
Perjalanan menuju kampus Tokyo University ( Todai )
"So, ada apa kamu ingin bareng dengan Appa, Shin?" tanya Hideo sambil duduk dibelakang Audinya bersama dengan putranya.
"Appa, kita kan jarang ngobrol seperti ini jadi harusnya dimanfaatkan dong waktunya. Appa kan seringnya hukum Shin. Kata Arka dan Valentino, itu bukan sayang sama Shin, tapi sebel sama Shin. Iya kah appa? Apakah Shin menyebalkan?" Shinichi menatap Hideo dengan wajah dibuat semanyun mungkin membuat ayahnya tertawa.
"Astagaaa Shinichi! Appa itu sayang kamu! Kalau appa hukum kamu pasti ada pasal kan? Nggak pernah appa hukum tanpa ada sebab akibatnya" gelak Hideo yang tidak tahan melihat gaya putranya yang sok imut.
"Nah kan benar! Appa itu hukum Shin karena sayang sama Shin, bukan karena sebal. Dibilang kok pada nggak percaya sih!"
Hideo mengusap kepala Shinichi. "Shinichi, kamu tahu kan bagaimana proses kelahiran kamu, apalagi kami hampir kehilanganmu. Bukan berarti appa dan mommy langsung memanjakan kamu, tidak sayang. Kalau kamu salah, kami tegur, kamu pintar pasti kami puji. Pola didik kami itu sama dengan pola keluarga lain. Kamu itu punya pribadi yang unik, mungkin orang lain melihat kamu hobinya bikin darting, bikin sebal abangmu Luke tapi semua orang tahu kamu care dengan mereka. Kamu mencoba membuat mereka tetap bahagia disaat mereka butuh hiburan meskipun endingnya sebal tapi mereka gemas sama kamu."
Jin yang duduk di depan bersama dengan sopir hanya tersenyum tipis mendengar percakapan Hideo dan Shinichi.
"So, apa kamu sudah siap semuanya?" tanya Hideo.
"Sudah dong! Contekan juga!"
Hideo melotot. "Shinichiiii!"
"Yes Appa?" cengir Shinichi.
***
Tokyo University
Shinichi tiba di kampus tempat Joey, Luca, Emi, Luke dan Leia kuliah lima belas menit sebelum ujian dimulai. Remaja imut itu tampak santai mencari ruang ujian tapi karena tidak boleh masuk sebelum tiga menit ujian dimulai, Shinichi memilih duduk di bangku taman dekat ruangannya.
Di sekitarnya banyak calon mahasiswa Todai sibuk belajar, bahkan ada yang sepertinya tidak tidur dua hari karena terlihat dari mata pandanya. Shinichi hanya memilih berdoa agar diberikan kelancaran otaknya dan bisa masuk Todai seperti impiannya.
Kalau aku tidak lolos ujian yang ini, berarti harus bisa masuk tahun depan. Shinichi menengadah melihat langit biru yang cerah. Ya Allah, lancarkanlah ujianku agar aku bisa makan sushi banyak-banyak dan dimasakkan sup iga sapi sama mommy. Aamiin.
Suara bel tanda masuk ujian berbunyi membuat para calon mahasiswa pun bergegas masuk ke dalam ruang ujian.
Ketika soal mulai muncul di layar masing-masing, Shinichi tersenyum. Bismillahirrahmanirrahim.
***
Kantor PRC Group Tokyo Jepang
Fayza tampak cemas memikirkan anak lanangnya yang slengean sedang melakukan ujian masuk Todai. Sudah bukan rahasia umum lagi jika ujian masuknya super sulit dan banyak saingan dan Fayza tahu kalau Shinichi belajar dua jam, lima jam bermain game.
__ADS_1
"Duh Gusti, semoga anakku lolos masuk Todai. Aamiin." Fayza komat-kamit membaca doa untuk putra sulungnya.
"Mom, aku yakin kok mas Shin akan lolos" sahut Sakura yang ikut ke kantor sang mommy karena dia ada latihan Kendo sorenya di SMA nya yang dekat dengan kantor Fayza.
"Kok kamu yakin, sayang?" Fayza menatap putrinya yang nurun darah bulenya.
"Soalnya mas Shin sudah bawa contekan" jawab Sakura kalem.
Fayza melongo. "AAAAPPPAAAA?"
***
Ruang Ujian Todai
"Haaaattssyyiinnggg!" Shinichi mengusap hidungnya yang gatal membuat beberapa orang menoleh judes ke arahnya sedangkan lainnya tampak tidak terganggu karena sibuk berkonsentrasi.
Pengawas ujian pun menatap tajam ke arah pria imut itu yang mengangguk minta maaf. Shinichi pun melanjutkan menjawab semua soal ujiannya.
Lha di contekan nggak ada ini! Shinichi cemberut mengingat semalam dirinya merayu Luke untuk memberikan kisi-kisi ujian masuk Todai. Luke memang memberikan tapi beda tahun pasti beda pertanyaan dan ujian kali ini menurut Shinichi lebih mudah dibandingkan dengan jamannya Luke dan Leia.
Waktu ujian masih tersisa sepuluh menit tapi Shinichi sudah menjawab semua pertanyaan. Ujian masuk Todai memang melalui layar monitor sendiri-sendiri dan semua pertanyaan masing-masing peserta dibuat random jadi tidak ada yang bisa mencontek satu sama lain meskipun pertanyaan sama tapi nomor tidak sama.
***
Shinichi keluar ruang ujian dengan langkah ringan, bebannya sudah lepas dari bahunya dan tinggal menunggu pengumuman dua Minggu lagi.
Dua Minggu nganggur, ngapain ya? Bantu appa di toko emas Oma? Males. Bantu mommy, males juga. Apa ke Jakarta aja ya? Boleh nggak? Shinichi pun berjalan-jalan mengitari komplek kampus dan tanpa sadar malah nyasar ke ruang museum mahasiswa.
Dirinya terkejut melihat foto Luca Bianchi disana sebagai salah satu lulusan terbaik fakultas science jurusan matematika Todai lebih dari dua dekade lalu bersama dengan deretan alumnus lainnya.
"Wuuuiiihhh Oom Luca. Tampang kocak otak kalkulator... Kagak nyangka" komentar Shinichi sambil tersenyum.
Shinichi berjalan dan melihat foto Joey Bianchi juga ada sebagai lulusan fakultas kedokteran Todai. Dan remaja itu tertawa terbahak-bahak melihat keterangan di bawah foto Joey.
Jeoffree Bianchi, tukang bersih-bersih kamar mayat Tokyo University Hospital yang berhasil lulus kedokteran dengan nilai tinggi dan berhasil memecahkan kasus pembunuhan di Tokyo.
"Ya ampun Oom Joey... Ternyata mereka memang serius menghukum Oom jadi tukang bersih-bersih kamar mayat."
"Kamu kenal dengan dokter Bianchi?"
Shinichi menoleh dan melihat seorang pria yang seumuran dengan Joey berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Eh iya. Saya kenal dengan dokter Bianchi. Maaf, anda siapa?" Shinichi sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menghormati pria yang lebih tua itu.
"Nama saya Keito Murakami. Saya dulu... boleh dibilang musuh bebuyutan Joey Bianchi dari SMA" senyum Keito.
"No way... Jangan-jangan Anda Murakami-san yang kasus mayat di ruang seni ya?" Shinichi menatap tidak percaya melihat pria kecil di hadapannya yang merupakan sumber awal Joey dihukum di kamar mayat.
"Ya, itu saya. Boleh saya tahu nama anda, young man?" Keito menatap Shinichi dengan tatapan penasaran.
"Shinichi Park, keponakan Joey dan Luca Bianchi." Shinichi membungkuk hormat.
"Ah, kamu keponakannya? Aku kira kamu putranya Luca."
"No, Luke-niichan dan Leia-neechan sudah lulus, kalau anaknya Oom Joey, kuliah di Harvard. Apa yang Murakami-san lakukan disini?"
"Hanya mengenang masa lalu" senyum Keito. "Oh kalau kamu bertemu dengan Joey, sampaikan salam dari aku, ya Park-chan."
"Akan saya sampaikan."
Keito Murakami pun pergi meninggalkan Shinichi yang masih tidak percaya bertemu dengan musuh Oomnya.
"Benar kata Oom Joey, si Keito itu pendek. Eh tapi apa Oom Joey yang terlalu menggelontor ke atas ya?" gumam Shinichi. Suara vibra ponselnya membuat remaja itu mengambil dari tas Kenneth Cole nya.
"Assalamualaikum mommy..."
"ICHI! PULANG!" seru Fayza.
"Hah? Memang ada apa mommyku sayang?"
"Pulang kamu sekarang!" Fayza langsung mematikan panggilannya.
"Lha? Dimatiin? Aku berbuat apa lagi ya Allah?" Shinichi menatap layar ponselnya bingung.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1