
Sudah sebulan lamanya Iren tidak masuk kerja, akupun tak menanyakan hal itu padanya, sungguh aku benar-benar tak memerdulikannya.
Ketika aku abngun untuk sholat subuh, ternyata dia sudah subuh duluan, aku yang masih bingung melihat dia sedikit berubah juga tak memperdulikan nya.
Rasa penasaranku tertutupi dengan rasa kesalku padanya. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi aku libur.
Iren mengajakku ke kamar dan mengatakan kalau dia ingin bicara padaku.
"Kenapa?" Tanyaku to the poin
"Kenapa sikap kamu berubah sih mas sama aku?" Tanya Iren langsung
"Seharusnya aku tak perlu mengatakannya lagi kan?"
"Tapikan aku sudah mencoba untuk menjadi seperti yang kamu mau mas.." Iren menatapku sendu
"Iya aku tau, tapi ketika aku mengingat semua kelakuan kamu aku jadi merasa ilfeel sama kamu."
__ADS_1
"Terus apa yang harus lakukan?"
"Entahlah..akupun tak tau, apakah hatiku bisa berubah terhadapmu atau tidak, yang jelas sekarang aku sedang merasa kesal. Akupun tak tau kenapa."
Iren tertunduk sedih, kulihat air matanya mengalir. Aku tau aku juga melakukan kesalahan, dan aku melimpahkan semua kesalahanku padanya.
"Sudahlah, maafkan aku. Mari kita perbaiki ini bersama, maafkan aku telah egois terhadapmu. Aku baru menyadari perasaanku pada Hana, jadi itu membuatku merasa tertekan karena ku terlambat menyadarinya."
"Apa kamu menyesal menikahiku?"
deg...Kenapa dia bertanya soal itu? "Aku tidak menyesal, karna sebelumnya kamu adalah orang yang sangat aku cintai."
Aku gak habis pikir dengan pertanyaannya itu. dan aku pun gak bisa menjawab pertanyaannya. Lidahku kelu, seakan kata-kata yang ingin aku keluarkan tertahan di leher.
"Mas, aku akan berusaha menjadi yang terbaik, dan aku minta maaf padamu atas semua kesalahanku waktu itu, aku telah sengaja menghilangkan calon anak kita demi obsesiku padamu."
"Hatiku masih belum bisa menerima hal itu Ren,,
__ADS_1
"Apa aku harus membujuk Hana untuk kembali sama mas?"
Aku terkejut dengan ucapannya. Apa maksudnya coba?
"Apa yang kamu katakan?"
"Aku akan berusaha agar Hana mau kembali sama kamu. Jika itu bisa buat kamu maafin aku mas."
"Terus kamu gimana?"
"Ceraikan aku jika memang kamu tak ingin bersamaku." Lirih Iren berkata
"Kamu gila? Aku sudah berjanji pada papa mu aku akan selalu menjaga mu, aku tak mungkin menceraikanmu." Aku menaikkan sedikit suaraku
"Tapi kamu keterlaluan mas!" dia berteriak padaku. "Aku sudah meminta maaf padamu, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik tapi kamu malah memikirkan wanita lain? Kamu anggap apa selama ini aku? Aku ini istri kamu, memang aku melakukan kesalahan kemarin, tapi tidakkah kamu mengerti perasaanku? Apa yang terjadi padaku adalah sebuah hukuman yang Tuhan kasih sama aku, apa belum cukup kalau Tuhan saja yang memberi pelajaran padaku? apa kamu juga akan memberikan aku pelajaran dengan kamu bersikap egois seperti ini? Allah saja maha pemaaf, kenapa kamu gak bisa memaafkan aku?! Aku juga tersiksa!!"
Dia mengakhiri kalimatnya dan langsung keluar kamar serta tak lupa pula membanting pintu. Aku juga emosi mendengar setiap ucapan yang dia lontarkan padaku, semuanya tidak salah, semuanya benar. Dan aku enggan mengakui itu semua.
__ADS_1
Memang aku laki-laki yang egois. Aku menginginkan semuanya jadi milikku sehingga aku melupakan cinta yang aku perjuangkan selama ini. Bahkan sekarang aku menyakitinya.
Surya POV End