
"Apakah secara tak langsung Mama menginginkan Iren berpisah dari Mas Surya Ma??"
Aku menatap Mama, aku beranikan menatap manik matanya, dia yang semula melihatku tajam kini berpaling dariku.
"Apa Iren benar ma? Iren sudah melakukan kesalahan, dan Iren sudah bertobat untuk tak melakukan hal yang bodoh lagi Ma, tapi tak ada seorang pun yang percaya karena kesalahan Iren kemarin tak dapat dimaafkan. Iren emang salah, tapi apakah tak ada kesempatan kedua untuk Iren? Iren juga ingin jadi menantu Mama, sudah 8 tahun Iren menjalin kasih dengan mas Surya, tapi tiba-tiba dia menikah dengan Hana,"
Ucapanku terhenti, aku terisak, sesak di dadaku Aku tumpahakan di depan Mama.
"Saya belum bisa memaafkan kamu, selagi hati menantu saya Hana masih terluka karena mu. Kamu gak pernah tau gimana rasanya di madu." Jawab Mama sinis.
"Memang salah Iren ketika papa Iren meminta Mas Surya menikahi Iren, Iren tak menghentikannya. Seharusnya Iren biarkan papa meninggal dalam keadaan sedih. Maafin Iren Ma, Iren akan lakuin yang terbaik untuk bisa buat Hana kembali menjadi menantu Mama. Assalamualaikum."
Aku langsung bergegas meninggalkan kediaman Mama tanpa menunggu Mama membalas salamku.
Aku berlari dengan air mata yang tak bisa ku tahan. Entah kemana arah tujuanku pun Aku tak tau.
Sesakit inikah tak di percaya orang? Apalagi tak dipercaya oleh suami dan mama mertua sendiri?
Aku terus menyusuri jalanan kota, mengikuti langkah kaki yang entah kemana akan membawaku pergi. Adzan berkumandang menandakan Aku harus segera melaksanakan perintah sang Khalik.
__ADS_1
Setelah kejadian ini, Aku hanya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik, jika tak ada satu manusia pun yang percaya padaku, semoga Allah memaafkanku.
Selesai melaksanakan sholah Dzuhur di salah satu masjid, Aku berdoa pada Sang Pencipta, memohon ampunan padaNya, semoga Aku bisa melaksankan apa yang di inginkan oleh Mama mertuaku. Jika Aku harus mengalah, maka Aku harus melakukannya demi kebahagiaan orang-orang di sekitarku.
Tak lama setelah Aku selesai, Aku mendapatkan telpon dari Mas Surya, dia mencariku kemana mana tapi tidak menemukanku.
"Aku lagi cari angin segar Mas, Aku gak kemana mana. Aku suntuk jadi Aku berjalan-jalan sebentar."
Surya:"Kenapa gak bilang padaku?"
"Aku buru-buru Mas, jadi tak bilang padamu."
"Iya,"
Tuuuuut....
Suara sambungan telpon pun terputus. Aku segera memesan taksi untuk segera pulang. Aku tak ingin Mas Surya menungguku.
Sesampainya dirumah...
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam... Dari mana aja sih? kenapa lama sekali?"
"Nama nya juga jalan-jalan Mas, ya maaf Aku lama, soalnya macet tadi."
"Memangnya kamu kemana tadi?
"Ke taman kota.."
Aku langsung menuju dapur untuk segera memasak. Aku tak ingin Mas Surya terlalu banyak bertanya. tiba-tiba Nyut...kenapa perutku sakit ya?
Ah...sudah hilang? Mungkin belum pulih kali ya, baru juga sebulan.
Selagi aku memasak, aku memikirkan apa bisa ya aku menggunakan kesempatan yang cuma 5% itu? Aku berharap sekali Allah masih mempercayakan Aku untuk bisa hamil lagi. Tapi aku tak mau muluk-muluk, Aku pasrah sekarang dengan segala ketentuanNya. Aku mengelu-elus perutku seraya berkata "Semoga anak yang berbudi luhur akan lahir dari rahimku, walaupun nyawa taruhannya."
Amiiiinnn.......
✏️ Sayangnya author....apakah ada ni yang masih ingin bully Iren? Masihkah ada yang tak percaya jika Iren berubah?
__ADS_1