
Fakultas Science jurusan Fisika Tokyo University Jepang
Shinichi menatap gadis cantik di hadapannya dengan perasaan dongkol. Profesor Takeda tidak bilang kalau cucunya tidak bisa bicara tapi bisa mendengar. Lha macam ke Deya dong! Tapi Deya masih bisa bicara.
"Kamu bisa bahasa isyarat kan?" tanya Shinichi.
Kedasih mengangguk.
"Kamu bisa bahasa apa aja?"
Kedasih mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu disana. Shinichi membaca tulisan yang rapi itu sambil mengerenyitkan dahinya. Jepang, Inggris, Indonesia, sedikit Jawa.
"Kowe iso boso jowo ( kamu bisa bahasa Jawa. )?" tanya Shinichi.
Sedikit. Kedasih tersenyum manis membuat Shinichi terkejut melihat betapa cantiknya cucu profesor nya.
"Kedasih, kamu nanti habis kuliah, langsung ke ruang laboratorium fisika ya. Jadi Shinichi, Kedasih tidak setiap saat sama kamu. Dia kan masih kuliah juga, beda sama kamu yang sudah ambil program magister sambil penelitian." Profesor Takeda menatap ke arah dua orang yang duduk di hadapannya.
"Hari ini memangnya Kedasih sudah harus mengawasi saya?" tanya Shinichi.
"Kan Kedasih tidak ada kuliah hari ini jadi kamu ajari ya Park. Apa-apa saja tugasnya sebagai asisten kamu."
Shinichi mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu sensei." Pria imut itu pun berdiri lalu membungkuk hormat ke Profesor Takeda. "Yuk Kedasih dari Jayagiri, kita ke laboratorium fisika!"
Kedasih menatap Grandpa nya bingung. Kok namaku diganti sih?
***
Kediaman Reeves Jakarta Indonesia
Valentino sekarang sedang menerima panggilan video dari para dosen dan dekan fakultas IT untuk wawancara masuk kampus terkenal itu. Valentino memang sudah mengirimkan semua berkas termasuk surat rekomendasi dari opanya, ayahnya, Abiyasa dan Bayu O'Grady yang merupakan alumni MIT.
Meskipun sudah mendapatkan surat rekomendasi tapi tetap saja semua tergantung dari hasil wawancara yang dikenal sangat susah apalagi dirinya berasal dari kampus berbeda meskipun sama-sama prestisius.
Hampir satu setengah jam Valentino melakukan wawancara dengan para dosen dan dekan, hingga akhirnya mereka menyudahi wawancaranya. Valentino harus menunggu keputusan kampus sekitar seminggu lagi. Kakak Juliet itu pun mematikan iMac nya dan melirik jam digitalnya.
"Eh buset! Jam 12 malam? Pantas gue ngantuk..." gumam Valentino yang memang harus melek karena perbedaan jam yang sekitar 12 jam dengan Massachusetts. "Besok ajah lah hubungi si Katya. Otakku capek!"
Valentino pun masuk kamar mandi untuk bebersih dan mengganti pakaian resminya dengan baju tidur.
***
Kamar Arkananta di kediaman Baskara
"Jadi oke nih Tante?" tanya Arkananta ke Reana O'Grady Dewanata yang sedang memeriksa blue print rumah rancangan putra Bima dan Arimbi itu.
"Oke banget Ka. Apalagi klien kita yang di New York, Washington dan New Jersey suka dengan rancangan kamu. Dan ini memang out of the box, belum bisa diterima di Jakarta tapi sangat diminati disini."
"Alhamdulillah. Soalnya waktu aku bikin rancangan itu, agak ragu-ragu sih Tante. Apalagi kata mama, memang belum bisa diterapkan disini."
"Iya Ka. Mamamu benar. Bisa diterapkan di Jakarta tapi kamu tahu sendiri kan orang Indonesia nunggu booming di luar negeri baru deh ikutan padahal yang rancang orang Indonesia juga..." ucap Reana yang merupakan ibu si kembar Radeva dan Raveena.
__ADS_1
"Deva masih ambil S2 arsitektur kah Tante?"
"Masih Ka, insyaallah tahun depan selesai. Meskipun Deva ambil S2 tapi sense of artnya berbeda jauh sama kamu. Deva lebih ke kontemporer sedangkan kamu ke futuristik."
"Ya masing-masing kan punya ide dan hilal tersendiri" cengir Arkananta.
"Tapi Tante senang sih kalian punya ciri khas masing-masing biar PRC Group tetap punya penerus yang tidak kalah dengan pendahulunya."
Arkananta mengangguk setuju. Arka lebih suka masuk ke PRC Group yang bergerak di bidang arsitektur, kontraktor dan developer. Bima sendiri tidak memaksa putranya nanti harus mengambil perusahaan bengkel dan toko emasnya karena ayahnya sudah mempersiapkan untuk merger ke perusahaan istrinya agar tetap dikelola dalam keluarga.
"So, Valentino jadi pindah ke Massachusetts?" tanya Reana.
"Jadi Tante. Insyaallah. Malam ini kan dia ada wawancara dengan para dosen dan dekan apakah layak masuk ke MIT atau tidak."
"Seharusnya kalau ada surat rekomendasi dari Oom Levi, Hoshi, mas Abi dan Bayu, pasti masuknya lah" ucap Reana.
"Semoga saja Tante. Soalnya V kan ambil program magister jadi lebih ribet aturannya."
"Iya sih. Apalagi dia bukan alumni MIT kan?"
Arkananta mengangguk.
"Ya sudah Ka, sudah malam kan di Jakarta. Kamu tidur, besok ngantor kan?"
"Iya Tante. Arka bobok dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
***
Kedasih masuk ke dalam laboratorium fisika setelah menyelesaikan kuliahnya dan tadi dia sudah mengirimkan pesan kepada Shinichi akan datang pukul sebelas siang.
Gadis cantik itu terkejut melihat para mahasiswa S2 tampak memperhatikan dirinya dan membuatnya tidak nyaman. Kedasih pun menunduk menuju area kerja Shinichi.
"Eh burung walet! Ayo sini bantu aku kalkulasi!" panggil Shinichi ke Kedasih yang melongo mendapatkan panggilan baru lagi. Bergegas gadis itu ke kubikel milik Shinichi yang masih menghitung mesin roketnya yang terbaru.
Mas Shinichi, aku harus hitung bagian apa? Kedasih bertanya menggunakan bahasa isyarat dan Shinichi lah yang memaksa Kedasih untuk memanggilnya 'Mas Shinichi' macam adiknya Sakura.
"Kamu hitung perkiraan pemakaian mentana, hidrogen dan oksigen cair nya jika harus terbang menempuh jarak 1000 kilometers. Nanti kalau sudah ketemu, akan aku uji coba di area luas." Shinichi memberikan kalkulasi nya yang kemarin sempat salah mengakibatkan nyaris meledak di laboratorium.
Kedasih dengan tekun menghitung semuanya bersama dengan Shinichi dan keduanya seperti dalam dunianya sendiri jika sudah seperti itu.
"Park!" panggil salah seorang temannya.
"Apa?" sahut Shinichi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar MacBook nya.
"Makan siang dulu! Nanti dilanjut lagi."
"Iya gampang. Kalian makan saja dulu!" balas Shinichi.
Seketika laboratorium fisika itu kosong meninggalkan Shinichi dan Kedasih berdua.
__ADS_1
Mas Shin. Makan dulu.
"Hah? Madang ( makan - bahasa Jawa )?" tanya Shinichi.
Makan.
"Lha iya, madang."
Bukan Padang.
"Eh Burung Cuculus, madang itu artinya makan juga."
Kok burung Cuculus?
"Bahasa latinnya Kedasih kan Cuculus, Kedasih dari Jayagiri. Gimana sih yang punya nama kagak tahu" sahut Shinichi cuek.
Kedasih melongo tidak percaya mendengar ucapan pria imut yang memang dikenal cerdas.
"Eh Kedasih. Kenapa sih nama kamu pakai nama burung macam adikku saja yang dikasih nama bunga jadi bikin aku gatal manggil seenakku."
Mas Shinichi juga kenapa dikasih nama Shinichi dan selalu bilang kemana-mana Shinichi bukan Kudo?!
"Ya tanya saja sama appa dan mommy aku lah!"
Ya sama dong! Mas Shin bisa tanya sama kedua orang tua aku.
Shinichi menatap Kedasih horor. "Kamu nyuruh aku bakar menyan buat tahu kenapa ortu kamu kasih nama Kedasih dari Jayagiri?"
Kedasih Jayanti.
"Enak Kedasih dari Jayagiri ah!"
Mas Shin, aku tuh bukan judul lagu!
"Salahnya cocok!"
Jadi kapan mas Shin bakar menyannya?
Shinichi melongo. "Horor lu burung bulbul!"
Kedasih tertawa.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1