
Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang
Shinichi datang ke kampusnya sambil manyun setelah ribut dengan Hideo karena tidak mendapatkan uang saku untuk jajan. Hideo mengatakan bahwa usia Shinichi sudah bukan ABG jadi sudah sewajarnya untuk bisa mandiri.
Disaat Shinichi mengomentari mandiri \= mandi sendiri, hukumannya ditambah lagi, tidak ada jatah makan malam buat hari ini. Entah kenapa, Shinichu merasa appa kulkasnya sedang menguji iman, imun, imron dan Ali baba dalam tubuhnya.
Tunggu dulu? Siapa Ali baba?! Jinnya Aladin kah?! Duh andaikan ada lampu Jeannie in the bottle, sudah terjamin deh hidupku... Shinichi terkejut melihat kubikel nya sudah ada Kedasih dengan wajah cemberut.
"Ohayo Hedwig"
Hedwig?
"Hedwig kan lucu... Putih, imut, menggemaskan macam aku" senyum Shinichi sambil memasang wajah imut.
Ini nggak imut! Kedasih menunjukkan memo yang sudah kusut kena remas ke pria itu. Mas Shin mikir nggak sih?
"Kagak."
Kedasih tampak harus mengontrol emosinya. Jangan suka seperti ini, mas Shin! Dimana tanggung jawab kamu untuk penelitian? Ingat mas, sebentar lagi mas Shin akan presentasi depan NASA dan bada roket Jepang! Bisa amburadul nanti!
"Kan ada kamu Diner Dash..."
Kedasih melongo. Apaan diner Dash?!
"Itu lho, game restaurant yang lari-lari kasih makanan sesuai dengan warna baju. Kedasih... Dasih ... Baca cepat jadi Dash. Terus keingat diner Dash. Benar kan?" jawab Shinichi cuek.
Game Diner Dash
Kedasih benar-benar kesal luar biasa hingga tidak bisa mengontrol emosinya hingga berteriak.
"Mas Shin!"
Shinichi dan beberapa rekan di laboratorium terkejut mendengar bentakan Kedasih ke pria imut itu.
Kedasih menutup mulutnya dengan wajah tampak terkejut.
"Burung gereja, kamu bisa ngomong?" celetuk Shinichi yang juga kaget mendengar Kedasih keluar suaranya. "Coba bilang lagi. Pelan-pelan."
Kedasih berusaha berbicara tapi tidak ada suara yang keluar. Shinichi menepuk kepala Kedasih pelan. "Setidaknya suaramu tidak seperti Lina Lamont di film Singing In The Rain."
Kedasih hanya tertawa mendengar komentar Shinichi karena dia sudah menonton film itu beberapa kali.
***
Harvard University Seminar Arsitektur
__ADS_1
Radeva dan Arkananta kini berada di sebuah ruang kuliah arsitektur fakultas teknik arsitektur untuk mengikuti acara seminar perkembangan dunia arsitektur.
Kedua pria itu tampak serius karena sebagai arsitek, mereka tetap harus update segala sesuatunya apalagi selera pasar yang berubah sama halnya dengan baju, sepatu maupun tas.
Usai mengikuti acara seminar, keduanya lalu berjalan - jalan mengelilingi kampus yang terkenal itu.
"Dev, kita pulang naik apa enaknya? Kereta atau pesawat?" tanya Arka ke sepupunya.
"Naik kereta saja gimana? Kita semalam nginap disini biar kumpul sama V dan Katya buat makan malam, baru besok paginya kita naik kereta pulang ke New York." Radeva menoleh ke Arkananta.
"Boleh lah. Sudah lama tidak naik kereta juga."
"Kamu pesan tiketnya dulu saja Ka. Biar bisa santai kita."
Arkananta mengangguk lalu mengambil ponselnya.
***
The Hourly Oyster House Restaurant Near Harvard University
Malam harinya Katya makan malam bersama dengan Valentino dan kedua sepupunya di sebuah restauran seafood. Mereka memesan makanan favorit masing-masing dan menikmati acara mengobrol malam itu.
"Eh, si kedasih kata Kungkang sempat bisa bentak dia" celetuk Valentino saat membaca pesan dari Shinichi yang bertanya bagaimana cara membuat asistennya bisa berbicara.
"Hah? Akhirnya keluar suaranya Kedasih?" tanya Arkananta surprise.
"Katanya tadi bentak dia sih. Terus habis itu nggak keluar lagi" jawab Valentino.
"Jadi?" tanya Radeva. "Si Kungkang bikin Kedasih marah terus biar keluar suaranya?"
"Bukankah Shinichi paling fasih untuk membuat orang emosi?" balas Katya sambil tersenyum.
"Iya sih" ucap ketiga pria itu sambil melengos.
"Kita kan tahu Kedasih trauma melihat kedua orangtuanya meninggal di depannya tapi itu kejadian sudah berlalu dan mungkin sekarang rasa trauma itu sudah mulai terkikis ditambah sikap dan sifatnya Shinichi yang fun dan menggemaskan..."
"Shinchan tidak menggemaskan!" potong Valentino, Arkananta dan Radeva bersamaan membuat Katya cekikikan.
"Tapi menurut aku gemesin ah!"
Valentino mendelik ke arah kekasihnya. "Dia tidak menggemaskan, Kay! Dia menyebalkan!"
Katya semakin terbahak. "Anyway, jika salah satu caranya untuk membuat Kedasih berbicara dengan membuatnya emosi, kenapa tidak?"
"Mungkin kamu benar, Katya. Kadang cara ekstrim dilakukan untuk menghilangkan trauma" senyum Radeva.
***
__ADS_1
Kamar Shinichi di Tokyo Jepang.
Shinichi baru membaca pesan dari Valentino dan Katya yang mengatakan bahwa ada kalanya dengan membuat Kedasih jengkel, bisa membuatnya berbicara lagi seperti kemarin.
"Buat kesal Kedasih? Gampaaaanggg!" cengir si imut. "Yak, mari kita buat si burung Woody woodpecker bicara lagi soalnya kata Opa Ashley, pahalanya banyak. Biarlah tabungan celengan kucingku tidak banyak ditambah punya adik macam kembang kantil yang pelitnya minta ampun, tapi setidaknya tabungan pahala aku banyak dicatat malaikat... Eh tapi kalau bikin si Dasih marah itu berkurang nggak ya pahalaku? Duh aku galaaauuu..."
Shinichi mengambil tas nya dan membuka celengan kucingnya untuk mengambil uang ¥2000 dan $50 dari dompet simpanan khusus dollar. "Yuk, kita buat si burung bulbul bicara! Bismillah!"
***
Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang
Kedasih melirik ke arah Shinichi yang dengan cueknya menempel dirinya yang sedang menghitung kalkulasi rocket yang masuk ke phase dua.
Si imut yang usil
Mas Shin? Ngapain?
"Lihat hasil kalkulasi kamu lah" jawab Shinichi cuek.
Agak jauhan kenapa?
"Lha kalau jauh kan nggak kelihatan Dash-dash."
Kedasih melengos. Kenapa sih mas Shin suka manggil aku seenaknya sih? Jangan-jangan mas Shin habis dihukum ayah mas Shin ya?
"Kok feeling kamu benar sih, Dasih? Iya nih appa memarahi aku, dan semua fasilitas aku di tahan. Lihat, dompet aku..." Shinichi membuka dompetnya. "Hanya ada ¥1000 dan $50! Aku miskin, Kedasih... "
Kedasih hanya menggelengkan kepalanya. Nasib malang.
"Kamu kok tega sih? Tadinya aku tuh ada ¥2000 tapi kan sudah aku pakai buat naik kereta ¥1000. Mau ke money changer buat tukar yang dollar kok eman-eman. Jadi, bisakah kamu menyokong aku selama tiga bulan ini untuk makan? Kasihanilah aku, burung merpati. Nanti kalau keimutan aku hilang, bagaimana? Kalah aku sama Arsya..." Shinichi menatap Kedasih sambil berkedip-kedip dan memajukan bibirnya membuat Kedasih memicingkan matanya sebal.
Kan bisa ambil cashless pakai handphone!
"Kok kamu tahu sih?" cengir Shinichi. "Tapi nanti ketahuan Appa kalau uang nya aku ambil... Jadi, aku mohon padamu, kamu yang sokong perutku ya? Pleeaaassseeee?"
Kedasih menggelengkan kepalanya tanda menolak permintaan Shinichi tapi pria itu tetap mengeyel membuat Kedasih lama-lama jengkel dengan kecerewetan kakak kelasnya itu.
"Mas Shin menyebalkan!" pekik Kedasih kesal.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️