
"Assalamualaikum..." Ku ucapkan salam ketika hendak masuk rumah.
"Waalaikum salam, kok cepet pulangnya? Katanya 2 hari,, gak bisa donk aku mesra-mesraan lama dengan mas Surya." Iren memanasi ku, di pikirnya Aku terpengaruh kali ya.
Aku hanya berlalu melewatinya menuju kamarku tanpa aku berniat untuk menjawab perkataannya. Lalu dengan tergesa Iren menarik tanganku dan menghadang jalanku. Sungguh cengkraman tanggannya menyakitkan.
"Apa yang mbak lakuin? Sakit mbak, lepas." kataku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya.
"Aku sudah peringatkan kamu untuk cerai dari Surya ya Hana, aku gak akan lepasin sebelum kamu berkata ya untuk menceraikan Surya." Iren mulai mengancamku.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya yang begitu kuat mencengkram pergelangan tangan ku. Tak lama suara deru mobil Mas Surya membuat aku melihat ke arah pintu, tanpa aku sadari Iren melepaskan tanganku lalu menjatuhkan dirinya di lantai, aku terkejut, banyak darah segar yang keluar dari paha Iren. Aku ketakutan, aku berteriak memanggil Mas Surya.
Dengan tergesa dia berlari menuju ke tempat kami dengan paniknya, aku yang memangku Iren yang sedang pingsan pun menangis melihat dia tak sadarkan diri.
"Ayo mas bawa kerumah sakit, jangan diam saja." kataku berteriak
__ADS_1
"Kenapa bisa jadi begini? Tadi aku pergi dia baik-baik saja"
"Tadi dia jatuh mas,," aku terisak
Mas Surya dengan kepanikannya segera menggendong Iren masuk ke mobil. Aku memangku Iren di bangku belakang.
"Cepat mas, Banyak darah nya ini, Hana takut..."
"Iiya sabar...."
Setelah sampai dirumah sakit, Iren dibawa beberapa perawat ke IGD untuk mendaparkan pertolongan. Dokter mengatakan bahwa kami harus menunggu diluar.
Mas Surya dengan paniknya berjalan mondar mandir di depan ruang IGD. Dokter keluar dan mengatakan bahwa ada kerusakan dalam kantung kehamilan Iren, jadi anak dalam kandungan Iren kemungkinan jika di pertahankan maka akan cacat, karena ini baru awal kehamilan, dokter menyarankannya untuk dilakukan Kuret.
Sungguh aku terkejut mendengarnya. Tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan Iren mengetahui anaknya sudah tidak ada.
__ADS_1
"Apa betul-betul tak bisa di pertahankan dok?" tanya Mas Surya dengan berlinang air mata
"Jika anda sanggup melihat anak anda cacat seumur hidup maka pertahankan. jika tidak, maka sebaiknya kita Kuret pak, Karena masih berbentuk segumpal darah, maka kami pun tidak tau bagian mana yang akan menjadi kecacatannya."
"Baiklah dok, silahkan lakukan yang terbaik."
"Baiklah, saya permisi." dokter itu kembali keruang tindakan.
Lama kami menunggu Iren sadar setelah Kuret, bahkan dia belum juga sadar sejak kami bawa kerumah sakit..
Aku sungguh takut, takut karena Iren akan kehilangan nyawanya.. Sungguh aku tak dapat berkata apapun sekarang, sedangkan mas Surya mengurus Administrasi rumah sakit.
Seandainya tadi aku menghindari pertengkaran ini, maka tidak akan terjadi seperti ini. Dia dan bayinya pasti baik-baik saja. Tapi aku berfikir, kenapa dia bisa jatuh? padahal kan dia yang mencengkramku? Dia yang menyakitiku, apa dia sengaja? batinku..
Rasanya tak mungkin dia sengaja, masak dia mau mengorbankan nyawa nya dan nyawa anaknya demi kesengajaan ini. Tapi kalau dipikir lagi, tak ada angin dan tak ada hujan, kenapa dia tiba-tiba jatuh? Ya Tuhan.... berilah aku kekuatan, dan berikanlah petunjuk Mu...
__ADS_1