
Kita have fun sama Kungkang n Hedwig Yaaaaa...
Sepulangnya dari Boston usai membantu Shane O'Grady, Shinichi tampak manyun karena seolah tidak ada yang membuatnya semangat melanjutkan penelitian roketnya. Bahkan wajah imut pria itu berubah macam Kungkang yang tanpa emosi... Masuk ruang lab nya malah memainkan pensil yang diletakkan diatas bibirnya yang dimanyunkan.
Merasa tidak bisa konsentrasi di ruang laboratorium yang sepi tanpa ada suara yang cerewet mengingatkan makan, salah hitung, diskusi bersama, akhirnya Shinichi memutuskan keluar dari ruang laboratorium sambil membawa MacBook nya dan headphone beats putihnya. Tak lupa pria itu mengunci ruang laboratorium nya.
Shinichi pun mampir ke cafe yang berada di kampus untuk membeli kopi favoritnya lalu berjalan menuju taman kampus. Pria itu memasang headphone nya sambil bekerja di taman kampus.
Kungkang Galau
"Duh Burung Merak, kamu kok nggak pulang-pulang sih? Kangen tahu!" gumam Shinichi sambil mengetik program roketnya sebelum dia serahkan ke badan antariksa Nasional Jepang lusa.
"Haaaaahhh harusnya aku ikut ke MIT deh, bukan dipisah begini... Rasanya bagaikan nasi Padang tanpa karet gelang, Harry Potter tanpa Hedwig dan nimbus 2000, Songoku tanpa Dragon Ball, mobil ambulans tanpa keranda..." Shinichi terdiam. "Tunggu, kok keranda? Hiiii... Shinchan horroooorrr!" teriaknya membuat semua orang yang di taman menoleh ke arah putra sulung Hideo Kojima Park dan Fayza Sky.
"Dasar anak science, otaknya miring!"
Shinichi hanya cuek mendengar ucapan orang-orang disana karena sudah biasa melihat mahasiswa fakultas science antik-antik.
"Kamu sih Kungkang, kebanyakan nonton film horor Indonesia jadi otakmu terkontaminasi!" sungut Shinichi sambil manyun lagi.
Dirinya berusaha bekerja lagi tapi yang ada di otaknya tidak ada Kedasih membuat tidak ada semangat. "Fix ! Habis ketemu sama orang luar angkasa, aku terbang ke Boston lagi..."
Shinichi tampak berpikir. "Alasan apa lagi ya?"
Pria itu mengetuk-ngetuk kepalanya dengan pensilnya. "Masa operasi plastik jempol kaki lagi? Kagak kreatif lu, Kungkang..." Shinichi mulai tampak berpikir dan setelahnya senyuman licik muncul di bibirnya. "Percuma kamu cumlaude kalau cari alibi nggak bisa ih Shinchaaannn! Apa kata dunia kalau Shinichi Kojima Sky Park tidak bisa memakai otaknya yang jenius ini untuk kabur tanpa beban ke Boston? Hehehehe..."
Shinichi lalu bersemangat lagi untuk bekerja. Headphone nya dia lepaskan dan digantikan dengan airpods untuk menelpon seseorang.
"Halo Shane. Kapan kamu maju pra sidang kasus kamu?"
***
Ruang Dosen Profesor Takeda Tokyo University Jepang Tiga Hari Kemudian
"Kamu harus jadi saksi?" tanya Profesor Takeda yang juga opa Kedasih Jayanti.
"Iya sensei, ini suratnya sudah saya print. Saya yang bisa menemukan penjahat yang menilep uang sepupu saya. Jadi pihak kepolisian Boston meminta saya menjadi saksi." Shinichi menyerahkan surat dari Boston PD. Tapi yang profesor Takeda tidak tahu, tanggalnya sudah diganti oleh Shinichi. Harusnya dia menjadi saksi di pengadilan masih dua Minggu lagi tapi dia ganti tiga hari kedepan bertepatan di hari Selasa.
Profesor Takeda membaca surat itu dan memang tampak legit ( resmi ). Dirinya memang tahu keluarga Shinichi selalu berhubungan dengan hukum dalam arti positif karena mereka dikenal keluarga yang tidak akan menyenggol jika tidak disenggol.
"Oke Park, saya berikan waktu lima hari untuk menyelesaikan. Setelahnya kamu pulang ya karena ada pertemuan kembali dengan pihak badan antariksa Nasional Jepang."
__ADS_1
Shinichi mengangguk.
***
Kediaman Keluarga Park
Hideo dan Fayza merasa heran melihat putra mereka mengepak kopernya kembali dan bersiap pergi. Perasaan kemarin habis dari Boston, ini kenapa sudah mau pergi lagi?
"Ichi... kamu ke Massachusetts lagi? Memang urusannya dengan Shane belum selesai?" tanya Fayza saat Shinichi memasukkan koper ke dalam mobil untuk ke bandara Narita. Pria imut itu akan diantar Jin malam ini.
"Bukan soal Shane, mommy tapi soal hati Shin."
"Apakah soal Kedasih?" tebak Hideo yang tahu asisten putranya dikirim ke MIT menjadi pembicara disana selama sebulan. Dan selama itu wajah putranya yang biasa penuh semangat, macam Kungkang yang tidak punya energi.
"Appa tahu?" Shinichi tampak terkejut kedua orangtuanya tahu.
"Astaghfirullah Ichiii... Ya jelas kami tahu! Kan Dasih datang selama kita berduka tiga hari. Dia juga yang menemani kamu kan?" Fayza memegang pipi putranya gemas. "Appa dan mommy kamu suka dengan anak itu! Sudah, kamu kejar sana ke Massachusetts!"
Shinichi tersenyum lebar mendengar kedua orangtuanya mendukung dirinya bersama dengan Dash-dash.
"Shin berangkat dulu..."
"Tunggu Shin. Kalau kamu pergi lagi, apa alasan kamu ke profesor Takeda?" Hideo menatap tajam ke arah putranya karena tahu pasti anaknya membuat alasan Membagongkan.
"Memang kapan?" tanya Hideo.
"Appa mau tanggal asli atau tanggal abal-abal?" cengir Shinichi yang membuat Hideo dan Fayza melongo sedangkan Jin sudah tertawa mendengar ucapan keponakannya.
"Astaghfirullah! Aslinya kapan?" tanya Fayza.
"Aslinya dua Minggu lagi."
"Kamu buat kapan?" tanya Hideo gemas.
"Besok Selasa... Addduuuhhh!" Shinichi mengaduh saat Fayza menjewer telinganya.
"Kamu tuh Yaaaaa!" hardik Fayza kesal.
"Demi calon mantu mommmyyyy..." rengek Shinichi.
"Terus apa lagi alasanmu ke Boston lagi buat kesaksian yang asli?" tanya Hideo.
"Minta surat sakit sama Kak Rika" cengir Shinichi. Rika adalah sahabat Luke Bianchi yang menjadi dokter di rumah sakit.
__ADS_1
"Astagaaa... Kamu sudah mempersiapkan semuanya?" Fayza langsung menambah jepitan di telinga Shinichi.
"Aw, aw, aw... Demi calon menantu sekali lagi mommmyyyy..."
Hideo menatap tajam ke Jin yang sudah tertawa terbahak-bahak.
***
Apartemen Kedasih di Massachusetts
Shinichi sudah tiba di depan pintu apartemen Kedasih yang dia tahu masih ada kuliah dan pria imut itu memilih menunggu di area lorong sambil bermain game di ponselnya.
Tak lama, Kedasih pun datang dan dirinya merasa terkejut melihat Shinichi duduk manis di lantai sambil asyik dengan ponselnya.
"Mas Shin? Ngapain?" tanya Kedasih bingung kenapa belum ada dua Minggu sudah kembali ke Boston. Apa urusan dengan bang Shane belum selesai?
Shinichi mendongakkan wajahnya. "Hai Hedwig!" sapanya yang kemudian berdiri berhadapan dengan gadis yang dirindukannya
"Mas Shin masih ada urusan dengan polisi?" tanya Kedasih.
Shinichi menggelengkan kepalanya lalu memeluk Kedasih. "Kamu tahu Dashboard, aku tuh sepi di laboratorium. Nggak ada temannya... Macam Nemo nggak ada si Dori, Scooby-Doo tanpa Shaggy, Ambulans tanpa uwing-uwing..."
"Mas Shin ngomong apa sih?" tanya Kedasih bingung.
Shinichi mengurai pelukannya. "Aku sudah memakai semua rumus baik rumus massa maupun quantum tetap saja aku kembali lagi bahwa aku tidak bisa tanpa kamu."
"Tunggu mas Shin, tadi yang diomongin... ambulans tanpa uwing-uwing itu pernyataan cinta mas Shin?" tanya Kedasih yang hanya bisa beristighfar mendengar pernyataan yang diluar nalar.
"Lha harusnya gimana?" balas Shinichi polos.
Kedasih hanya tersenyum. "Kedasih juga sayang mas Shin kok..."
Shinichi tersenyum lebar.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1