperti pisau yang tepat menikam di jantungku, Nyuuutttt. gitu suaranya.
Gak tau apa kalo perasaan perempuan itu sensitif...
Aku bangun seperti biasa, jam 4 dan langsung membersihkan diri, lalu tahajjud dan di sambung dengan sholat subuh.
__ADS_1
Setelah nya aku langsung ke dapur untuk membantu bi Nah buat sarapan, berhubung ini hari pertama aku kuliah lagi,
✏️✏️Gantung ya ceritanya? tapi green sempetin kok nulisnya, di sela-sela soalnya. Terimakasih doanya semua, semoga episode nya bisa mengobati rindu kakam pembaca semmua...makasih...😘😘