
"Terimakasih Zal.." Ucapku pada Rizal yang sudah membantuku.
"Aku gak akan memaksamu cerita kalau kamu tak ingin cerita. Tapi kalau memang masih sakit sekali keluarkan saja air matamu itu. Aku sudah bilang aku tak suka melihatmu menangis, tapi jika itu buatmu tenang, silahkan.."
Rizal sungguh pengertian. Dalam hati aku berkata, kenapa tidak Engkau jodohkan saja dia denganku, jadi tak harus aku merasakan sakit hati seperti ini ya Allah..
Astaghfirullah...berfikir apa aku ini. Akupun menggelengkan kepalaku.
"Kenapa?"
"Gapapa. Semoga Allah menjodohkanmu dengan wanita yang terbaik ya.." Aku tersenyum padanya.
"Aku hanya ingin berjodoh denganmu, Mungkin aku egois karena menginginkan istri orang lain, tapi kamu berhak bahagia Hana. Aku akan selalu meminta pada Tuhan agar.menjodohkan kita." amiiiinn.... (dalam hati Rizal)
"Iya, semoga jodohku wanita yang kuat."
Tak lama datang Surya yang diikuti Iren di belakangnya. Kulihat wajahnya memerah, mungkin menahan amarah. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mejaku.
"Apa-apaan kamu Hana?" Dia sedikit berteriak padaku dan menggebrak meja.
__ADS_1
"Santai brader,,, jangan kasar sama perempuan..."
Rizal bangkit dari duduknya menghalau Surya yang mendekatiku.
"Jangan ikut campur, ini masalah kami."
"Ini juga akan jadi masalah saya jika anda tidak bisa sopan dengan perempuan."
"Tapi dia istriku.. Jadi kamu gak berhak ngelarang aku untuk berbuat sesukaku padanya."
"Sebelumnya aku hanya mendengar kabar dari orang-orang saja, ternyata setelah aku lihat langsung begini sikapmu terhadap istrimu? Baguslah aku telah membatalkan kerjasama antara perusahaan kita."
"Aku tak ingin bekerjasama dengan orang munafik sepertimu."
Kulihat mas Surya sangat marah, dengan cepat aku melerai keduanya, "Cukup Rizal, aku mohon cukup." Ku tangkupkan tanganku di depan Rizal. Aku berharap dia mengerti.
"Sudahlah mas, pembicaraan ini kita lanjutkan dirumah. Ayo pulang." aku menarik tangan suamiku.
Tapi dia menahannya, dia mematung memandang Rizal seraya berkata
__ADS_1
"Jangan pernah dekati Istriku lagi."
"Jaga sikapmu, jika kau masih mengecewakannya, aku pastikan aku akan merebutnya darimu. Camkan itu brader."
Rizal menepuk bahu Surya seraya berjalan keluar dari taman belakang, sembari melewatiku dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan dengan gerakan bibir aku mengucapkan terimakasih padanya.
Surya yang tak terima dengan perkataan Rizal sontak menarik pergelangan tanganku kasar menuju ke mobil dan membawaku pulang. Tak lupa juga Iren yang duduk di kursi belakang. Aku kira Iren bodoh karena asik melihat pertengkaran tadi jadi dia amnesia sesaat sehingga lupa mengekor kami yg menuju ke mobil..
Dalam perjalanan kami bertiga hanya diam. Aku lebih memilih memandangi jalanan dari balik kaca jendela mobil sampai pada saat mobil berhenti di halaman rumah kami aku baru tersadar bahwa kami telah sampai.
Aku langsung membuka pintu mobil dan masuk rumah menuju ke kamarku. Ternyata mas Surya mengikuti ku dari belakang. Dan tak lupa pula Iren mengekornya.
"Mbak Iren mau menginterogasi Hana juga?" tanyaku padanya tanpa basa basi
"Maksudmu?"
"Hana mau menyelesaikan masalah Hana sama Mas Surya berdua. Mbak mau ikutan juga?"
Iren memandang mas Surya meminta persetujuan, tetapi mas Surya hanya diam tak melihatnya. Lalu diapun pergi sambil menghentakkan kakinya. Haha..pasti dia marah tu..Ku tutup pintu kamarku.
__ADS_1