
Belum sempat aku menyerahkan piringnya, tiba-tiba aku di senggol dan piring yang ada di tanganku direbut.
"Biar aku saja." dengan nada ketusnya. "Ini mas," dia memberikan piring itu pada suamiku.
Kulihat penampilannya seperti bangun tidur, tapi sudah cuci muka,
"Jika mbak mau melayani mas Surya gak perlu kasar juga kali mbak sama Hana. Kan mbak bisa minta baik-baik sama Hana. Hana gak marah kok." kataku dengan sangat lembut
Iren dengan wajah yang memerah memandangku benci.
"Sudahlah Hana, pagi-pagi jangan bertengkar, sama saja siapapun yang melayaniku tetap istriku juga."
Iren merasa terbela dengan ucapan suamiku. Tapi aku marah, bulkan aku yang salah, tapi kenapa aku yang disalahkan. Aku berusaha tak menunjukkan kemarahanku. Kutarik nafas dalam, dan aku menghembuskannya kasar.
"kalian itu sama saja. tak tau mana yang benar dan mana yang salah. Lama-lama aku juga bisa muak berada diantara kalian." Batinku...
Pukul 08.00 WIB Lisa mengirim pesan padaku bahwa aku harus datang ke Cafe untuk mengecek pembukuan bulanan. Aku pun bersiap-siap untuk pergi.
Ku panaskan mesin mobilku, lalu aku mengjnci pintu rumah. Ya, Iren juga sudah pergi bersama suamiku karena mereka bekerja di tempat yang sama.
Aku melajukan pelan mobilku, karena aku tak begitu terburu-buru. Sesampainya disana aku langsung masuk keruanganku di susul Lisa yang membawa beberapa laporan keuangan.
Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu makan siang, seperti biasa aku melaksanakan sholat dzuhur dulu baru makan.
Aku keluar dari ruangan ingin pergi ke meja halaman belakang seperti biasa setelah meminta pelayan menyiapkan makan siangku.
__ADS_1
Aku melihat Rizal sudah duduk manis disana tengah menyantap makan siangnya sendirian.
"Ternyata Tuan Rizal pengunjung tetap di Green Cafe ya??" candaku sambil menepuk bahunya
Dia langsung menoleh ke arahku, dan tersenyum
"Sudah sepantasnya kan aku mendapatkan kartu diskon dari cafe ini, secara ku pelanggan tetap" katanya sambil menaik turunkan alisnya yang tebal..
"Hahahaha..itu bisa di atur.. kenapa kamu makan sendiri?"
"Tidak, aku makan berdua."
"Mana temenmu?"
"Di depanku" sambil menunjukkan senyum manisnya.
aku menggelengkan kepalaku.. "inget loh, aku ini wanita bersuami"
"Kalo jodoh gak kemana" jawabnya santai.
Aku tertegun dengan ucapannya. "Maaf, cintaku tak mudah berpaling Tuan.." kataku sambil menggoyangkan telunjuk di depannya.
"Aku bercanda..Kamu gak makan??"
"pesananku on the way..."
__ADS_1
"Oh.. oh ya, aku pengen denger kamu nyanyi lagi. suara mu bagus, kenapa kamu gak jadi penyanyi aja?"
Sambil menyandarkan bahu ke kursi "Hmmmm....Aku gak minat, Aku hanya mau bernyanyi saat Aku ingin."
"Hobimu itu bisa jd penghasilan lo.."
"Aku cukup puas dengan berbisnis kuliner,"
"Sudah ada berapa cabang cafe mu ini?"
"Aku ingin membuka cabang ke enam nanti kalau ada kesempatan lagi, tapi aku masih cari-cari lokasi yang strategis."
"Mmmmm...mungkin aku bisa bantu kamu.. Nanti kalau aku dapat tempatnya, aku bakal kabarin kamu"
"Oke...mana hp mu?" tanyaku meminta hp nya
"Untuk apa?"
"Oh... Ku kira kamu butuh untuk menghubungiku kalau ada lokasi strategis, tapi mungkin kamu mau datang kemari saja terus menungguku kali ya.. secara aku kan gak sering datang kemari" jawabku mengejek.
"Ah iya aku lupa. Kamu gak takut aku godain?" tanyanya menggodaku
"Kamu ada niat godain aku? gak takut suamiku?" balasku mengejek..
Dia hanya menggarukkan kepalanya sambil menyodorkan hp nya padaku.
__ADS_1
tak lama makananku sampai dan aku menikmati waktu makan siangku dengan teman baruku....
bersambung...