
Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang
Kedasih datang menjelang sore usai menghadiri kuliahnya dan menghampiri Shinichi yang sedang melamun.
Mas Shin panggilnya dengan bahasa isyarat.
"Eh burung cenderawasih... Maaf aku melamun" jawab Shinichi.
Kedasih yang sudah tabah dengan panggilan 'kesayangan' ala Shinichi hanya tersenyum manis. Mas Shin kenapa?
"Opaku masuk rumah sakit, burung hantu."
Kenapa nggak Batman sekalian - batin Kedasih mendengar namanya dibilang burung hantu. Opa mas Shin sakit apa? tanya gadis itu sambil membuka laptop nya. Lumayan, bisa bekerja satu jam sebelum jam pulang.
"Opaku kena serangan jantung..."
Astaghfirullah. Terus gimana?
"Ya dirawat. Opa kena serangan jantung karena sepupuku kecelakaan dan mengakibatkan matanya buta. Opa shock lah..." Shinichi tampak sedih dan membuat Kedasih mengusap pelan bahu pria imut itu.
Shinichi menelungkupkan wajahnya diatas meja dan Kedasih tahu pria itu menangis. Baru kali ini gadis itu melihat sisi sensitif seorang Shinichi bukan Kudo yang biasanya selalu ceria tanpa beban tapi ternyata memiliki rasa sayang ke keluarganya begitu besar.
Kedasih ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya tidak bisa keluar dan meskipun dia memaksa tetap saja tidak ada bunyi apapun. Bahkan dia bersin atau batuk juga hanya standar tapi untuk berbicara sama sekali tidak ada suaranya.
Apakah aku akan bisu selamanya?
Kedasih hanya bisa mengelus punggung Shinichi yang bergetar karena menangis.
***
Kedasih menatap Shinichi yang wajahnya kini mirip badut dengan hidung merah, mata bengkak dan masih ada sisa sesenggukan. Gadis itu menyerahkan saputangannya yang bewarna pink ke Shinichi yang segera dipakainya untuk menyusut ingusnya.
"Nanti aku belikan selusin" ucap Shinichi saat wajah Kedasih mendelik melihat saputangannya sudah amburadul dengan ingus.
"Maaf. Kamu melihat aku nangis macam Arsya."
Arsya?
"Keponakan aku yang imutnya sama denganku tapi masih juara Oomnya sih" ucap Shinichi narsis.
Kedasih melengos mendengar kenarsisan kakak kelasnya itu yang sering diluar batas kewajaran.
"Kamu nggak percaya?" Shinichi mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Arsyanendra. "Tuh lihat! Imutan aku kan?"
Kedasih menatap Shinichi dengan tatapan seriously? Tadi yang nangis siapa kenapa sudah jadi narsis lagi?
Kedasih menggoyangkan jarinya. Imutan Arsyanendra.
Shinichi mendelik. "Teganya kamu burung kenari! Masa imutan Arsyanendra? Nggak mungkin lah!"
Kedasih tertawa geli tanpa suara membuat pria imut itu kesal. "Yuk pulang! Kamu bikin aku bete!"
Mas Shin sudah nggak galau?
"Kagak! Jengkel sama kamu!" sungut Shinichi sambil mengambil tas Prada nya.
__ADS_1
Kedasih cekikikan melihat wajah manyun putra Hideo Kojima Park itu.
***
Kediaman Ashley dan Kristal Sky di New York sebulan kemudian...
Nadira dan Pedro mendatangi rumah Opa mereka karena tahu Gemini berada disana untuk pengobatan dan observasi lebih lanjut. Bersama dengan Savrinadeya yang datang bersama mereka karena sama-sama di Washington DC, keduanya berusaha untuk tidak membuat Gemini sedih.
"Mbak Dira" senyum Gemini saat kedua sepupunya masuk ke dalam kamar gadis itu.
"Kok tahu?" tanya Nadira.
"Parfum Opium mu itu lho..." kekeh Gemini. "Aku kan hapal brand parfum yang sering kalian pakai."
"Ah lupa kalau kamu perfume enthusiast" ujar Nadira sambil menggendong Biana.
"Deya..." ucap Gemini yang membuat Savrinadeya menggenggam tangan Gemini. "Pakai Sì Giorgio Armani?"
Savrinadeya tampak terkejut kakaknya bisa tahu. "Iya" jawab gadis tuna rungu itu.
"Kamu tidak apa-apa Gem?" tanya Nadira concern.
"Masih berusaha beradaptasi..."
"Geminiiiii" teriak Shinichi membuat Biana terkejut hingga menangis.
"Astaghfirullah! Shinchan!" hardik Nadira jengkel ke adiknya.
"Kan aku sudah bilang! Dasar Kungkang ini memang deh!" tegur Valentino sambil memukul bahu Shinichi.
"Ayo tanggung jawab bikin Bia nangis!" Nadira mencoba menenangkan putrinya.
Gemini tertawa mendengar ucapan sepupunya yang makin hari makin tidak jelas. "Kapan datang Shin?"
"Ini barusan dijemput sama parkir Valet dan patung arca" jawab Shinichi asal.
"Sembarangan!" hardik Valentino dan Arkananta.
"Kok kamu bisa ke New York?" tanya Nadira yang bingung ini masih jadwal kuliah. Valentino bisa ke New York karena memang Amerika ada libur nasional.
"Aku sudah selesai ambil ujiannya terus aku ajukan ijin seminggu jadilah aku ke New York."
"Lalu apa alasan kamu tidak masuk? Sakura ikut?" tanya Gemini.
"Operasi plastik jempol kaki ke New York. Itu alasanku" cengir Shinichi membuat semua orang di kamar Gemini melongo.
"Astaghfirullah! Shinchaaannn!"
***
Kini Gemini dikelilingi oleh ketiga adiknya yang dikenal sebagai trio kampret dan Shinichi sedari tadi terus memegang tangan sepupu kandungnya itu.
"Apa kamu tahu Gem, Michel de Luca dihukum penjara tiga bulan akibat kelalaian berkendara" ucap Arkananta.
"Lho tapi Iris meninggal lho! Harusnya kan lebih dari itu?" celetuk Shinichi.
__ADS_1
"Helo Kungkang... Memangnya kamu lupa siapa Michel de Luca? Dia itu sama dengan bang Tomat dan bang Inferno di Turin. Apalagi dia punya kekuasaan di Sisilia, meh opo Kowe?" sahut Valentino.
"Gem, kalau kamu nggak bisa lihat gimana?" Arka menatap wajah cantik sepupunya.
"Yah aku harus berdamai kan dengan kondisi aku? Aku melihat Savrinadeya juga ada kekurangan tapi tidak membuatnya minder kan? Tapi aku yakin, aku akan bisa melihat suatu saat nanti. Oom Joey dan mas Sammy juga berusaha mencarikan dokter yang bagus untukku."
"Semangat Gem." Shinichi memeluk Gemini erat.
"Thanks Shinichi" balas Gemini.
Valentino menepuk dengkul Gemini. "Gem, kamu cewek kuat, semua cewek di keluarga kita kuat dan tabah. Dan aku yakin kamu bisa melewatinya... Ingat orang sabar disayang Allah, orang absurd itu namanya Shinichi..."
"Heeeeiiii!" protes Shinichi.
"Shin..."
"Apa?"
"Bagaimana kabar Kedasih?" kekeh Gemini. "Kata Opa, kamu seenaknya manggil dia ya?"
"Aaaaaahhhh aku lupaaaa!" seru Shinichi.
"Apaan?" tanya Arka kaget.
"Lupa mau ganti saputangan dia! Satu lusin!"
"Memang kamu apain saputangannya Kedasih?" tanya Valentino.
"Aku kasih ingus."
Ketiga orang disana langsung mengernyitkan dahinya. "Shinchan joroookkk!"
***
Malam ini di kediaman Ashley menjadi ramai karena Katya D'Angelo datang menyusul setelah menyelesaikan magangnya di rumah sakit Harvard.
Tentu saja kehadiran gadis bermata biru itu menjadikan Valentino bulan-bulanan para sepupunya terutama Shinichi.
"Aku kasih tahu ya Kay-kay, sama Valentino itu jangan sekali-kali kamu ajak nonton animal planet soal gajah atau binatang apapun!" ucap Shinichi serius ke Katya yang bingung mendapatkan panggilan baru lagi.
"Memang kenapa Shin?" tanya Katya bingung sambil melirik ke arah Valentino yang manyun karena aibnya akan dibongkar.
"Dia bisa mewek kejer lihat gajah mati, antelop mati dimakan singa, anjing mati karena sakit... Untung dia kagak masuk kedokteran hewan. Entah habis berapa liter itu air matanya karena mewek terus kalau ada binatang yang mati..." seringai Shinichi durjana.
Katya memeluk lengan Valentino. "Iya kah Val? Ternyata pacarku sensitif ya dan menggemaskan."
"Tuh dengar Shin. Aku itu menggemaskan" ucao Valentino.
"Ah tetap saja masih kalah sama Arsya" sahut Shinichi yang tidak ikhlas dirinya ada saingannya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️