
Rumah Zinnia Indramayu Jawa Barat
Shinichi keluar dari kamarnya dengan wajah cemberut membuat Zinnia yang sedang memeriksa pekerjaan Zaidan, manajer pabriknya, menatapnya bingung.
"Kamu kenapa Shin?" tanya Zinnia.
"Mbak Zeee..." rengeknya sambil duduk di sebelah kakaknya dan menyandarkan kepalanya di bahu Zinnia.
"Ada apa? Kamu dimarahi Oom Hideo lagi?"
"Masih mending dimarahi appa atau mommy. Ini lebih buruk dari itu."
"Hah? Kamu dikeluarkan dari Todai?" Zinnia menoleh ke arah Shinichi.
"Nggak mungkin lah! Appa sudah menggantikan liftnya jadi lebih bagus."
"Lha terus?"
"Profesor ku, profesor Takeda dan Dekan fakultas science membuat peraturan kalau aku harus ada asisten."
Zinnia mengerenyitkan alisnya. "Asisten?! Memangnya kamu sudah dosen?"
"Bukaaann mbak Zee kesayangannya Shinchan... Asisten disini maksudnya adalah pengawas semua kelakuan aku." Shinichi menatap kakak cantiknya itu dengan memelas. "Aku? Shinichi bukan Kudo, harus diawasi coba!"
Zinnia yang tadinya melongo akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Astaghfirullah! Bagus dong biar kamu nggak ngancurin lift lainnya."
"Aaaahhh mbak Zee, tapi kan aku tidak bisa bebas. Aku merasa ada CCTV berjalan dan hidup..."
"Memang yang jadi asisten kamu cowok atau cewek?" goda Zinnia.
"Cewek. Dan ternyata cucunya profesor Takeda..."
"Oh cewek..." goda Zinnia.
"Mbak Zeeee..." rengek Shinichi mendrama.
"Ya ampun Shin, kamu tuh udah kepala dua kok ya masih macam Arsya sih" gelak Zinnia yang gemas dengan adik imutnya.
"Aku kudu piyeeee mbak?"
"Yo ora piyee piyeee, Shin. Diterima saja dan bersyukur kamu nggak di drop out dari Todai. Lagipula kan asistennya kamu cucunya profesormu jadi anggap saja cewek itu Jules atau Garvita. Namanya siapa Shin?"
"Kedasih Jayanti, adik kelasku."
Zinnia terkejut. "Bukannya profesor kamu orang Jepang? Kok nama cucunya Indonesia sekali?"
"Bapaknya Kedasih orang Indonesia. Ibunya Kedasih yang anaknya profesor Takeda."
"Orangtuanya masih ada?"
Shinichi menggelengkan kepalanya. "Meninggal karena kecelakaan saat snorkeling."
"Duh kasihan..."
***
Kediaman Keluarga Reeves Jakarta
"Serius kamu mau ke MIT?" tanya Abiyasa O'Grady dan putranya Bayu saat Valentino menghubungi mereka untuk meminta surat rekomendasi.
"Serius lah Oom."
__ADS_1
"Apa bukan karena ada cewek yang kamu kejar?" goda Bayu.
"Dih, cewek mana?" elak Valentino.
"Katya D'Angelo." Abiyasa menjatuhkan bom membuat Valentino memucat.
"Hah?"
"Vale... vale. Memang dasar kamu valet parkir! Dikira kita semua nggak ada yang tahu..." gelak Bayu.
"Mbak Zee ya?" tebak Valentino.
"Nope. Bokap lu!" balas Bayu.
"Papa macan? Kok bisa?"
"Nih anak memang minta digantung di pohon mangga kesayangan Oom Hoshi biar jadi penunggu abadi. Kamu itu meremehkan bokap lu, Valet! Zee tidak perlu cerita, bokap lu tahu apa kejadian di Geneva. Kalau selama ini bokap lu diem saja, dia nunggu sampai elu bilang! Dad, jangan kasih surat rekomendasi buat anak cumlaude tapi bloon ini!" goda Bayu ke ayahnya.
"Hoshi oke kok sama pilihan kamu. Lagian keluarganya Katya kan kita sudah kenal lama" senyum Abiyasa.
"Jadi surat rekomendasi?" Valentino menatap penuh harap ke Oomnya yang juga alumni MIT.
"Dikasih lah. Bahaya kalau trio kampret mewek, penuh drama !" sungut Abiyasa membuat Bayu terbahak.
"Masih mewek kalau lihat gajah mati V?" goda Bayu yang tahu cerita itu dari Gasendra.
"Masih lah!" sahut Valentino cuek.
***
Kediaman Bima dan Arimbi Baskara Jakarta
"Iya papa. Memang kenapa?"
"Ngintilin itu Arabella bukan Valentino. Lagian kamu malah jauh-jauhan sama Anabelle, tar dikutuk lho!" balas Bima judes.
"Bilang saja papa yang nggak mau anaknya minggat ke New York" sahut Arkananta judes.
"Eh cumi, elu itu pindah bukan minggat. Beda komputasinya..."
"Konotasi babeh..."
"Ya apalah itu..."
"Pak Bimasena, mbok ya anaknya ini dikasih kesempatan ngebug di New York lah..."
"Kesempatan maju, Arka, bukan ngebug!"
"Ya pokoknya maksud."
Arimbi hanya menggelengkan kepalanya mendengar percakapan unfaedah antara suami dan putranya.
"Ka, benar si Valentino pacaran sama cucunya Storm Grimaldi?" tanya Arimbi yang sukses menjatuhkan sendok nya.
"Opa Storm? Si Katya D'Angelo? Parkir Valet pacaran sama cewek saingannya jaman SMA?" seru Arkananta terkejut.
"Lho? Elu kagak tahu?" tanya Bima bingung.
"Nggak. Sejak kapan? Ooohh kutu kupret bener deh tuh si kampret! Punya pacar kagak bilang-bilang! Gayanya sok cool padahal ..." omel Arkananta gemas.
"Ternyata trio kampret payah ya jeng, kurang pekok ( bodoh )..."
__ADS_1
"Peka mas Bima. Jangan suka ganti-ganti istilah deh!" tegur Arimbi. "Valentino pacaran dengan Katya sejak menemani Zee dan Arsya ke Geneva."
"Sejak tiga tahun lalu? Woooo... kutu air benar! Awas tuh kampret!" Arkananta memotong daging semurnya penuh emosi.
"Ka, bisa-bisa piring nya mamamu retak lho kalau kamu motongnya macam gitu..." tegur Bima.
PRAAKKK!
"Hah? Beneran retak?" Arkananta menatap kedua orangtuanya bingung.
"Astaghfirullah! Arkaaaa!" jerit Arimbi sedangkan Bima menepuk jidatnya.
***
Tokyo University fakultas science jurusan fisika, laboratorium fisika
Setelah menjalani hukuman skorsing tiga Minggu, akhirnya Shinichi pun kembali kuliah dan tatapan para teman-temannya membuat pria imut itu memberikan seringai usil.
"Ampun deh kamu Park!" kekeh salah satu teman kuliahnya. Pribadi Shinichi yang ceria dan mengasyikkan untuk dijadikan teman, membuat teman-temannya tidak heran jika sulung Hideo Park itu bisa berperilaku absurd. Tapi semua mengakui otak Shinichi memang cerdas meskipun out of the box.
"Untung kamu yang menghancurkan lift itu, kalau kita-kita, nggak mampu deh mengganti" sambung yang lain.
"Bagaimana dengan lift terbarunya?" tanya Shinichi kepo.
"Kita lebih suka lift baru daripada yang lama. Tahu sendiri kan yang lama suka lambat jadi sekarang lift barumu menjadi lift orang, lift lama jadi lift barang."
"Eh Park, kamu hancurkan lagi saja lift lama biar diganti sama keluarga mu."
"Eh kutu kucing, enak saja aku suruh hancurkan lift lagi! Yang ada gue di DO brengseeekkk!" omel Shinichi kesal.
Teman-temannya tertawa melihat wajah pria imut itu. Memang rata-rata teman Shinichi lebih tua darinya jadi suka menggoda pria imut itu.
"Park! Kamu dipanggil profesor Takeda!" panggil salah seorang temannya dari pintu laboratorium.
"Oke!" Shinichi pun berjalan keluar laboratorium menuju ruang kerja profesor Takeda dan dilihatnya pintu ruang kerja itu terbuka. Pria blasteran itu pun mengetuk pintu ruang sang profesor.
"Anda memanggil saya, sensei?" tanya Shinichi sopan.
"Ah, masuk Park. Ayo duduk."
Shinichi pun duduk di depan meja kerja profesor Takeda dan dirinya memperhatikan seorang gadis cantik yang duduk di sebelahnya.
"Shinichi, perkenalkan ini Kedasih Jayanti, cucuku, mahasiswa fisika juga adik kelas kamu. Dia yang akan menjadi asisten kamu selama melakukan penelitian."
Shinichi mengulurkan tangannya. "Halo, aku Shinichi Park."
Kedasih menunduk sambil menerima uluran tangan Shinichi.
"Shin, ada satu hal yang harus saya katakan padamu. Kedasih tidak bisa berbicara tapi bisa mendengar. Jadi kalau berkomunikasi, harus memakai bahasa isyarat."
Shinichi melongo. "Haaaaahhh?"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1