
Seketika itu juga mas Surya terdiam mendengar penuturan ku. Aku hanya berharap dia mau mengerti keadaan. Ada yang lebih membutuhkan dia daripada aku, dan ada yang lebih aku butuhkan, tapi bukan dia tapi mas Rizal.
Dengan wajah murungnya dia berpamitan pada ku dan ayah ibu. Aku hanya dalat menghela nafas berat setelah mas Surya pergi.
"Ibu salut sama kamu nak.." kata ibu membuyarkan lamunanku
"Kenapa bu?"
"Kamu bisa bersikap dewasa seperti ini. Dan ibu bangga banget sama kamu, kamu lebih memilih tidak menyakiti hati orang lain, kamu juga berhak bahagia sayang."
Ibu memelukku sayang, sedangkan ayah melihatku sambil tersenyum. Rasanya lega sekali perasaanku. Mempunyai orang tua yang terus mendukung ku.
"Iya bu..Hana sudah memilih mas Rizal sebagai suami Hana, jadi Hana akan mencintai dia sampai maut memisahkan.."
__ADS_1
Aku tenggelam dalam pelukan ibu, aku menikmati setiap harumnya tubuh ibu, karena setelah menikah nanti aku akan ikut bersama suamiku kerumahnya. Pengalaman ku yang kemarin biarlah menjadi pelajaran untukku agar lebih matang lagi dalam bersikap.
H-3
Rumah sudah ramai dengan keluarga yang datang dari jauh. Bahkan orang-orang dari WO sudah mulai menata rumahku.
Kami akan melakukan akad nikah di dalam rumah, dan acara resepsi kami adakan di luar ruangan. Kami sengaja mengadakan acara di rumah dan tidak di gedung. Kata ibu untuk menghemat biaya, bukan karena ayah dan ibu pelit, menurut mereka, jika acara diadakan di rumah, maka kekeluargaan akan terjalin dengan intens, beda kalau pernikahannya di gedung. Aku hanya mengikuti apa kata ibu saja. Dan yah memang benar, suasananya sangat ramai dan suasana kekeluargaan sukses terjalin dengan indah.
H-2
Hari ini jadwalku memakai Innai di tangan dan kaki, sungguh aku gugup sekali, tak terasa besok aku akan melaksanakan acara Khataman sebelum hari ijab qabul dengan beberapa orang sebagai pendampingku.
Kata yang melukis inai ku sih kalau warna inai nya merah gelap berarti dia masih perawan, tapi kalau pudar berarti dia sudah gak perawan. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Aku tak menanggapi dengan serius apa yang dia bilang. Setelah lukisan inai ku mengering aku mencuci nya ke kamar mandi, dan taraaa... sungguh cantik dengan warna merah pekat dan gelap,, ahaha.. aku tertawa sendiri mengingat perkataan kakak itu. jelas lah warna nya begini, aku kan masih perawan..
__ADS_1
hehehe...
H-1
Malam ini malam aku Khataman, selesai membacakan ayat-ayat suci aku bersimpuh di depan kedua orang tuaku. Untuk yang kedua kalinya aku memohon Restu pada mereka agar mereka selalu mendoakan kebaikan untukku. Walaupun yang pertama tak ada acara seperti ini.
Ibu menangis memelukku, banyak pesan yang disampaikannya, termasuk semoga rumah tanggaku sampai ke surga..
amiiinnn...
Lalu aku meminta restu pada ayah, ayah tak kalah hebohnya dari ibu, bahkan air mata ayah lebih banyak dariku. Mungkin mengingat kegagalan rumah tanggaku dulu, jadi membuat ayah sedikit sedih dan terguncang, juga mungkin membuatnya takut untuk melepaskan aku menikah dengan laki-laki pilihanku.
Malam ini penuh dengan tangisan, masing-masing saudara-saudaraku apalagi yang tua-tua memberikan wejangan-wejangan pernikahan. Tak lupa pula mereka memberikan tips malam pertama. Sungguh membuatku malu setengah mati.
__ADS_1