The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Tiba Di Indramayu


__ADS_3

Perjalanan ke Indramayu


"Mbak Leia katanya masih dikejar-kejar Si Dante Inferno" ucap Shinichi.


"Mbak Leia mah wajar dikejar mafioso, wong auranya juga mafioso. Kalau bang Lukie lebih ke Yakuza macam Tante Emi, mbak Leia mirip Oom Luca" timpal Valentino.


"Tapi paling parah mbak Dira ya. Gila hampir mokat dengan banyak bom di ruangan..." gumam Arkananta.


"Untung tuh ada Oom Chris disana. Eh apa benar mbak Dira sama agen FBI itu? Siapa namanya... Pedro Pascal?"


"Katanya sih. Tahu tuh Oom Jendra kasih apa nggak, Shin. Secara kan mbak Dira hampir gadha..." timpal Arkananta.


"Kata Eagle, si Pedro memang naksir mbak Dira" ucap Valentino sembari membaca pesan di ponselnya.


"Kamu chat sama Eagle?" lirik Arkananta.


"Lha kalian pada bahas mbak Dira, ya aku tanya sama adiknya lah!"


"Eh rest area depan, mampir bentar dong!" rengek Shinichi.


"Kenapa? Kebelet pipis?"


"Bukan Ka, gue mau bertapa" cengir Shinichi.


"Eh buset! Kenapa elu malah mules?"


"Habis tadi makan ayam geprek di rumah Oma elu Ka, sambalnya juara tuh! Oma Gendhis kalau buat sambal emang jagonya! Mommy kalah lho, secara mommy kan ga begitu pintar ngulek sambal..."


"Memang Tante Fayza ga suka sambal?" Valentino menoleh ke belakang tempat Shinichi duduk.


"Suka tapi paling sering bikin sambal matah. Kalau sambal terasi atau sambal bawang, menurut aku sih masih enak punya Oma Gendhis."


Mobil Arkananta pun berbelok ke rest area dan Shinichi langsung melesat ke kamar mandi sedangkan Arka bersama Valentino menuju Starbucks. Keduanya memesan kopi dan Snack sambil menunggu Shinichi memberikan tabungan di kamar mandi.


"Aku sudah bilang sama Arabella kalau menyiapkan kamar buat mbak Zee di RS PRC" ucap Arkananta.


"Kamu sama Ara gimana Ka? Stagnan atau gimana?"


"Meskipun Ara cerewet tapi dia memang cewek yang bisa diandalkan... Kita lihat saja lah V ke depannya. Ara sih yakin gue jodoh dia tapi kan kita nggak tahu kalau tiba-tiba ada yang lain" jawab Arka sambil menyesap minumannya.


"Kalau Ara bukan jodoh kamu?"


"Ya kalau bukan jodoh, mau dipaksa gimana pun kalau bukan ya tidak bakalan bersama."


"Menurutmu mbak Zee dan bang Sean gimana? Kita semua melihat kan bagaimana hancurnya hati bang Sean saat mbak Zee pergi."


"Menurutku mbak Zee dan bang Sean itu jodoh cuma lagi terpisah sebentar. Aku sih berharap Oom Ayrton bisa memberikan kesempatan lagi sama bang Sean tapi ya kalau masih marah ya susah..." ucap Arka.

__ADS_1


"Aaaaaahhhh, Alhamdulillah lega Lila loh jinawi..." seru Shinichi yang sudah selesai melakukan bertapa di kamar mandi.


"Cuci tangan dulu kungkang!" cebik Valentino.


"Eh sudah ya! Nih cium tangan gue!" Shinichi menyodorkan tangannya ke Valentino.


"Ih jorok kungkang!" protes Valentino sambil menutup hidungnya.


"Pesan kopi dulu..." Shinichi pun berdiri dan menuju ke tempat pesan kopi.


"Gue rasa si kungkang bakalan paling susah dapat cewek deh!" gumam Arkananta.


"Kenapa?"


"Siapa yang betah sama cowok cerewet, seenaknya sendiri, tukang ganti nama, pola pikirnya selalu out the box plus absurd?"


Valentino tertawa. "Mirip siapa coba?"


"Opa Eiji!" seru mereka berdua lalu tertawa. Para generasi keenam memang tidak pernah bertemu dengan Eiji Reeves, pianis durjana generasi ketiga tapi mereka bisa melihat video acara keluarga yang biasa diputar saat kumpul - kumpul lebaran.


"Heran benar deh, Oom Hideo kulkas, Tante Fayza kalem, anaknya nongol Shinchan." Arka menggelengkan kepalanya.


"Apaan nongol Shinchan?" tanya Shinichi yang datang membawa kopi dan croissant.


"Elu kok bisa nongol dari ortu kulkas dan kalem sih?"


Valentino dan Arkananta melongo ke arah pria imut itu.


"Dan sejak ada aku sama kembang kasturi, rumah kami jauh dari kata damai, membuat appa menjadi lebih manusiawi dan banyak senyum. Meskipun appa masih saja jealous dan julid mode on kalau aku pergi berdua sama mommy. Herman, secara gue kan anaknya, sembilan bulan di dalam perut mommy, nyaris mokat sama mantan appa, kok ya nggak boleh sih pergi berdua sama mommy. Bukannya mending mommy pergi sama aku daripada sama pria lain ya?" gumam Shinichi sambil menerawang.


Valentino dan Arkananta hanya melengos, capek mendengar ucapan Shinichi yang semakin kemana-mana.


***


Rumah Zinnia


"Trio kampret mau kemari mbak?" tanya Gasendra yang baru datang dari Bandung ke Zinnia kakaknya.


"Iya. Kata Oma Gendhis sudah perjalanan..." suara Zinnia terhenti ketika mendengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah.


"Mbak, yakin kamu ditemani trio kampret sebelum lahiran? Aku tidak mau lho keponakan aku terkena doktrin unfaedah dari trio kwek-kwek itu!" sungut Gasendra, remaja usia akhir yang memiliki tubuh tinggi seperti opa Karl dan ayahnya Ayrton.


"Mbak Zeeee!" teriak Shinichi yang membuat semua orang menoleh dan menggelengkan kepalanya begitu tahu siapa yang heboh.


"Kagak usah teriak-teriak Shinchan!" hardik Gasendra kesal.


"Lha tiang listrik udah datang!" cengir Shinichi yang memang kalah tinggi dengan Gasendra yang memiliki tinggi 189cm.

__ADS_1


"Kampret! Enak saja bilang aku tiang listrik!" sungut Gasendra manyun.


"Capek kah?" tanya Zinnia yang sedang hamil besar keluar ke teras.


"Mbak Zeeee!" Shinichi langsung memeluk kakaknya lalu berbisik di perut besar Zinnia. "Halo boy, ini Oom Shinichi bukan Kudo. Tenang boy, nanti Oom Shin ajarkan bagaimana main Tekken pakai cheat! Oh kalau boy manut sama Oom Shin, nanti dibeliin gelato. Atau kamu mau mekdi, kaepci atau Wendy's?"


Zinnia melongo mendengar ucapan Shinichi. "Shin, si boy kan baru boleh minum asi."


"Lho biar cepat besar macam Oom Shin nya ini yang imut dan menggemaskan..."


"Shinchaaannn! Ini bawa dulu barangnya, Kungkang! Reseh lu! Maknae tapi gaya sok bossy!" hardik Valentino kesal.


"Lho aku kan memang maknae yang imut dan adorable..."


"Shut up kampret! Bawa ini!" kali ini Arka yang membentak Shinichi.


Pria imut itu pun memanyunkan bibirnya dan Zinnia tertawa melihat adiknya makin imut. "Kamu gemesin deh Shin."


Wajah Shinichi langsung sumringah. "Bener kan mbak Zee?"


"Mbaaaakkk...jangan mbok omongin gitu! Ngelunjak!" protes Arkananta.


"Eh salah ya?" cengir Zinnia.


Valentino yang membawa kopernya lalu memeluk Zinnia dan mencium pipinya. "Aku kangen mbakku."


"Mbak juga kangen kalian" senyum Zinnia manis.


"Arkaaaa! Kok aku bagian bawa cooler sih?" protes Shinichi kesal harus membawa cooler berisikan ikan beku pesanan Zinnia.


"Gue udah bawain tas kamu jadi cooler bagian elu!" balas Arkananta sambil memeluk Zinnia. "Halo mbak."


"Halo Arka."


Gasendra tertawa geli melihat Shinichi kerepotan membawa cooler.


"Eh! Emir Dubai! Bantuin kenape?" pendelik Shinichi ke Gasendra yang berjalan menuju pria imut itu.


"Alamat rumah makin ramai deh!" kekeh Zinnia.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2