The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Cumi Hitam


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat


Arabella bergegas menyusul Valentino yang mirip kesambet karena penasaran kenapa sebenarnya. Masa iya sih di jaman sudah canggih begini, para demit masih eksis? Kan mereka juga udah out of date! Eh tapi Tante Freya masih percaya sih...


"Mas V!" panggil Arabella ke Valentino yang berjalan gontai ke teras depan.


Valentino menoleh. "Ra, kalau kamu cuma mau ganggu mas V, mending kamu jauh-jauh deh!"


Namun Arabella ya Arabella yang keras kepalanya sama dengan kedua orangtuanya. Gadis itu langsung merangkul lengan kakak sepupunya. "Sini, sini, cerita sama Ara. Tadi didatangi demit model apa? Apa perlu minta Tante Freya bawa semua peralatannya buat mencari tahu apa yang terjadi di sawah."


Valentino melongo. "Demit? Tante Freya? Apa maksudmu Ara?"


"Kata mas Arka, mas V kesambet karena kelamaan di sawah. Kan Ara tadi mau ke sawah nggak dikasih, katanya bisa kayak mas V."


Valentino semakin terbengong-bengong. "Siapa yang kesambet?"


"Mas V."


"Yang bilang?"


"Mas Arka."


"Dapat teori dari mana dia?"


"Lha mas V masuk rumah kayak nggak connect gitu terus kata mas Arka kesambet sama demit sawah karena kelamaan disana."


"Dasar cumi hitam!"


"Mas Arka putih, mas V nggak hitam."


"Rambutnya hitam!"


"Kulitnya nggak hitam! Lagian cumi juga badannya ungu, tintanya baru hitam!"


"Ya sudah, dasar cumi ungu!"


"Rambutnya mas Arka nggak ungu!"


"Anabelle!" hardik Valentino kesal.


"Lha mas V beneran lagi bad mood ya? Ayo cerita sama Ara. Siapa tahu Ara bisa membantu Anda" sahut Arabella kalem. Gadis cantik periang itu seolah sudah ndablek ( bandel / tahan banting tergantung kondisi ) dengan amukan trio kampret dan rata-rata semua sepupu perempuannya juga begitu kalau bersama sepupu prianya.


"Kamu memangnya paham apa?"


"Soal cewek kan?" seringai Arabella sambil menggiring kakak sepupunya itu ke pojokan teras. "Tenang mas, rahasia mas V aman di Ara."


Valentino menatap sepupu rusuhnya itu. Ara memang sama resehnya dengan Shinichi tapi Arabella pandai menyimpan rahasia.


"Iya..." jawab Valentino pelan.


"Cewek mana?"


"Cewek keturunan Spanyol."

__ADS_1


"Cantik? Eh tapi cantik tuh relatif. Bisa saja aku bilang cantik tapi orang lain bilang tidak. Terus kenapa mas? Nggak mau sama mas V?"


"Bukan gitu..." Valentino menceritakan soal rayu merayu ke Arabella yang auto melongo.


"Ya Allah mas Viiiii!" Arabella langsung main cekik Valentino gemas.


"Ra...mas V ga bisa nafas!" ucap Valentino dengan nada tercekik.


"Habis! Mas V jadi orang kok sama kakunya sama Yakuza kampret sih! Dengar ya mas, cewek itu butuh kepastian biar nggak ge er! Kalau mas V mau merayu itu yang jelas, memang suka sama dia atau hanya mempermainkan! Apalagi kalian jauhan banget! Lha tuh, Jules sama mas Romeo ajah dekat jauh masih upside down padahal udah jelas mereka pacaran apalagi ini, mas V nembak kagak merayu iya. Kan Membagongkan!" Arabella mendelik ke arah Valentino.


Valentino hanya melongo. "Jadi aku yang salah?"


"Ya iyalah bambaaannggg!" ucap Arabella nyaris berteriak.


"Huwaaaaa!" Teriak Valentino dramatis.



Lebar amat V...


"Ya Allah, punya kakak gini amat ya!" keluh Arabella sambil memegang pangkal hidungnya. "Anaknya Pak Hoshi... anaknya pak Hoshi."


***


Malam harinya Valentino mencoba menghubungi Katya D'Angelo namun gadis itu tidak mengangkat telponnya. Akhirnya Valentino mengirim pesan ke gadis itu.


📩 Valentino Reeves : Kay, diangkat dong telepon dari aku. Aku mau minta maaf.


Valentino menunggu balasan dari Katya tapi tidak ada balasan dari gadis bermata biru itu. Duh, beneran ngambek deh! Mati aku!


***


Sakura membantu Omanya Marissa di toko pastry nya karena hari ini hari Minggu dan dirinya tidak ada kegiatan jadi lebih baik membantu Omanya.


Gadis itu bisa memasak tapi tidak bisa membuat pastry karena kata Oma Marissa tangannya panas jadi adonan pun malas berteman dengannya. Sakura tidak paham akan hal itu hanya mengiyakan saja tapi dia paham jenis-jenis Pastry di toko keluarganya, toko yang awalnya dibangun oleh Miki Al Jordan dan tempat Marissa bertemu dengan Marco pertama kali.


"Sakura, kakakmu tumben nggak ikut?" tanya Marissa ke Sakura.


"Lho Oma nggak tahu?"


"Tahu apa? Appa mu belum cerita apa-apa."


"Nilai test mas Shin ada yang dapat C."


Marissa melongo. "Kok bisa?"


"Mas Shin ketiduran pas test" gelak Sakura karena hal itu sangat-sangat konyol.


"Haaaaahhh? Astagaaa anak itu!"


"Jadi malam sebelum test, mas Shin main game online sama duo kampret, mas Radyta dan mas Bayu. Bubar deh!"


"Ya ampun! Trus appamu ngamuk dong?"

__ADS_1


"Ngamuk sih nggak cuma bilang 'semua kartu, appa tahan sebulan. Kalau ada remidi, ambil!'. Lha untungnya ada remidi, jadi diambil lah sama mas Shin."


Marissa menggelengkan kepalanya. Empat cucunya yang di Tokyo memang ajib semua.


Suara bel tanda ada pelanggan masuk ke cafe dan toko itu membuat semua orang disana menoleh dan memberikan ucapan selamat datang.


Wajah Sakura tampak terkejut ketika melihat siapa yang datang. "Hah? Morotin satu?"


"Halo Signora Park" sapa Alessandro Moretti.


***


Sakura menatap judes ke sulung keluarga Moretti itu sambil bersedekap sedangkan Alessandro hanya tersenyum manis ke arah bunga keluarga Park.


"Ngapain kamu disini? Bukannya kamu harusnya di Jerman?" tanya Sakura judes.


"Aku liburan sebentar jadi aku mampir lah ke Tokyo."


"Kok tahu aku disini?"


"Memangnya aku tidak boleh tahu kamu dimana?"


"Really? Apa kamu memasang GPS di ponsel aku atau kamu kirim mata-mata keluarga Moretti di Tokyo?"


Alessandro semakin melebarkan senyumnya.


"Jangan lebar-lebar senyumnya, macam Joker nya Batman tahu nggak! Nyeremin!" ledek Sakura cuek.


"Bagaimana kabar adikku? Masih mengganggu kamu?"


"Kenapa kamu tidak tanya sendiri? Bukankah kamu kakaknya? Kalian satu rumah nggak sih?"


Entah kenapa Alessandro semakin tertarik dengan gadis mungil di hadapannya dengan warna mata seperti sang mommy, biru dingin tapi menghanyutkan.


"Kalau aku bilang kami tidak satu rumah?"


Sakura tertawa sinis. "Setahu aku, orang Italia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga dan tidak mungkin kalian tidak satu rumah. la famiglia è tutto ( keluarga adalah segalanya )."


"Ma anche la famiglia può uccidersi a vicenda ( tapi keluarga juga bisa saling membunuh ), Sakura" ucap Alessandro dengan dalam dan serius.


"Apa maksudmu berkata demikian Moretti Satu?"


"Kamu akan tahu sendiri nanti jika waktunya akan tiba. Tapi sekarang, biarkan aku menikmati espresso dan croissant yang lezat ini." Alessandro menyesap espresso nya sambil menatap penuh perasaan ke arah Sakura.


Gadis itu hanya bisa menatap datar dan dingin ke arah pria Italia di hadapannya. Apa maksudnya? Apa si morotin mau gelut sama bang Lukie atau si Inferno?


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2