
Kediaman Abiyasa dan Gandari O'Grady dua hari kemudian...
Abiyasa menatap judes ke arah dua orang yang tersenyum manis di depan lift penthousenya. Bibir pria bermata coklat dan berbadan besar itu hanya bisa komat Kamit berharap ini hanya mimpi buruk yang datang.
"Gak usah bacain ayat kursi, kita bukan setan mas" kekeh Bimasena Baskara.
"Kagak!! Gue bacain Yasin!" balas Abiyasa kesal lalu berbalik meninggalkan dua orang yang masih tersenyum lebar.
"Ya Allah mas, kita masih sehat dibacain Yasin..." sahut David Hakim Satrio sambil tertawa.
"Stupefy!" ucap Abiyasa membuat dua sepupu iparnya melongo.
"Apa? Spotify?" balas Bima dengan wajah polos meskipun tahu itu spell Harry Potter yang berarti diam dan bisa mementalkan lawannya.
"Haaaaahhh!" Abiyasa berjalan menuju ruang makan dimana Arabella berada disana.
Melihat ayahnya datang, Arabella pun langsung memeluk David. "Papaa!"
David memeluk putri semata wayangnya dan mencium pucuk kepalanya. "Kamu baik-baik saja?"
"Hu um." Arabella lalu merangkul David yang lebih tinggi darinya.
"Lho anak Lanang ku kemana?" tanya Bima yang tidak melihat Arka disana. "Halo, mbak Gandari" sapa suami Arimbi Giandra itu sambil memeluk dan mencium pipi kakak iparnya.
"Arka pergi bersama Pedro. Tadi dijemput" jawab Gandari. "David, apa kabar?" Gandari pun bergantian memeluk David. "Jangan bilang kamu akan menyamar lagi jadi banci!"
David hanya nyengir membuat Abi, Gandari dan Arabella melongo. "Serius?" seru ketiganya.
***
FBI Building Plaza Manhattan New York
Arkananta mendapatkan ijin dari Reana, sang Tante, untuk menyelesaikan urusan bersama dengan FBI dan NYPD berkaitan dengan kasus percobaan penculikan dan pembunuhan di JFK Airport beberapa hari lalu.
Mengingat Arka yang berhadapan langsung membuat Pedro harus mengajak adik sepupu ipar ikut dalam penyelidikan ini, ditambah Arka adalah keponakan Kapten Chris Bradford, head chief NYPD saat ini.
"Bang Pedro, apa sudah dapat sesuatu dari ponselnya si unsub?" tanya Arka.
"Sudah. Rupanya ada sepuluh Cell dan satu pemimpin" jawab Pedro.
"Aku dan Ara dibantu oleh Shinchan dan Valentino mencoba mencari melalui dark web. Mungkin pihak IT FBI sudah mendapatkan..." Pedro dan Arka tiba di sebuah ruangan tempat para agen dan polisi yang tergabung dalam tim 'Asian Ladies Killer' berada.
"Pedro, apakah dia Arkananta?" tanya Omar Zidane yang melihat rekannya datang bersama dengan seorang pria Asia.
"Iya dia Arka. Ka, ini Omar Zidane yang membantu Leia dan Gabriel."
Arka bersalaman dengan pria tinggi itu sambil tersenyum ramah. "Arkananta Baskara."
"Omar Zidane. Ayo, aku perkenalkan ke semua tim. Lho mana kekasih mu? Siapa namanya?"
__ADS_1
"Arabella. Dia di rumah Oom Abi karena papanya mau datang katanya" jawab Arka yang sebenarnya sedikit ketar ketir kalau David dan Bima datang karena pasti bakalan ikut merusuh.
"Oh ya sudah. Ada kamu saja sudah cukup karena kamu yang berhadapan langsung dengan unsub." Omar pun memperkenalkan ke semua anggota tim.
***
"Ka, pekerjaan kamu gimana? Bukankah kamu arsitek di PRC Group?" tanya Pedro.
"Aku cuti sementara dan Tante Reana sudah kasih ijin." Arka pun menoleh ke arah Omar. "Bang Omar, apakah isi ponsel unsub sudah ketemu dimana leader dan Cell nya bertemu?"
"Masih dalam penyelidikan. Kenapa Ka?"
"Aku tahu dimana mereka bertemu" cengir Arkananta yang sukses membuat semua orang disana melongo.
"What?" seru Billy Boyd tidak percaya ke arah pria yang sudah berusia seperempat abad tapi tampak seperti anak SMA.
"Ini, kalian cek saja disini." Arka menyerahkan sebuah flashdisk ke Omar Zidane yang kemudian memasang di main komputer.
Seketika tampak berbagai percakapan disana yang menunjukkan rasisme terhadap wanita Asia terutama Asia Tenggara dan Asia Timur.
"What the hell..." ucap Pedro.
"Nama webnya adalah BiatchAsia. Disana para anggota berkumpul untuk mengungkapkan kebencian mereka terhadap wanita-wanita Asia" papar Arkananta.
"Tunggu! Arka, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam web ini?" tanya Omar.
Arka menunjukkan sebuah akun. "Lihat ini, dia adalah seorang manager sebuah bank yang kena tipu marriage scammer dengan seorang wanita asal Philipina hingga habis ratusan ribu dollar. Bagaimana dia akhirnya membenci wanita yang mirip wanita Philippines yang berarti..."
"Wanita asal Indonesia dan Malaysia menjadi sasaran target karena mirip" gumam Pedro.
"Exactly dan unsub yang berusaha menculik wanita Malaysia kemarin..." Arka membuka bom. "Sama kan?"
Semua orang disana melongo.
"Ini mirip Siccarius hanya saja targetnya berbeda. Mereka mengincar wanita yang dianggapnya mirip dengan wanita yang menyakiti nya..."
"Sebagai pengganti" potong Pedro.
"Bingo Bang."
"Makanya korban pertama hingga Keempat meskipun sama - sama wanita Asia tapi dari ras berbeda..." gumam Billy Boyd.
"Korban pertama, berdarah India. Korban kedua berdarah Jepang, korban ketiga berdarah Vietnam, korban keempat berdarah China..." Omar membaca ras masing-masing korban yang sudah dibunuh.
"Korban semuanya dicekik dan kita semua tahu, strangulation atau pencekikan dalam pembunuhan itu berarti personal dan initmate." Billy menatap semua orang.
"Dan ukuran tangan pelaku berbeda satu dengan lainnya karena pelaku berbeda..." ucap Tracy, salah satu medical examiner yang ikut disana.
"Karena pelakunya berbeda!" ucap semua orang.
__ADS_1
"Lihat saja siapa saja yang membenci Keempat wanita korban sebelum nya." Arka menunjukkan keempat orang yang membenci empat ras wanita itu usai mengutak-atik MacBook milik FBI.
Semua orang di ruangan menatap keempat orang yang muncul disana dan semuanya tampak tidak percaya.
"Asisten jaksa perdata pun salah satu pelaku?"
***
"Kenapa asisten jaksa itu membunuh wanita India itu?" gumam Billy Boyd yang harus mengumpulkan semua bukti - bukti untuk bisa menangkap pria itu.
"Karena mantan istrinya adalah wanita India dan saat bercerai, mantannya berhasil membawa harta Gono gini 75% dari total kekayaan asisten jaksa itu" ucap Nadya Blair yang diundang Omar Zidane karena saat itu kantor advokat Blair and Blair yang mengurus.
"75%?! Berapa itu totalnya Nad?" tanya Pedro.
Nadya membuka filenya. "Hampir $10 juta."
"Pantas dia ngamuk!" ucap Omar.
"Arka, Ara baik-baik saja kan?" tanya Nadya.
"Baik. Oom Dapid dan pak Bima datang di rumah Oom Abi kok" jawab Arka yang masih membongkar praktek web itu.
"Syukurlah." Nadya menatap Omar. "Apa aku masih dibutuhkan? Soalnya aku masih harus membantu Oom Steven Hamilton."
"Sementara itu dulu Nad..." jawab Omar sambil tersenyum sedangkan Nadya melongo.
"Astagaaa demi Empire State building! Kalau cuma tanya itu kenapa tidak via telpon Omar Zidane!" hardik Nadya kesal. "Buang-buang waktu saja!"
Arka, Pedro, Nadya dan Billy sedang berada di ruang Omar Zidane.
Ketiga pria disana hanya melihat wajah kesal Nadya ke Omar.
"Sudah! Aku pulang!" Nadya memasukkan iPad nya ke dalam tas lalu berdiri untuk keluar dari ruangan Omar. "Bang Pedro, Arka, Agen Boyd, aku pulang dulu."
"Hati-hati" ucap ketiga pria yang dipamiti Nadya.
"Aku antar sampai ke bawah, Nad" ajak Omar.
Setelah keduanya pergi, ketiga orang di dalam ruangan itu hanya saling berpandangan.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1