The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Kelakuan Unfaedah


__ADS_3

Mansion Giandra Jakarta Indonesia


Menjelang sore, para keluarga besar sudah banyak yang kembali ke kediaman keluarga masing-masing di Jakarta. Rumah milik keluarga Pratomo di Jakarta masih terawat rapi karena para anggota keluarga selalu menjaga, merawat dan merenovasi jika terjadi kerusakan.


Di mansion tinggal para generasi keenam tidak lengkap karena yang sudah menikah dan punya anak, memilih kembali ke rumah keluarga atau ke hotel.


"Ini yakin bakalan ke Ancol? Kagak ada tempat yang lebih spektakuler gitu?" tanya Arkananta.


"Apa mau ke PIK?" tawar Dewa.


"Hhhhmmm... " Valentino tampak berpikir.


"Lebih baik kita di sini saja yang bujang-bujang. Kita main game! Kan ruang tengah mansion luaaasss... jadi kita pasang PlayStation disana" usul Shinichi.


"Lha kita ada banyak..." celetuk Mamoru.


"TV yang ada kamar, kita ambil setting di ruang tengah. V, Romeo, dan Radyta, ambil PS dan perlengkapannya. Kita main disini. Lainnya bantu lepas tv buat dipasang disini" perintah Dewa.


"Lho kalian kok malah masih disini? Nggak jadi ke Ancol? Katanya mau naik yacht?" tanya Bagas Hadiyanto yang baru dari belakang usai mengobrol dengan Bara, Iwan dan Levi untuk berbicara soal bisnis dan banyak hal.


"Nggak jadi Pa. Ada yang mabok laut" jawab Dewa.


"Siapa?"


Semua orang menunjuk ke Ken Al Jordan.


"Haaaaahhh? Anak Dubai bisa mabok laut?" komentar Bagas bingung.


"Itu juga yang aku bilang Pa. Payah kan?" kekeh Dewa durjana.


"Ken, kamu itu Ter...la...lu" goda Bagas.


"Ya Allah Oom Bagas, jangan jadi Rhoma Irama lah!" sungut Ken sambil manyun.


"Terus acaranya apa ini kalau nggak jadi naik yacht?" tanya Bagas.


"Main game sampai pagi!" seru para cowok - cowok tampan disana membuat Bagas menepuk jidatnya.


"Ampun deh kalian itu..."


***


Jayde berada di gazebo halaman belakang sembari menghubungi Inggrid Pascale. Dan tak lama wajah gadis cantik itu tampak di layar ponsel Jayde.


"Hai..."


"Hai. Kamu dimana? Aberdeen?" tanya Jayde.


"Nope. Manchester. Bagaimana acara sepupu kamu?"


"Kacau seperti biasanya" senyum Jayde.


"Jayde! Kamu mau ikut nggak?" teriak Shinichi saat melihat sepupunya di gazebo.


"Ikut apa?" balas Jayde.

__ADS_1


"Main game semalam suntuk!"


Jayde melirik ke arah Inggrid. "Ikut!"


"Oke!" balas Shinichi.


"Main game? Astagaaa..." kekeh Inggrid.


"Ya begitulah... Aku akan pulang sebelum malam tahun baru." Jayde menatap lembut ke Inggrid.


"Hati-hati. Apakah Triad Wong mengikuti mu sampai Jakarta?"


"Maybe tapi mereka cukup idiot kalau mau berbuat ulah disini karena semua iparku yang berpengaruh berada disini semua."


"Ah iya. Iparmu itu kan raja Belgia, Mafia Turin, Yakuza Takara, CEO MB Enterprise, Giandra Otomotif Co, PRC Group..." senyum Inggrid.


"Kamu natalan di Manchester?" tanya Jayde.


"Yup."


"Tahun Baru?"


"Jayde, bukankah kamu hapal jika aku paling malas ke Aberdeen karena ceramah kakek?" gelak Inggrid.


"Hahahaha. Ya sudah. Sampai bertemu malam tahun baru, Grid."


"Have fun Jayde. Salam buat Wira. Congrats buat Arka dan Arabella..."


"Thanks Grid. See you soon. Bye" pamit Jayde.


***


Bara, Iwan, Arum dan Danisha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat para cucu mereka malah asyik bermain game macam anak SMA.


Keempat Opa dan Oma itu tertawa saat Mamoru dan Giordano berantem gara-gara game Tekken hingga harus dipisahkan oleh Remy. Belum manten anyar Arkananta dan Valentino malah marah-marah main Mortal Kombat.


"Ya Allah, Dis. Itu gimana si Arka malah main game bukannya sama Arabella..." gumam Bara ke Arum.


"Biarin saja lah. Namanya juga Arka" senyum Arum. "Lho dik, Wira kemana?"


"Wira tadi pergi sama Luke. Nggak tahu kemana mbak" jawab Danisha.


"Itu anak sudah tahu mau ambil apa spesialis nya?" tanya Bara.


"Belum tahu mas. Kalau Romeo kan ambil jantung, kalau Wira masih menggalau belum tahu dan pasti mau kemana" senyum Danisha. "Biarin saja lah dia mau ambil spesialis apa yang penting memang passionnya disana."


"Ega dan Anjani juga tidak tahu anak itu mau ambil apa?"


"Nggak tahu mas Bara. Tapi kalau aku boleh bilang, paling Wira ambil tidak jauh-jauh dari saudara-saudaranya. Bedah atau malah penyakit dalam" jawab Iwan.


Bara mengangguk. Kini para opa dan Oma duduk di sofa ruang tengah sambil melihat para cucu mereka yang sudah bekerja, menikah, kuliah dan SMP tapi masih saja kelakuannya macam anak remaja.


***


"Astaghfirullah! Kalian masih main game?" desis Amaranggana, istri Anarghya, melihat Valentino dan Arkananta masih asyik bermain mortal kombat menjelang jam dua pagi.

__ADS_1


Para sepupunya yang lain sudah pada tepar dan tinggal mereka berdua yang masih main game.


"Sebentar Tante, dikit lagi..." jawab Arkananta.


Amaranggana yang terbangun karena hendak mengambil air minum, terkejut melihat dua keponakannya masih betah melek.


"Kalian itu!" Amaranggana pun langsung menjewer telinga keduanya dengan kesal.



Anggap aja begini yaaaa...


"Aw...aw...aw... Tante..." rengek keduanya.


"Arka tidur! Kasihan Arabella tidur sendirian! Ya Allah, kamu itu sudah nikah! Masa istrimu ditinggal begitu saja demi game?" hardik Amaranggana.


"Iya Tante Amara..." jawab Arka sambil meringis kesakitan.


"Kamu juga V! Astaghfirullah! Pada nggak ingat umur apa kalian itu!" bentak Amaranggana.


"Maaf Tante..." jawab Valentino.


"Pergi tidur kalian berdua!" ucap Amaranggana final.


***


Kamar Arabella dan Arkananta.


Arkananta pun masuk ke dalam kamar pengantinnya meskipun ini kamarnya setiap menginap di mansion Giandra. Tampak Arabella sudah terlelap dengan nyenyaknya dan Arkananta menuju kamar mandi untuk gosok Gigi dan bersih-bersih.


Setelahnya, putra Bimasena Baskara dan Arimbi Giandra itu pun meletakkan tubuhnya di sebelah Arabella. Dilihatnya wajah istrinya yang tidur sambil terbuka mulutnya.


"Ya Allah bini gue, kagak ada cantiknya kalau molor. Mana ngorok pulak! Ampun deh Ara tuh! Dari dulu, tetap suka ngorok. Untung udah hapal dari jaman brojol jadi kagak kaget... Huwaaaahhhhmmm" Arkananta menguap. "Dah tidur..."


Tak lama Arkananta pun ikut terlelap. Jika ada yang bisa melihat kondisi pasangan pengantin baru itu, tidak ada mesra-mesranya, yang ada hanyalah saling adu mengorok satu sama lain. Pasangan paling tidak romantis dan tidak ada jaimnya.


***


Kediaman Keluarga Ramadhan


Sadawira merokok di luar balkon kamarnya di rumah sang opa Arya Ramadhan. Rumah keluarga Ramadhan memang ramai tadi apalagi kehadiran Adrian dan istrinya Lovisa Wallin yang memiliki kulit eksotis karena mix race antara darah Swedia - Indonesia - Philippines. Kedua sepupunya, Stefan dan Thea juga berbeda warna kulit meskipun kembar dan tidak identik wajahnya, tidak seperti Radhi dan Raine yang mirip satu sama lain, Thea lebih mirip sang mommy yang berkulit coklat sedangkan Stefan mirip Adrian yang berkulit putih. Thea kuliah di fakultas Hukum, sedangkan Stefan di teknik mesin. Keduanya kuliah di Stockholm University.


Mata elang Sadawira melihat sebuah mobil terparkir di seberang jalan rumah opanya. Dia tahu mobil itu terparkir disana lima belas menit setelah dirinya sampai.


Ada tikus berusaha menjadi Meerkat.


Sadawira mematikan rokoknya dan masuk ke dalam kamarnya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2