
Di tengah perjalanan tak terasa rupanya hampir jam 12, sudah masuk waktunya sholat jum'at, jadi kami mencari masjid. Sementara Rizal melaksanakan Sholat jum'at aku dan Lida menunggu di mobil.
Sesampainya di Lokasi, aku turun dari mobil dan melihat sekeliling, sedangkan Lida masih tertidur di kursi belakang. Rizal mengikuti ku, ku pandangi setiap sudut tanah ini, memang lokasi yang strategis menurutku, Aku suka.
"Kamu pintar cari lokasi Tuan." Aku tersenyum ke arahnya.
"Tentu lah, aku cari tempat ini khusus untuk jodoh.."
"Kamu ini, jangan seperti itu, aku gak mau nanti orang-orang yang dekat dengan mu merasa aku telah merebutmu.."
Aku berjalan kearah pohon yang ada di salah satu sudut tanah.
Sepertinya banyak anak-anak yang bermain disini, karena ada ayunan di pohon ini. Dan banyak sampah plastik makanan yang berserakan.
"Kamu udah hubungi pemilik tanah ini Zal?"
"Sudah, sebentar lagi dia kemari. Aku serius padamu Hana.."
"Apanya Zal?"
"Aku serius suka sama kamu, jauh sebelum kamu menikah."
"Tapi aku gak bisa Zal, Kamu tau aku baru bercerai, dan lagipula aku ini janda."
__ADS_1
Aku tertunduk setelah mengatakannya.
"Aku gak masalah kamu janda atau gadis, yang aku suka itu kamu, bukan status kamu."
"Apa kata orang tua kamu nanti? Lagipula Aku gak cinta sama kamu, Aku masih mencintai mantan suamiku.."
Aku memandang jauh kedepan sementara dia memandangku. Aku menoleh padanya.
"Aku gak mau menyakitimu, dan gak mau membuatmu menungguku, Aku gak mau melakukan hal yang sama seperti mantan suamiku Zal"
"Cinta itu datang tanpa dipaksa Hana, Aku ngerti kok,"
"Aku takut..."
"Aku takut nanti kamu gak sabar nunggu aku dan berpaling dari aku." Jawabku malu-malu.
Rizal Hanya tersenyum memandangku, aku tak tau apa yang ada dipikirannya, dia juga tak memberikan jawaban atas pernyataanku.
"Mau ku ayun Nona?" tanya nya sembari memegang tali ayunan..
"Dengan senang hati Tuan.."
Puas kami bermain ayunan seperti anak kecil, dimana aku duduk di ayunan dan Rizal yang mengbil alih mendorong ayunan. Aku rasa aku sangat bahagia. Mendapat perlakuan manis seperti ini, rasanya aku tak ingin ini berakhir.
__ADS_1
Tak lama pemilik tanah pun datang, setelah bernegosiasi, akhirnya akupun jadi membeli tanah itu dan akan segera melaksanakan pembangunan Cafeku.
Setelah bapak itu pamit pada kami, Rizal pun mengajakku untuk ke tempat wisata yang ada disini. Aku menghentikan langkah. Masih dibawah pohon..
"Tunggu..." kataku menghentikan Rizal.
Dia menoleh kearahku dan mendekatiku.
"Ada apa?"
"Kamu serius sama Aku?"
Rizal tersenyum "Kamu maunya gimana?"
"......gak jadi deh, ya udah ayuk nanti kesorean."
Aku langsung menuju mobil, tanpa mempedulikan Rizal akan menjawab apa, Ku lihat sekilas dia hanya tersenyum saja.
"Kamu itu gak peka banget deh Zal, aku udah tahan malu untuk bertanya sama kamu hal seperti itu, tapi kamu malah gak jawab, haduuuuhhh taruh dimana ya muka ku ini Taruh di kursi belakang aja kali ya biar duduk sama Lida.." batinku
"Romantis bener kak, pake naik ayunan di dorongin segala? Lida mau dong mas di dorongin di ayunan kayak kakak tadi.." Goda Lida pada kami.
Masing-masing memasang wajah merah merona seperti tomat..sungguh aku malu luar biasa.
__ADS_1