The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
The Park v The Moretti


__ADS_3

Kediaman Keluarga Park


Shinichi seperti kebakaran jenggot meskipun tidak mukanya mulus ketika mendapatkan kabar dari sang Oma kalau adiknya didatangi seorang pria Italia tampan dan bertatto.


Brengsek si Morotin Numero Uno! Adiknya masih belum selesai urusannya, si sulung nongol! Shinichi lalu bergegas mengambil kunci mobil Honda Civicnya dan segera keluar rumah.


"Ichiiiii! Kamu mau kemana?" teriak Fayza melihat putranya sudah bersiap dengan jaket dan topi Beanie nya turun dari tangga. Hot mommy itu sedang berduaan dengan Hideo sang suami sambil menonton film klasik di ruang tengah.


"Jemput kembang kertas!" jawab Shinichi cuek.


"Jangan lupa mommy dibawakan pastry dari Oma Marissa ya" senyum Fayza saat Shinichi datang menghampiri untuk peluk cium seperti biasanya kalau dia mau pergi.


"Appa juga Shin" sambung Hideo.


"Croissant sosis, apple pie dan strawberry shortcake" ucap Shinichi yang hapal kesukaan appa dan Mommynya. "Oh sama espresso shout."


"That's my Ichi" ucap Fayza sambil mencium putra sulungnya.


"Shin berangkat dulu mommy, appa." Shin mencium pucuk kepala ayahnya.


"Hati-hati." Hideo tersenyum dengan ulah putranya yang imut itu. "Fay, dia makin ngaco."


"Kenapa Hideo?" tanya Fayza bingung setelah putranya keluar rumah.


"Masa main cium kepalaku?"


Fayza terbahak lalu semakin merapatkan diri ke suaminya. "Ini anak-anak tidak ada...?" Wajah cantik Fayza menatap suaminya.


"So?" Hideo tersenyum seolah tahu apa yang ada di otak istri cantiknya, wanita yang dia dapatkan harus dengan banyak drama termasuk todongan pistol mertuanya.


"Kita ke kamar?" goda Fayza.


Hideo tertawa. "Yuk!"


***


Toko Pastry Marissa Bianchi Shibuya Tokyo Jepang


Sakura masih menatap kesal ke Alessandro Moretti yang seolah tidak mau pergi padahal ini sudah setengah jam dirinya berada di cafe yang memang tersedia di lantai dua toko pastry itu.


"Kamu nggak pulang?" tanya Sakura dengan nada mengusir.


"Kamu ngusir?"


"Iya. Kenapa? Keberatan?"


Alessandro tersenyum manis. Ini yang aku suka dari Sakura, tidak pernah menutupi apa yang di benaknya. "Aku masih mau disini, Sakura."


"Ya sudah, duduk manis. Aku mau membantu Oma." Sakura berdiri hendak meninggalkan Alessandro ketika tangan pria tinggi itu memegang tangan mungil gadis itu. "Ngapain pegang-pegang tangan?"


Alessandro menatap lekat ke Sakura. "Apa adikku sudah menyatakan perasaannya padamu?"


"Non sono affari tuoi ( bukan urusanmu )!"


"Ma diventa affar mio ( tapi itu menjadi urusanku ). Lo respingi, vero ( kamu menolaknya kan )?" Alessandro masih menatap gadis mungil itu.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, bukan urusanmu. Kalau memang aku menolaknya, apa menjadi masalah? Kamu tidak suka aku menolak adikmu?" Sakura membalas Alessandro dengan nada dingin.


Dalam hatinya Alessandro kagum dengan keberanian Sakura meskipun masih belia. Anak mantan ketua mafia Silver Shinning memang punya mental bagus.


"So, Le ..."


"Lepaskan tanganmu dari tangan Sakura!"


Keduanya menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang.


***


Shinichi memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju lantai dua setelah mencium pipi Omanya. Dan pria tinggi dengan wajah imut itu terkejut melihat pemandangan disana.


***


Indramayu Jawa Barat


Valentino bangun kesiangan setelah semalam suntuk menunggu kabar dari Katya D'Angelo tapi tidak ada apapun sampai matanya terasa pedas.


Wajah salah satu anggota trio kampret itu tampak kuyu dan bergegas menuju kamar mandi sebelum tauziah mama macan berkumandang.


Setelah mandi, Valentino pun keluar kamar yang ditidurinya semalam bersama dengan Arkananta seharusnya tapi entah kenapa Arka memilih tidur di ruang tengah bersama dengan sepupu lainnya.


"Keluar juga lu ande-ande lumut" ledek Hoshi ke putranya.


"Siang menjelang siang sekali" sapa Valentino yang tahu dirinya baru keluar kamar jam setengah dua belas.


"Kamu tidak tidur semalam?" tanya Bima yang membuat Valentino melongo. Sejak kapan papa macan bisa akur tralala dengan musuh darting abadinya? Dan kini mereka duduk berdua dengan MacBook masing-masing di meja makan.


"Semalam main game online. Mumpung libur" jawab Valentino kalem sambil mengambil roti dan mulai memanggangnya.


"Nasi uduk mau bik. Lengkap kan?"


"Masih lengkap."


"Boleh deh."


Bik Minah pun mengundurkan diri menuju dapur untuk dapur untuk menyiapkan nasi uduk.


"Kok sepi? Pada kemana?" tanya Valentino celingukan.


"Zee dan Garvita di kamar sedang ghibah, lainnya pada melihat pabrik beras. Mamamu dan Tante-tante mu jalan-jalan ke kota, biasa cari pritilan. Luke sudah kabur ke Jakarta pagi-pagi setelah dapat kabar dari Tokyo. Tahu tuh anak pakai pesawat apa kesana karena bang Luca masih disini" jawab Hoshi.


Bang Lukie balik ke Tokyo? Bukankah masih besok rencananya pulang? Valentino tampak berpikir. Apa ada masalah di Yakuza?


"Kamu nggak papa?" tanya Hoshi yang melihat putranya seperti tidak fokus.


"Hanya masih doyong belum menyatu jiwa raga..."


"Makanya jangan main game terus V" tegur Bima.


"Lha Arka ikut ke pabrik juga?" tanya Valentino.


"Nggak, pagi-pagi Arka sudah diseret Arabella ke sawah."

__ADS_1


"Haaaaahhh?" Valentino melongo. "Bukannya Arka takut lintah ya?"


"Kita lihat saja nanti" kekeh Bima durjana.


***


Toko Pastry milik Marissa Bianchi


Sakura langsung menghambur ke kakaknya yang segera memeluk adiknya tapi mata coklat Shinichi menatap tajam ke arah dua orang pria yang tidak tahu malu itu tampak saling berseteru.


"Kenapa dua Moretti disini? Pulang sana ke Roma!" hardik Shinichi kesal.


"Ah, Shinichi Park. Akhirnya aku bertemu dengan kakak Sakura" senyum Alessandro. "Senang bertemu dengan kamu, Shinichi."


Shinichi menatap dingin ke Alessandro meskipun menerima uluran tangan pria itu dan menjabatnya.


"Apa yang kalian lakukan di toko omaku? Sakura, mereka berdua ngapain?" Shinichi menatap adiknya.


"Mereka hendak berkelahi."


"Gara-gara?"


"Aku" jawab Sakura.


"Astagaaa! Jangan bilang kamu hajar morotin dua! Terus Morotin satu tidak terima!"


Sakura cemberut. "Belum aku hajar!"


Shinichi pun melihat ke arah dua kakak beradik Moretti itu. "Kalau kalian mau berkelahi, jangan disini. Apa kalian tidak tahu ini milik keluarga Bianchi dan Takara! Dalam waktu lima menit, para anggota Yakuza Takara langsung mengepung toko ini untuk mengusir kalian!"


"Tapi Shinichi, aku dan Sakura hanya berbicara tapi adikku saja yang sok panik" jawab Alessandro enteng.


"Berbicara? Berbicara? Mana ada berbicara sambil memegang tangan Sakura!" bentak Raffa tidak terima.


"Heh muka rata! Aku juga tidak mau dipegang tapi abangmu itu lebay! Sudah! Seret kakakmu yang penuh dengan Corat coret pakai spidol pulang!" balas Sakura sebal. Benar-benar deh dua kakak beradik menyusahkan!


"Kalian berdua, pulanglah! Kalau mau berkelahi, di lapangan sana!" sambung Shinichi. "Aku tidak mau ada pertumpahan darah Baratayudha disini!"


Alessandro menatap pria imut itu yang kini wajahnya tampak dingin dan aura mafia nya menguar demi melindungi adiknya begitu juga Raffa yang melihat sisi berbeda dari Shinichi.


"Baik. Kami pergi Park." Alessandro berjalan melewati Shinichi dan berbisik di sisi telinga pria imut itu. "Tua sorella sarà mia ( adikmu akan menjadi milikku )."


Shinichi melirik tajam ke arah Alessandro. "Nel tuo sogno, Moretti ( dalam mimpimu, Moretti )!" desis Shinichi. Alessandro pun berjalan menuruni tangga.


Raffa menatap Shinichi. "You'll see, Shinichi. We're gonna meet again ( kita akan bertemu kembali )." Kakak kelas Sakura itu pun menyusul kakaknya.


"Kamu pasang susuk apa sih sampai mau bikin perang Baratayudha?" pendelik Shinichi kesal ke adiknya setelah berdua.


Sakura hanya mengeplak bahu kakaknya kesal.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2