
Setelah dokter mengatakan bahwa ada kemajuan dengan kondisi papa Iren, maka kami pun merasa lega. Aku mengajak Iren pergi makan siang di luar. Aku mengajak nya kesebuah restoran yang ada di pusat kota.
Di restoran....
Aku memilih tempat duduk yang berada di luar, tepatnya di teras, melihat kendaraan yang lalu lalang mungkin bisa membuat pikiran agak tenang sedikit. Setelah memesan makanan, Iren pun memulai percakapan.
"kamu apa-apaan mas? Kenapa kamu menikahi aku kalau kamu masih ber isteri? Sudah aku bilang aku tak ingin menjadi yang ke dua. Belum lagi keluarga besarmu tau, apalgi keluarganya. Kamu sudah gila mas.."
"Ren,, aku menikahimu karna aku mencintaimu, lagian aku juga bertanggung jawab atas permintaan papamu.." aku memegang kedua tangannya,
"tapi cara kita salah mas. Bahkan istrimu gak tau. Apa jadinya kalau dia tau? Aku gak habis pikir dengan jalan pikiran kamu."
__ADS_1
"biar aku yang tanggung jawab. Aku yang akan menjelaskan padanya. Lagian aku tidak mencintainya sayang.."
" kamu tidak mencintainya tapi apa dia juga tak mencintaimu? Bagaimana kalau dia mencintaimu? Bisa apa aku yang cuma istri sirih kamu? Bahkan kita nikah juga gak ada suratnya. Dia yang lebih berhak atas kamu."
"sudahlah sayang, aku capek harus menjelaskan berulang kali padamu, biar aku yang tanggung jawab, biar aku yang menjelaskan padanya, oke?!" kataku dengan tegas. "sekarang kita makan dulu, kamu pasti lelah seharian ini sudah banyak mengeluarkan air mata."
Dia hanya diam, lalu makan dengan wajah yang sendu. Aku kepikiran Hana, Astaga...Aku lupa punya janji dengannya. Aku menggelengkan kepalaku. Ya sudahlah, toh dia tak kan marah, batinku. Belum lama aku memikirkannya dia menelponku.
Aku bingung harus mengatakan apa, ku lihat Iren yang tak peduli dengan suara hp ku. Aku tau Hana pasti menanyakan alasan kenapa aku tak datang. Lalu aku jawab saja kalau aku sedang sibuk dan ada meeting jadi tak bisa di ganggu.
"Istrimu?" dengan nada sinisnya.
__ADS_1
"iya." jawabku singkat.
Tak ada percakapan yang berarti lagi. Tak lama berselang, Iren mendapat telpon dari rumah sakit. Kami pun langsung bergegas kesana bahkan kami pun belum menyelesaikan makan siang kami.
sesampainya dirumah sakit, kami segera berlari menuju ICU tempat papa di rawat, tapi pintu tertutup rapat, ada beberapa dokter dan suster di dalam sana yang ku lihat dari balik pintu kaca.
Kulihat Iren mondar mandir tak tentu arah, Ku rangkul bahunya, ku ajak dia duduk di kursi ruang tunggu. Lalu aku menenangkannya dan memberikan semangat padanya dengan berkata semua akan baik-baik saja.
Dia menangis tersedu-sedu. Lalu dokter keluar dengan wajah sedih. Apakah ada kabar buruk? batinku..
Lalu dokter mengatakan bahwa pak Satya telah berpulang ke Rahmatullah karena penyakit komplikasi yang di deritanya.
__ADS_1
Iren pun menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, hanya papanya lah seorang yang dia punya saat ini, tapi Tuhan telah mengambilnya untuk selamanya. Aku biarkan dia melepas segala kesedihannya. Dia terisak..tak terasa akupun mengeluarkan air mataku. Ditinggal sendirian di dunia ini, pasti lah amat kesepian. Tapi dia kan punya aku, tak seharusnya dia bersedih berkepanjangan. Aku berjanji untuk terus bersamanya dan melindunginya.
bersambung...😔