
Setelah kembali dari mengurus surat-surat, mas Surya dengan paniknya menghampiri Iren yang terbaring lemah. Aku yang duduk menungguinya di samping tempat tidur hanya bisa menatapnya sedih.
Aku pun sama Khawatirnya dengan mas Surya. Dia memegang tangan Iren lembut, menciumnya, mengelus rambutnya dan mencium puncah kepala Iren.
Ya Allah...manis sekali sikap mas Surya, seandainya saja aku yang di beri perlakuan manis nya, ah...sungguh bahagia aku. Astaghfirullah...mikir apa sih aku ini, dalam keadaan seperti ini aku gak boleh egois. Iren lebih membutuhkannya, dia sedang sakit sekarang, bahkan dia kehilangan anaknya. Aku pun meneteskan air mataku.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Iren bisa keguguran? kenapa dia bisa jatuh? Pasti ada penyebabnya kan?" tanyanya sarkas padaku.
"Hana juga gak tau mas, tiba-tiba mbak Iren jatuh setelah dia..." kata-kataku terhenti ketika Iren membuka mata dan memanggil mas Surya dengan suara seraknya.
"Iya sayang. Kamu udah sadar?" tanyanya lembut.
"Mas...anak aku Mas?" sambil terisak
"Kita telah kehilangan anak kita sayang," mereka berpelukan
"Maafin aku mas, maafin aku gak bisa jaga anak kita, anak yang udah kita harapkan selama ini, maafkan aku Mas..."
"Husss...udah gapapa,mas udah ikhlas kok. Memangnya kamu kenapa bisa jatuh huh??" tany Mas Surya lembut sekali
__ADS_1
"Huhuhuhu.hiks....ini..ini semua..karena Hana mas...huaaa"
Aku terkejut mendengarnya, dia menuduhku? Apa-apaan ini? fikirku
"Apa kamu bilang?" Surya menaikkan suaranya 1 oktaf.
"Kenapa gara-gara Hana mbak? kan tadi..."
Lagi-lagi kata-kataku terhenti dengan ucapan Iren.
"Iya, ini semua gara-gars kamu, kalo kamu gak dorong aku, aku gak mungkin kehilangan anak aku..huuuu...huuu...anak kita mas.."
"Jadi semua ini gara-gara kamu? Mau kamu apa sih? Kamu sengaja sama Iren? Kalo kamu gak suka kamu bisa melampiaskannya sama aku, jangan ke anak aku.." Suara mas Surya menggelegar ditelingaku..
"Mas udah liat sendiri kan, dia jahat Mas, Aku gak mau lagi ada dia, Aku takut nanti dia nyakitin Aku lagi."
"Iya sayang, aku gak akan biarkan dia nyakitin kamu dan anak kita lagi."
"Tapi Hana gak seperti itu mas? Kamu salah paham.." kataku sedikit berteriak.
__ADS_1
"Cukup Hana!!" dia membentakku.
" Ceraikan saja perempuan jahat itu Mas, buat dia gak bisa kembali sama kamu lagi." dia menangis semakin menjadi..
Mas Surya yang sudah tersulut emosipun akhirnya dengan lantang mengucapkan kata-kata yang tak pernah aku bayangkan..
"SAYA TALAK KAMU HANA, MULAI DETIK INI KAMU BUKAN ISTRIKU LAGI."
Jeder...jeder...jeder.... bagai petir yang menyambar-nyambar, hatiku lumpuh. Kakiku lemas, seakan otakku berhenti bekerja saat ini juga. Aku terduduk tepat di depan mas Surya.
"Kamu tega Mas? Kamu tau apa itu talak? kamu menalak aku?"
Sakit sekali hatiku...
"Aku tau dan aku paham betul dengan apa yang aku ucapin. Kamu memang pantas mendapatkan kata cerai dariku. Dan mulai saat ini kamu bukan lagi istriku. Jadi kamu bisa angkat kaki dari rumahku."
"Kamu inget ya mas, Suatu saat kamu pasti tau kebenarannya, Allah gak tidur. Allah pasti memberi keadilan sama aku. Inget itu Mas. Dan kamu Iren, sudah banyak kebusukan yang kamu buat selama ini sama Aku, aku yakin Allah gak akan membiarkan orang-orang keji seperti kalian!"
Aku pergi meninggalkan mereka, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku berjalan ditengah terik matahari, tak tau kemana aku harus melangkah, Aku rapuh, Aku difitnah...
__ADS_1
Ya Allah, inikah jalan yang Engkau beri agar aku terlepas darinya? tapi kenapa begitu sakit?? Sakit sekali ya Allah... Sakit sekali... Aku di fitnah ya Allah.. Tunjukkanlah kebenarannya...
Selagi aku terduduk dipinggir jalan, seseorang membantuku berdiri..