The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Shinichi ke Indramayu Untuk Merenung...


__ADS_3

Kediaman Keluarga Park Tokyo Jepang


Pagi ini Shinichi sudah siap dengan satu koper besar, satu koper kecil dan tas ranselnya. Pria imut itu hendak bertolak ke Jakarta guna menjalani hukuman merenung ( tapi sepertinya tidak berlaku di Shinichi ) kesalahannya.


"Appa, Shin pergi dulu. Jangan dicari karena pasti Shin ada di rumah mbak Zee" pamit anak sulung Hideo itu ke ayahnya.


"Shin, appa minta, kamu sampai Indramayu, bantu Zee."


"Bantu di pabrik appa? Bantu bang Zaidan?"


"Bukan, bantu tanam bibit padi" sahut Hideo cuek membuat mulut Shinichi menganga.


"Oh appa. Tega sekali dirimu meminta aku ikut ibu-ibu buruh tani menanam padi... Apa aku harus ajak Garvita ya..."


"Nggak usah aneh-aneh deh! Sudah! Pokoknya manut appa!" Hideo menatap putranya dengan tatapan dingin.


"Yah Lord, tolong buat appa ku tidak kulkas lagi..." gumam Shinichi sambil gaya berdoa.


"Astaghfirullah... Kepala appa makin pening..."


***


Shinichi tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan dijemput Ethan, pengawal Juliet atas suruhan Hoshi. Setelahnya pria yang sering dipanggil kungkang itu menuju rumah Bima dan mengambil mobil Mercedez Benz G-Class milik Arka yang memang diijinkan dipakai untuk Shinichi.


Setelah berpamitan dengan Bima yang sedang berada di bengkel, menelpon Hoshi, Haris dan Arka, Shinichi pun bertolak ke Indramayu.


***


Shinichi menikmati perjalanan dengan mobil Arka sambil bersenandung ketika sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya.


"Assalamualaikum" sapa Shinichi tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo Park."


Wajah Shinichi langsung berubah judes. "Ada apa morotin uno?"


"Sakura kuliah di Tokyo University of Art ya?"


"Terus kenapa? Memang apa hubungannya sama kamu? Ngomong-ngomong memang kamu sudah selesai kuliahnya?" balas Shinichi judes.


"Tentu saja sudah Park. Kamu sedang ke Jakarta kan? Berarti Sakura tidak ada kamu yang menjaga" kekeh Alessandro Moretti.


"Eh dengar ya manusia spidol, meskipun aku tidak ada disana, jangan harap kamu bisa mendekati Sakura!"


"Kita lihat saja, kakak ipar..." Alessandro tertawa dan segera mematikan panggilannya.


"Hhhiiiihhhh! Kakak ipar gundulmu peyang!" umpat Shinichi kesal. Pria itu lalu menghubungi kakaknya, Luke Bianchi.


"Apa Kungkang? Sudah sampai di Jakarta?" sapa Luke.


"Ini aku perjalanan menuju Indramayu. Bang Lukie, tolong si kembang setaman dikawal lebih ketat lagi! Si Morotin Numero uno datang ke Tokyo mau dekatin kembang kertas."

__ADS_1


"Oke Shinchan. Abang urus!" ucap Luke.


"Thanks bang."


Shinichi pun konsentrasi untuk menyetir menuju rumah Zinnia. Brengseeekkk tuh si Ale-ale! Tahu gitu roket kemarin dikirim ke rumah nya dia saja ya. Eh, tapi aku kan nggak tahu rumah dia dimana?


***


Rumah Zinnia di Indramayu Jawa Barat


Sean dan Arsyanendra sedang berada di teras ketika melihat mobil Mercedes Benz G-Class hitam itu masuk ke dalam halaman rumah Zinnia yang luas. Zinnia yang mendengar suara mobil masuk pun keluar lagi karena mengira sang adik Gasendra kembali lagi karena ada yang tertinggal.


Gasendra memang berkuliah di ITB Bandung dan sedang skripsi. Adiknya memang sengaja di Indramayu agak lama karena menjaga kakak dan keponakannya saat suaminya yang dia tinggalkan empat tahun lalu datang dari Belgia.


"Siapa Sean? Gasendra ada yang ketinggalan kah?" tanya Zinnia ke Sean.


"Bukan mommy. Itu mobilnya Oom Alka."


Zinnia mengerenyitkan dahinya. "Lho Oom Arka nggak kerja?"


Setelah mobil itu terparkir rapi, Zinnia dan Arsyanendra terkejut melihat Shinichi keluar dari dalam mobil hitam itu.


"Mbak Zeeee!" teriak Shinichi heboh yang membuat Sean terkejut dan tanpa basa basi langsung memeluk Zinnia di depan pangeran Belgia itu.


"Kamu ngapain kesini? Nggak kuliah kamu?" tanya Zinnia bingung.


"Nggak! Lagi diskors" jawab Shinichi cuek. "Halo Arsya. Masih ingat ajaran Oom Shin kan?"


"Halo bang Sean. Apa kabar?" sapa Shinichi ramah.


"Halo Shin. Alhamdulillah baik."


"Shin, bilang sama mbak Zee. Kamu diskorsing kenapa?" Zinnia menatap tajam ke arah Shinichi yang langsung menggendong Arsya.


"Eeerrr... gimana ya?" cengir Shinichi dengan wajah sok bingung.


"Shinchaaannn!" pendelik Zinnia.


"Aku ledakin lift kampus..."


Zinnia dan Sean melongo. "Kok bisa?"


"Bisa lah? Wong aku salah kalkulasi roket buatanku jadinya mau meledak terus aku masukkan ke dalam lift barang dan kabooommm deh! Sama kampus aku diskors tiga Minggu terus aku bilang ke Appa, mau ke Indramayu saja buat merenungi nasib..."


Zinnia melotot tidak percaya sedangkan Sean sudah tertawa terbahak-bahak.


"Astaghfirullah! Shinchaaannn!" jerit Zinnia gemas.


"Peace mbak!" cengir Shinichi dengan wajah sok imut.


__ADS_1


Bahagia lu ye Tong, bikin lift kampus ancur


***


"Oom Hideo ngomong apa sama kamu?" tanya Zinnia saat mereka berada di ruang makan untuk makan malam.


"Appa sih nggak marah yang sampai begitulah karena itu bukan style appa cuma kemarin bilang aku disuruh ke sawah bantu buruh tanamnya mbak Zee untuk tanam padi."


"Memangnya kamu mau?" tanya Sean.


"Ya jelas tidak! Masa anak imut menggemaskan ini harus terjun ke sawah sih? Bisa-bisa para buruh tanam nggak konsen tetiba ada Kungkang imut nanam padi?" jawab Shinichi cuek.


"Tapi Shin, tadi kata Oom Hideo dan Tante Fayza, kamu memang harus tanam padi..." ucap Zinnia membuat Shinichi menjatuhkan sendok dan garpu nya.


"Hah? Beneran mbak? Appa bilang gitu?" Shinichi menatap Zinnia tidak percaya.


"Iya,tadi Oom Hideo bilang begitu."


"Yah Lord, ta kira appa bercanda jebule serius..." keluh Shinichi mendrama.


"Oom Shin, nanti sama Asya ke sawahnya" ajak Arsyanendra sambil memegang tangan Oomnya.


"Oh Arsya. Memang kamu keponakan Oom yang paling pengertian" ucap Shinichi sambil memeluk Arsya.


"Zee, Jetzt weiß ich, wo Arsyanendra das Schauspiel gelernt hat ( Sekarang aku tahu dari mana Arsyanendra belajar berdrama )" ucap Sean ke istrinya.


"Sie können es selbst sehen, Sean ( sekarang kamu lihat sendiri kan Sean )" senyum Zinnia.


"Ihr zwei, wisst ihr nicht, dass ich auch Deutsch kann? ( Kalian berdua, apa kalian tidak sadar kalau aku juga bisa berbahasa Jerman )" celetuk Shinichi membuat Sean dan Zinnia tertawa.


"Oom Shin ngomong apa itu?"


"Ngomong bahasa belibet" jawab Shinichi asal. "Arsya, sesuk ( besok ) tho Oom Shin ajarin tata cara ngomong kromo Inggil" cengir Shinichi.


"Hah? Oom, jangan banyak-banyak, Asya pusing" keluh batita itu sambil memegang kepalanya sok pening.


Sean tertawa melihat polah putranya.


"Jadi kamu mau disini sampai skorsing kamu selesai?" tanya Sean.


"Iya bang Sean. Kata Appa, aku harus merenung kesalahan aku. Yang jadi pertanyaan, salahku dimana ya? Cuma salah kalkulasi kok tapi sebenarnya rocketku kan berhasil hidup... It's alive! Dan aku juga cuma ngorbanin satu lift tanpa ada korban jiwa"


Sean terbahak sedangkan Zinnia hanya bisa beristighfar. Arsyanendra? Semakin kagum dengan Oom kampretnya.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2