The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Arka - Arabella dan Shinichi - Sakura


__ADS_3

Kediaman Keluarga Baskara


Pagi ini Bima dan Arimbi sudah dipusingkan dengan keributan antara Arkananta dan Arabella. Putri David dan Anandhita itu datang pagi-pagi dengan wajah menahan tangis.


Arimbi yang melihat keponakannya seperti itu pun tanpa bertanya apapun mengajak gadis cantik itu masuk. Sesampainya di dalam Arabella langsung merengek ke Arkananta karena gambar yang dibuatnya untuk tugas praktek hilang di MacBook nya.


"Memang kamu belum save?" omel Arkananta sambil mengutak-atik laptop milik adiknya.


"Udah! Aku cari nggak ada... Mas Arka! Gimana ini! Huwaaaaa..." Arabella menangis lebay lagi membuat Bima merasa pusing.


"Jeng, aku sarapan di bengkel saja! Pening kepalaku!" omel Bima ke Arimbi.


Arimbi hanya tersenyum manis dan memberikan ciuman di pipi suaminya. "Sing sabar ya mas. Tahu sendiri Ara kayak gitu."


"Ngunu kok njaluk dadi mantune awake dhewe! Iso tambah akeh ubanku mengko ( Gitu kok minta jadi menantu kita! Bisa tambah banyak ubanku nanti )!" sungut Bima membuat Arimbi terbahak.


"Yang penting kan sudah tahu sifatnya Ara gimana jadi kan nggak perlu screening tho mas."


"Tapi nek koyok ngene marakke ndasku cumleng ( tapi kalau seperti ini bikin kepalaku pening )!" Bima manyun melihat wajah Arka tampak sebal dengan gadis cengeng di sebelahnya.


Arimbi semakin terbahak. Entah kenapa semakin tua Bima semakin parah ngomel dengan bahasa Jawanya. "Memangnya ndas pitik ( kepala ayam ). Bukan ndas mas, tapi Sirah ( kepala - Jawa halus )."


"Whatever! Bikin pusing saja!" Bima pun berjalan menuju pintu samping yang langsung menembus ke pintu masuk bengkelnya sambil membawa kotak makan untuk sarapan.


Arimbi hanya tersenyum melihat suaminya ngomel-ngomel. Ibu cantik itu pun menghampiri Arabella dan Arkananta yang masih berkutat di depan MacBook nya.


"Apa perlu panggil Oom Benji?" goda Arimbi.


"Nggak usah Ma. Ini paling Ara salah masuk folder saja... " Arkananta menghentikan ucapan. "Ini tugas kamu?" Pria itu menatap Ara dengan wajah judes.


"Eh? Lho kok... Ketemu!" seru Arabella sambil memeluk Arkananta dan mencium pipinya. "Makasih mas Arka sayang!"


"Eh Kunti! Kenapa elu masukin ke folder music, dodol ! Sampai ayam jago betelor dan menggonggong kagak ketemu bambaaannggg!" sungut Arkananta gemas.


"Eh tapi ada lho mas ayam bisa gonggong..." gumam Arabella. "Adduuuhhh!"


Arka menoyor kening Arabella penuh niat. "Sudah! Disimpan yang benar Anabelle!"


Arabella langsung mencium kedua pipi Arkananta. "I love you mas Arka."


Wajah Arkananta memerah mendengar ungkapan cinta Arabella. Arkananta mengakui Arabella adalah tipe blak-blakan seperti ayahnya tapi itulah kelebihan gadis itu yang diam-diam disukai Arka.


Arabella bukan tipe munafik.


Hanya saja Arkananta masih belum bisa menerima kondisi bersama dengan gadis yang menjadi sepupunya itu meskipun sebelumnya Oom Arga menikah dengan Tante Amaranggana yang notabene juga sepupu tapi tidak ada hubungan darah, sedangkan dirinya ada walaupun jauh dan itu pun karena pernikahan tidak langsung.


Arka menghela nafas panjang. Gimana nanti saja lah!


"Ara ada kuliah nggak hari ini?" tanya Arimbi.


"Nggak ada Tante. Mau lanjutin tugas ini. Mumpung ada mas Arka sekalian minta pendapat."


"Yang mau ngasih pendapat tuh siapa?" cebik Arkananta.


"Mas Arka lah! Memang siapa lagi?"

__ADS_1


"Itu namanya curang. Ini kan tugas kamu!"


"Yeeee ini aku sudah bikin mas Arka. Cuma minta pendapat. Bagus atau nggak. Gitu saja kok syulit!" Arabella memajukan bibirnya.


"Sudah lah Ka, kamu lihat bagaimana desain Ara, mana yang kurang aatu nggak. Cukup itu saja, lagian kan Ara sudah buat duluan jadi nggak salah kalau minta pendapat kamu" bela Arimbi.


"Nah benar tuh apa kata Tante Arimbi." Arabella menganggukkan kepalanya dengan songong.


"Mama pakai acara belain sih?" Arkananta menatap sebal ke Arimbi yang hanya mengedikkan bahunya.


"Sarapan dulu yuk!" ajak Arimbi.


"Lha Oom Bima kemana Tante?" Arabella celingukan mencari Oomnya.


"Sudah ke bengkel. Kan kamu tadi masih heboh cari file kamu" kekeh Arimbi. "Yuk sarapan. Sudah Tante buatkan mie kopyok."


"Lhaaa padahal aku habis ke Semarang makan mie kopyok di jalan Tanjung. Punya Tante seenak pak Dhuwur nggak ya?" celoteh Arabella ramai yang membuat Arka melengos.


Beneran deh Kunti satu ini!


"Dicoba dulu. Ini Tante buat juga berdasarkan resep pak Dhuwur" senyum Arimbi.



Mie Kopyok


***


Hari Kedua Festival Sekolah Internasional Tokyo Jepang



Sakura Park



Shinichi bukan Kudo


"Hei!" sapa Shinichi sambil menepuk bahu adiknya.


"Hei."


"Kamu tidak membantu temanmu?" Shinichi mengedikkan dagunya ke arah teman Sakura yang memakai baju Kendo.


"Nope. Aku kan sudah kelas dua jadi biar juniorku yang maju. Biar berani."


Shinichi tertawa kecil. "Bilang saja kamu malas ngoceh."


"Betuuulll!" cengir Sakura.


"Sebenarnya kamu dan mas Shin tuh sama saja! Sama-sama males urusan unfaedah" cengir Shinichi.


"Mas, katanya mbak Blaze mau nikah tahun depan sama mas Bebek."


"Lho jadi?" Shinichi menatap adiknya.

__ADS_1


"Jadi. Kalau mbak Dira sama bang Pedro belum tahu. Mbak Leia apalagi, masih Membagongkan sama si Abang Inferno."


"Udah, nggak usah urus mbakyu mu. Biarkan mereka memilih sendiri pasangannya, sama kan sama Bang Lukie yang masih belum jelas hilalnya." ( Ini settingnya sebelum gegeran di Turin )


"Menurut mas Shin, memang ada ya cewek yang tabah sama bang Lukie? Kalau ada, aku salut banget!"


"Kalau pun ada yang mau, pastinya kena pelet sama bang Lukie. Dimana mana, hanya cewek yang otaknya miring, hatinya Meleng sama jantungnya bagus EKG nya yang bisa menghadapi si babang Lukie. Ngomong-ngomong, bang Lukie jadi ke Seoul sama Appa dan Oom Luca?"


"Katanya gitu, diundang Oom Lee Chan."


"Kok aku nggak diajak?"


"Mas Shin kuliah ya! Mau nanti dijewer Mommy sama ditahan semua kartu sama Appa?" pendelik Sakura yang kadang gemas dengan kakaknya yang seperti anak kecil.


"Ish! Kapok aku semua kartu ditahan. Masa bongkar celengan kucing?"


Sakura terbahak mengingat saat kakaknya berbuat ulah dan semua kartu ditahan Hideo, akhirnya untuk jajan dia harus membongkar celengan kucingnya yang isinya cuma ¥10,000. Dan dia harus bertahan sebulan sebelum Hideo mengembalikan kartunya.


"Sekarang celengan kucingnya udah keisi kan mas?"


"Sudah lah! Mas jaga-jaga saja kalau appa kumat jadi rentenir!"


Sakura terbahak. "Mas Shin tar kualat lho sama appa. Mommy kalau dengar pastinya bakalan teriak 'Ichiiii bahasamu!' dan dapat jeweran mommy."


"Eh bener ya kembang Mayang, mommy kok semakin semena-mena sama kita ya?" Shinichi memajukan bibirnya.


"Kita nakal mungkin" gumam Sakura.


"Ah, kita anak baik yang rajin menabung dan tidak sombong meskipun sedikit songong..."


Sakura melongo. "Sama aja ih mas!"


"Sakura."


Kedua kakak beradik itu menoleh dan melihat Raffa menghampiri mereka.



Raffa Moretti


"Apalagi si morotin datang kesini?" sungut Shinichi kesal.


"Apa muka rata?" tanya Sakura cuek.


"Aku mau ngomong sebentar. Park, aku pinjam adikmu sebentar!" Raffa langsung menarik tangan Sakura untuk ikut dengannya.


"Banting saja dek!" teriak Shinichi kesal.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2