The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Kedasih Berbunyi


__ADS_3

Tokyo Jepang, Bandara Narita


Rombongan keluarga Bianchi, Park dan De Luca tiba di bandara internasional Narita. Michel dan Gemini bersama dengan Nora dan Xena akan langsung ke apartemen dekat rumah sakit yang akan dipakai oleh mereka selama Gemini berobat.


Keluarga Bianchi kembali ke mansion Al Jordan - Bianchi sedangkan keluarga Park pun kembali ke rumah mereka. Di dalam mobil Audi milik Hideo yang disupiri oleh Jin, Shinichi tampak cemberut mendengar Sean Léopold melarang dirinya datang ke Belgia.


"Kamu kenapa Ichi?" tanya Fayza.


"Bang Sean itu begitu naik tahta langsung keluar diktaktor nya! Tega sekali tidak mengijinkan adiknya yang imut ini masuk Belgia! Apa dia tidak ingat, siapa yang mendidik Arsya menjadi anak yang pintar dan ketularan imutnya Oom Shin satu ini?" gerutu Shinichi sebal membuat Jin tersenyum sedangkan Hideo menulikan telinga nya malas mendengar keluh kesah putra sulungnya.


"Lha kamu apa nggak lihat, Arsya itu plek ketiplek kamu kalau soal lebay! Soal cool mirip Valentino, soal cablak mirip Arka. Lengkap kan pusingnya Sean?" ucap Fayza.


"Lagipula Shin, Arsya kan calon raja Belgia. Ya wassalam kalau lebaynya ikut kamu!" timpal Hideo.


"Aku tuh nggak lebay appa..."


"Terus apa?"


"Imut, lucu dan menggemaskan" jawab Shinichi dengan wajah yakin sembari mengedipkan sebelah matanya membuat Fayza melongo.


"Astagaaa! Anak ini!"



Si Kungkang yang menggemaskan... ( kata dia sih )


Jin yang biasanya dikenal kaku, tertawa mendengar ocehan receh putra bossnya. Asisten Hideo lah yang tahu bagaimana perjalanan asmara bossnya dengan Fayza yang jatuh bangun hingga nyaris nyawanya melayang di bawah todongan pistol Ashley Sky dan The infinity one kalau saja Chris Bradford tidak menembak orang yang hendak membunuhnya. ( Baca Mafia kampret... eh... Love and Revenge of Mr Mafia dan The Four Emirs )


Belum saat Shinichi baru lahir beberapa jam, nyawa bayi itu juga nyaris melayang oleh mantan kekasih Hideo. Jin sendiri memilih tidak menikah karena baginya mengabdi ke Hideo dan Fayza yang menjadi bagian keluarganya adalah sesuatu yang dia tidak mau berbagi konsentrasi dengan keluarganya sendiri. Apalagi Hideo sekarang dipusingkan dengan kedua anaknya yang memiliki sifat berbeda namun persamaan receh. Ditambah Sakura sekarang dikejar oleh dua kakak beradik Moretti, menambah beban pikiran pria berdarah Korea dan Jepang itu.


"Oom Jin. Kira-kira ada cara bisa menyusup ke Brussels nggak tanpa ketahuan bang Sean?" tanya Shinichi ke Jin.


"Nanti saya pikirkan, Shin" cengir Jin yang membuat Hideo dan Fayza melotot.


"Jangan aneh-aneh deh Jin!" hardik Hideo.


"Aaahhh Oom Jin memang the best! Nanti kita atur strategi apakah perlu pakai acara teriak 'Shazam' biar aku berubah bentuk atau gimana" ucap Shinichi sambil menepuk pundak Jin.


"Tenang saja Shin, tidak perlu jadi Billy Batson harus teriak Shazam" kekeh Jin.

__ADS_1


Hideo menoleh ke arah istrinya. "Fay, mereka berdua ngomong apaan sih?"


Fayza hanya mengedikkan bahunya.


***


Jakarta Indonesia, ruang kerja Hoshi dan Levi


"Sakura, Opa tahu kamu dan semua cucu Opa khawatir dengan Mintang, tapi Mintang kan sudah dewasa..." ucap Ashley melalui panggilan video dengan dua cucunya.


"Opa, aku tahu akan hal itu tapi selama ini kan mbak Mintang memilih untuk dihadapi sendiri dan tidak mau meminta bantuan kita. Baru sekarang kan mbak Mintang minta tolong?" ucap Sakura.


"Iya sayang, Opa tahu. Memangnya hanya kamu yang tidak suka dengan caranya Krisna membuat kakak kamu seperti itu? Terlepas dia memang mencintai Mintang, tapi cara mencintainya salah."


"Untungnya Krisna bukan orang yang obsesinya membabi buta, setidaknya dia masih waras Opa dengan memberikan kebebasan ke Mintang bersosialisasi. Rata-rata orang obsesi itu cenderung memilikinya obyek itu hanya untuk dirinya seorang" sahut Valentino.


"Kamu benar, Valentino. Tapi kalau Krisna berani begitu, Opa sendiri yang akan maju!" Ashley menatap kedua cucunya. "Bagaimana keadaan Krisna?"


"Hancur Opa. Dia tampak sangat kehilangan Mintang."


Ashley mengangguk.


***


Shinichi mendatangi laboratorium Fisika tempat roketnya dibuat. Karena masih liburan semester dan masa orientasi mahasiswa baru, jadi tidak banyak orang di laboratorium itu.


Dengan santainya, pria imut itu mengambil MacBook nya dan menyalakan semua atribut di roketnya untuk menghitung semua kalkulasi setelah sebelumnya pihak NASA dan badan Antariksa Jepang ingin agar kecepatan roket Shinichi lebih cepat dari milik NASA sekarang.


Shinichi sendiri mendapatkan ruang penelitian sendiri usai Dekan fakultas science kagum dengan hasil penelitian mahasiswanya yang sedang menyelesaikan program magister nya.


Suara pintu terbuka membuat Shinichi menoleh dan tampak Kedasih datang dengan gaya santainya sambil tersenyum. Ruang penelitian milik Shinichi hanya ada dua orang yang bisa masuk, dirinya dan Kedasih karena memang penelitian keduanya sangat classified.


Mas Shin kapan datang? Gimana pernikahan Juliet?


"Kemarin datang. Tuh, aku bawakan oleh-oleh makanan buat kita ngemil disini daripada harus pesan online."


Kedasih membuka dua paper bag disana dan menemukan banyak Snack yang dibawa Shinichi dari Jakarta termasuk kotak-kotak makanan berat yang tinggal dipanaskan di microwave yang terletak area pantry laboratorium.


Waaaahhhh banyak makanan! Kedasih mengambil kotak moachi dan mengambil sarung tangan lateks lalu memakai nya sebelum memakan kue kenyal itu agar tangannya tidak terkena bubuk tepung.

__ADS_1


"Enak?" tanya Shinichi saat melihat Kedasih memakan moachi nya.


Gadis itu mengangguk. Beli dimana mas?


"Oleh-oleh dari Semarang, pas Oom aku kesana sebelum acara nikahannya Juliet."


Beda sama moachi Jepang.


"Ada bakpia juga tuh." Shinichi bersyukur oleh-oleh yang dipesan oleh David datang pagi sebelum mereka terbang ke Tokyo jadi masih fresh.


Kedasih tampak heboh melihat makanan yang belum dia pernah lihat di Tokyo apalagi dibawa langsung dari negaranya.


"Oh, nanti kita beli nasi saja burung kenari. Aku lupa kalau sudah digorengi bandeng presto. Sambalnya enak!" celetuk Shinichi.


Mas Shin ingin aku gendut?


"Kamu naik sekilo dua kilo masih cantik kok! Lihat adikku, badannya berisi pipi chubby, bukan kriteria idol tetap saja dikejar dua cowok tidak jelas. Kamu kalau terlalu kurus juga nggak bagus. Macam tengkorak berjalan... Horor tahu!"


"Mas Shin! Aku nggak kurus!" bentak Kedasih manyun.


"Berarti kamu oke dong temani aku makan banyak-banyak soalnya semua makanan yang di paper bag itu harus habis hari ini, kalau nggak besok nggak enak!"


Kedasih melongo. Are you kidding me?


"Lho yang kidding tuh siapa? Mukaku serius ini..." ujar Shinichi sambil memasang wajah serius.


Kedasih tertawa. "Mas Shin, aku kok heran kamu bisa masuk fisika..." Kedasih terhenti bicaranya membuat Shinichi terkejut.


"Akhirnya bisa bicara juga kamu burung kutilang! Alhamdulillah!" seru Shinichi sambil memeluk Kedasih erat.


Kedasih yang terkejut bisa berbicara tanpa harus dipancing emosinya tampak menangis haru suaranya sudah kembali.


"Eh kok kita berpelukan macam Teletubbies sih?" gumam Shinichi di sisi telinga Kedasih membuat gadis itu tertawa dalam tangisnya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2