
kembali ke Hana...
Banyak sekali kenangan dirumah ini, setiap hari aku membersihkannya, setiap pagi aku menyirami tanaman-tanaman ini, bunga-bunga kesayanganku, apa jadinya kalian tanpa Aku? semoga pemilikmu yang baru bisa merawat kalian semua sama sepertiku. Aku berbicara sendiri pada tanaman-tanamanku..
Tak lama mobil mama dan papa memasuki pekarangan, aku sambut mereka dengan senyum terbaikku, aku persilahkan mereka masuk rumah, karena ada ibu yang tengah menyiapkan hidangan makan malam.
Selang beberapa waktu Ayah pun datang disusul dengan Lida yang datang menggunakan motor matic nya.
Kamipun Sholat maghrib berjamaah dengan di imami oleh ayah.
Selepas sholat maghrib, kami duduk berkumpul diruang keluarga, aku berpikir senang dan bahagia sekali aku memiliki mereka semua. Tapi kebahagiaan ini tinggal saat ini saja. Inilah akhir kisahku. Hari terakhir aku bersama Papa dan Mama.
Tak terasa menetes air mataku, membasahi pipiku yang mulus dan masih perawan ini, tanpa sadar akupun terisak sehingga membuat keluarga besarku melihatku.
Ibu yang duduk di sebelah kiriku memelukku dan mengelus bahu ku dengan sayang, seolah dia tengah mentransfer energi positif untukku.
"Kenapa Surya belum pulang?"
"Sebentar lagi pulang Mah,"
Ibu yang ingin menjawab aku tahan dengan menggenggam erat tangannya, aku melihatnya dan menggelengkan kepala ku pelan, Aku ingin hanya Aku saja yang akan menjelaskan pada mertuaku, Ibu pun mengerti hal itu. Bersyukurnya aku punya mereka yang mengerti perasaanku, begitupun Ibu mertuaku.
Tak lama berselang mas Surya pun sampai. Dia terkejut melihat semua anggota keluarga berkumpul disini. Tanpa ada aba-aba dia pun langsung duduk di tengah-tengah seperti seorang terdakwa.
"Siapa yang ingin berbicara duluan?"
Kulihat mas Surya tertunduk, itu pertanda di takut untuk berbicara. Maka akupun bersuara.
"Ma, Pa..Hana mau minta maaf kalau selama ini Hana banyak salah sama mama sama papa juga, mungkin Hana belum bisa jadi menantu yang baik selama ini." kataku tersendat
"Kamu menantu kesayangan Mama Nak, gak ada yang salah sama kamu," Mama mulai menangis
"Maafin Hana Ma, Hana gak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini," kataku tertunduk
"Apa maksudmu nak?"
Ibu menggenggam erat tanganku, seraya mengelus bahuku.
__ADS_1
"Sebenarnya mas Surya sudah menceraikan Hana Pa, Ma," Aku melihat ke arah Papa yang terlihat marah.
Papa, Ayah, Lida dan Mama: "Apa?"
"Kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Papa menggebu
"Ya, mas Surya sudah menceraikan Hana tadi siang di rumah sakit karena mas Surya merasa Hana telah membuat bayi dalam kandungan Iren meninggal." tajam mataku menatap mas Surya. Dia hanya terdiam mendengarkan kami berbicara sembari tertunduk
Papa bangkit dari duduk dan memukul Surya, "Dasar kamu ********. Apa yang kamu lakukan dengan menantu kesayanganku? hah?"
Yang lain pada diam saja melihat adegan aksi yang dilakukan papa, setelah puas papa duduk kembali dan aku melanjutkan kata-kataku.
"Pa, Mas Surya mencintai Iren sudah lama sekali, jauh sebelum kami menikah, jadi Hana mohon mama dan papa merestui mereka, Iren juga menantu mama sekarang."
"Tidak Hana, menantu mama hanya kamu nak, gak ada yang lain, cuma kamu."
"Hana gak bisa lagi ma, hanya Iren yang bisa sekarang."
"Kenapa begitu nak? kalau karena perceraian kalian, kalian bisa rujuk, dan mama bisa memaksa Surya untuk menceraikan perempuan itu. Mama sayang sama kamu nak.." Mama tak henti-hentinya menangis..
"Apa? Mama pasti salah denger kan?" mama bangkit kembali memukuli Surya. "Betapa malu nya aku memiliki mu sebagai anakku, aku mencarikan mu jodoh terbaik, tapi kamu sia-siakan menantu kesayanganku Surya!" teriak mama sambil memegang kerah lehernya.
"Maaf ma, Surya Khilaf," sambil menangis memegang kaki mama.
"Khilaf kamu bilang? setelah kamu sia-siakan dia selama hampir setahun kamu bilang Khilaf? dimana Otakmu Surya?!" kata-kata mama menggelegar di ruangan.
"Ma, sudahlah, ini semua memang harus terjadi, Allah sudah mengaturnya untuk kita, Kita hanya bisa ikhlas menerimanya Ma,,"
"Bagaimana Mama mau ikhlas Hana? Kalau mama harus kehilangan menantu Mama?" suara mama melemah,
"Walaupun Hana gak bisa jadi menantu Mama lagi, tapi Hana masih bisa jadi anak Mama, Mama mau kan? Sudah, Mama jangan menangis lagi, Hana sakit liat Mama menangis terus..."
"Anak kurang ajar ini tak bisa Papa biarkan, biar Papa beri dia pelajaran, Papa juga sakit melihat kamu dan Mama menangis Hana.." kata Papa meradang.
"Papa bunuh mas Surya pun Hana tetep gak bisa rujuk lagi Pa, sama mas Surya... jadi Papa tenang ya.."
Sebisa mungkin ditengah-tengah keluarga yang memanas ini, Aku harus bisa menahan emosiku juga, aku harus bisa menjadi air yang memadamkan amarah para orang tua ini.
__ADS_1
"Ayah kecewa sama kamu Sur, Ayah titipkan Hana padamu untuk kamu jaga dan sayangi, tapi kamu malah menyakiti hati anak Ayah.." Ayah menangis..
"Maaf Ayah, Surya gak sengaja, Surya Khilaf, Surya akan memperbaiki semuanya, Surya janji." katanya besungguh-sungguh
"Tak ada yang bisa di perbaiki lagi nak, Nasi sudah jadi bubur, Kamu pun gak bisa rujuk lagi dengan Hana. Jadi malam ini kami akan membawanya pulang bersama kami."
"Hana, mohon maafkan mas,, mas janji akan perbaiki semuanya. maafin mas Hana." Surya berlutut di hadapanku.
"Semuanya sudah terlambat mas, Hana memang cinta sama mas, bahkan sejak kita di jodohkan, tapi apa lagi yang harus Hana buat ketika cinta Hana pergi dari mas karena kebodohan mas sndiri yang gak nerima kehadiran Hana dan kesempatan itu udah mas sia-siain? Hana sakit mas, belum 6 bulan nikah mas pulang bawa madu, mas Gak ngerasain sakitnya Hana saat itu karena mas gak peduli sama Hana,"
"Maafin Mas.." dia berkata lirih
"Hana udah maafin semua perbuatan mas sama Hana, tapi yang Hana gak bisa maafin karena Hana udah di fitnah. Hana gak terima."
"Sudah nak, sudah hampir larut, tak baik kita berada di rumah orang lain terlalu malam, mereka juga butuh istirahat, ayo kita pulang. Lida, bantu kakak bawa barang-barang ke mobil ayah."
"Iya yah.." Jawab Lida.
"San...maafkn Aku, Aku gak becus membimbing anakku, sehingga dia menyakiti menantuku." Mama menangis meminta maaf pada Ibu
"Iya san, kita ambil aja hikmahnya ya, Aku gak mau punya musuh, hanya karena perceraian anak kita, bukan berarti persahabatan kita juga bercerai, dari dulu, sekarang dan selamanya kamu tetep sahabat Aku."
"Terima kasih sudah memaafkan aku."
"Aku juga minta maaf padamu Suf..Aku telah salah mendidik anak ku" Papa juga meminta maaf.
"Tak perlu lagi minta maaf, kalau gitu kami pamit, Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.."
✏️ Bagaimana sayang-sayangkuh? apa kalian puas dengan perpisahan ini? kita akhiri saja sampai disini? mau nambah lagi nangis-nangisnya?
Episode kali ini author persembahkan untuk semua readers tersayang yang sudah mendukung dan menyayangi author...
terimakasih banyak...
sayang banyak-banyak buat kalian...
__ADS_1