
Sebulan telah berlalu dari kejadian waktu itu, bisa di bilang Aku sedikit sukses dengan misiku menaklukan hati Surya, terbukti sekarang Surya lebih menunjukkan perhatiannya padaku, sering mengirimi aku chat, walaupun cuma sekedar tanya udah makan apa belum..
Haha....bahagianya hatiku ini, sedikit lagi aku berhasil mendapatkan hatinya fikirku.
Seperti biasa aku bangun pagi menyiapkan sarapan untuk kami bertiga. Oh iya, walaupun kami tinggal satu rumah bukan berarti hubungan ku dengan Iren baik-baik aja. Sekarang dia lebih sering memamerkan kemesraan yang dibuat-buat menurutku.
Aku sih gak masalah, udah kebal. Lihat saja nanti ketika tiba saatnya aku bermesraan dengan mas Surya, akan ku buat dia gigit jari.hihihi
Selesai menata sarapan di meja aku membangunkan mas Surya, tak lama diapun keluar diikuti Iren di belakangnya.
Wajah nya pucat, sepertinya dia sakit.
"Mbak sakit?" tanyaku sesikit khawatir.
Belum sempat dia menjawab, dia berlari ke kamar mandi, dia muntah-muntah..Hah??? Apa dia hamil pikirku...
Ya Allah...belum lagi aku melaksanakan tugas sebagai istri mas Surya,, sudah ada lagi ujian di depan mata.. Aku menyeka air mataku. Mas Surya yang menyusulnya kini kembali dengan membopongnya ke tempat tidur.
Dia menelepon dokter keluarga untuk datang kemari. Tak lama dokter pun datang memeriksa Iren. Jantungku....tolong kamu tenang jantungku... jangan berulah sekarang, nanti aku sakit... batinku sambil memegang dadaku.
"Pak surya, Nona Iren perlu berada disamping suaminya sekarang," kata dokter setelah memeriksa Iren
Perkataan dokter membuat kami bingung.
__ADS_1
"Memangnya kenapa dokter?"
"Saat ini nona Iren sedang mengandung, usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tujuh."
"Saya..."
sebelum Surya melanjutkan kata-katanya aku memotongnya cepat.
"Suaminya sedang keluar kota dok, jadi dia tinggal sama kami sementara waktu,"
Mereka berdua melihatku dengan tatapan bertanya.
Setelah aku mengantar dokter keluar, aku kembali ke kamar mas surya, pemandangan yang indah untuk di lihat, sepasang suami isteri yang sedang berbahagia akan kedatangan calon buah hati.
Sikap apa yang harus aku ambil? Apakah aku harus merelakan mas Surya? Ataukah aku harus bertahan?
Tak dapat di sembunyikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mas Surya, sehingga saat dia hendak pergi ke kantor dia tersenyum dengan manisnya, senyum yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Senyum yang hanya diberikan untuk Iren dan calon buah hatinya.
Nyuuuuuut lagi hatiku, bukan nya cium keningku malah dia berpesan agar aku menjaga Iren, "kalau dia butuh apa-apa kamu harus siap sedia ya. Aku minta tolong, dia sedang mengandung anakku."
deg...
Aku terdiam, dan akhirnya ku jawab iya,.
__ADS_1
Setelah dia pergi, aku masuk ke kamar Iren, kulihat sekeliling kamar, ternyata tak ada satupun fotoku disana, hanya foto mereka yang bertebaran seperti sampah, batinku.
"Sekarang aku telah mengandung anak mas Surya, apa kamu gak kasian sama anak aku? Dia butuh pengakuan ayahnya, tapi seperti yang kamu tau aku butuh status resmi dari mas Surya."
"Terus Hana harus apa? kan Mbak sendiri yang milih jadi bini kedua. Hana juga gak masalah tuh."
"lebih baik kalian bercerai saja lah, lagian kamu juga gak bisa kan kasih anak, gimana mau bisa, cium keningmu aja mas Surya gak pernah."
"Kata-kata mu pedes ya mbak, Mbak nyuruh Hana cerai emang mbak pikir Hana bakal ngelakuinnya?"
"Aku sih cuma nyaranin aja, daripada kamu makan ati terus liat kebahagiaan kami,"
"Aku gak akan pernah minta cerai sebelum suami ku menceraikan aku mbak, ingat itu."
"kalo gitu aku yang bakalan buat mas Surya menceraikan kamu.
"Kalau gitu coba aja, mbak gak akan bisa!" jawabku mantap.
Aku berlalu keluar kamarnya sambil menangis tersedu-sedu... lagi..
Ya Allah,,apa yang harus ku lakukan? apakah aku harus cerai? atau bertahan ya Allah?
✏️haiiiii....gimana nih, apa Hana cerai aja sama Surya??atau harus lebih berjuang lagi??
__ADS_1
Like, comen, love and star...