
Ruang Rawat Inap Ashley Sky
Valentino dan Arkananta bersikeras untuk menjaga Ashley malam ini sedangkan Katya akan pulang bersama dengan Kristal untuk menemani Oma cantik itu di rumah. Katya malah semangat ingin tahu banyak tentang Opanya setahu Kristal.
Kristal sendiri agak sedikit khawatir meninggalkan Ashley dengan dua cucu kacaunya tapi Joey Bianchi menjamin jika Arka dan Valentino macam-macam, obat bius bertindak. Ashley tersenyum menenangkan istrinya yang sudah mendampinginya sekian puluh tahun. Akhirnya Kristal pulang bersama Katya yang menjadi akrab dengan putri Raymond Ruiz dan Valora Arata itu.
"V, apa benar Shinichi memanggil asistennya dengan semua nama burung?" tanya Ashley yang merasa mendapatkan mood booster dengan cucunya yang kacau.
"Serius opa. Waktu kita bantu mas Bayu dan Gabriel, aku dengar sendiri dia manggil Kedasih itu burung kenari lah, burung hantu lah..."
"Iya lho Opa. Padahal yang namanya Kedasih itu anaknya manis eh.. panggilannya amburadul macam yang manggil" sambung Arkananta.
"Jadi, kebiasaan cucu opa yang selalu merasa paling imut di keluarga Pratomo itu berpindah dari Sakura ke Kedasih?" kekeh Ashley.
"Iya Opa. Kalau Sakura, kita mah sudah biasa. Lha ini anak orang, sebulan lebih jadi asisten plus pengawas supaya nggak meledakkan lift lagi, eh dipanggil seenaknya!" sungut Valentino.
"V, tapi kita kan juga suka manggil orang seenaknya" celetuk Arkananta.
"Tapi kan nggak separah si Kungkang!"
"Ngomong-ngomong, tolong dong opa di video call si Shinchan" pinta Ashley sambil tersenyum.
Kedua cucu tampannya hanya menatap horor ke Opa mereka yang dikenal dingin, saingan dengan Hideo dan Hoshi. "Opa yakin?" tanya Arkananta.
"Jantung Opa aman? V tidak mau kalau dikasih obat mati suri Tante Moon gara-gara bikin Opa sakit lagi..." Valentino menatap melas ke Opanya.
"Aman, V. Sudah telpon saja si Shinchan."
Valentino menelpon Shinichi dan tak lama wajah imut sulung Hideo Park itu tampak di layar.
"Opaaaaa! Opa gimana? Masih sakit nggak dadanya? Apa kata mas Sammy Bebek? Eh, tapi mas Sammy dokter bedah... Anyway... Lhoooo kok ada Arka sama Parkir Valet? Aaaahhh kalian curaaaanngggg!" cerocos Shinichi tanpa jeda membuat ketiga orang di kamar rawat inap VIP itu melengos.
"Astaghfirullah Kungkang! Ngomong itu pakai jeda cumiiii!" hardik Valentino.
"V, janganlah keras-keras kalau ngomong... kasihan Opaku..." jawab Shinichi kalem membuat Valentino dan Arka melongo.
"Bukannya elu tadi yang jejeritan heboh minus akhlak!" balas Arkananta.
"Eh tadi itu nada normal aku kalau melihat Opa. Iya kan Opa?" cengir Shinichi.
"Stupid!" hardik Valentino.
"Moron!" balas Shinichi.
__ADS_1
"Idiot!" sahut Arkananta membuat tiga orang trio Kampret itu saling menatap judes.
Ashley terbahak mendengar celotehan ketiga cucunya yang sudah berkepala dua tapi masih saja kelakuan seperti anak SMA.
"Ya ampun kalian bertiga itu mengingatkan Opa dengan opa kalian, Arjuna - Levi dan Fuji. Mereka bertiga di generasi kami disebut trio durjana, macam kalian ini trio Kampret."
Ketiga cucunya menatap Opa mereka yang bermata biru. "Opa Fuji nggak kesana Opa?" tanya Shinichi. "Secara kan juga dokter spesialis jantung."
"Nggak Shinichi, Opa Fuji kan juga tidak baik kesehatannya sejak didiagnosis terkena diabetes seperti Opa Mamoru."
"Opa, opa membutuhkan sesuatu? Ingin apa?" tawar Arka yang membuka ponselnya.
"Kenapa Arka?"
"Mas Bayu dan Devan menawarkan kalau butuh apa-apa biar dibelikan."
Ashley menggelengkan kepalanya. "Kalau ingin, pengen makan macam-macam tapi Opa kan harus patuh perintah dokter." Ashley menatap lembut ke ketiganya. "Kalau kamu ingin makan sesuatu, bilang saja dengan Bayu dan Devan."
"Kita titip ke mas Bayu bento, sushi dan pizza saja ya V?"
"Iya."
Arka pun mengetikkan pesan ke Bayu untuk membawakan pesanan mereka.
"Njih Opa? Wonten nopo ( ada apa )?" Arka meletakkan MacBook nya Diatas meja yang disediakan Diatas tempat tidur pasien supaya Ashley bisa leluasa mengobrol dengan cucunya.
"Apa benar kamu punya asisten bernama Kedasih?"
Shinichi mengangguk. "Namanya Kedasih Jayanti, Opa. Dia cucunya profesor Takeda, dosen pembimbing aku. Sayangnya Opa, dia tidak bisa berbicara."
"Elu apain? Pasti shock gara-gara elu panggil dengan seenaknya..." ledek Valentino.
"Eh dengar ya parkir Valet. Biarpun Kungkang begini, paling banter manggil nama seenaknya! Si burung camar itu nggak bisa ngomong karena shock kedua orangtuanya meninggal di depan matanya! Suudzon aja lu!"
"Tuh Opa dengar kan dia manggil Kedasih apaan?" kekeh Arkananta yang masih berchatting ria dengan Arabella.
"Shinichi, janganlah manggil orang seenaknya."
"Ya salahkan orangtuanya kasih nama Kedasih! Kan jadi gatal mulutku pengen nyebut apa saja" alibi Shinichi.
"Woi!! Durjana lu sama almarhum orang tuanya Kedasih!" hardik Valentino.
"Lha kagak ada juga!" balas Shinichi.
__ADS_1
"Gue doain bakalan nongol pas elu tidur, datengin elu langsung bilang 'Shinichiiii...kenapa kamu manggil nama anakku seenaknya... Padahal nama itu sudah pakai bubur merah putiihhh..." ucap Valentino dengan suara dibikin horor.
"Dih! Kamu tuh!" Shinichi memajukan bibirnya.
"Shin, janganlah kamu ganti-ganti nama Kedasih! Sekarang dia sabar tapi ada saatnya dia akan merasa kesal jika kamu terus-menerus memanggil namanya seenaknya" nasehat Ashley. "Ada baiknya malah kamu berusaha membuat anak itu bisa berbicara lagi, menghilangkan traumanya."
"Opa, kalau Shinichi mencoba membuat Kedasih bisa bicara lagi, hebat. Secara, anak Kungkang itu kan sering absurd nya" ejek Arkananta.
"Eh cummiii, kalau aku bisa membuat burung alap-alap itu bicara lagi, elu mau kasih apa?" tantang Shinichi.
"Kasih pelukan kasih sayang" jawab Arka kalem membuat Shinichi mendelik.
Ashley cekikikan melihat interaksi para cucunya yang bikin darting tapi membuatnya senang mengingat dirinya memikirkan nasib cucu satunya, Gemini.
"Shin, jika kamu bisa membuat Kedasih bisa bicara lagi, pahalanya besar lho. Artinya kamu membuat seseorang mendapatkan kembali apa yang hilang selama ini. Kamu bisa membuat Kedasih menghilangkan traumanya meskipun tidak bisa dilupakan tapi setidaknya Kedasih bisa berdamai dengan keadaan bahwa kedua orangtuanya sudah tiada" ucap Ashley.
"Pahalanya besar ya Opa?"
Ashley mengangguk.
"Shinichi mau yang pahalanya besar, bisa nambah tabungan pahala" cengir pria imut itu.
"Lha kok malah perhitungan Shin?" sahut Valentino.
"Lho hidup itu harus ada kalkulasi. Itu wajib. Coba kamu sendiri aja V, untuk bisa ketemu sama Katya di Geneva dulu juga harus kalkulasi kan? Bagaimana kamu memperhitungkan gimana mbak Zee kesayangan aku tidak menceritakan pada siapa pun. Benar nggak opa?" Shinichi tersenyum penuh kemenangan.
"Benar. Hidup itu penuh perhitungan dan kalkulasi sebab kalau tidak, hidup kalian akan berantakan. Bangun pagi pasti kalian langsung subuhan kan? Habis itu membuat jadwal dan menghitung berapa jam meeting, berapa jam kuliah, berapa jam penelitian. Jam berapa harus makan siang, harus kembali bekerja..." jelas Ashley yang merasa senang ditemani oleh ketiga cucunya yang dijuluki trio kampret.
"Tuh bener kaaaannn?" seringai Shinichi.
Valentino dan Arkananta hanya melengos sebal melihat wajah penuh kemenangan Shinichi.
Suara ketukan di pintu terdengar dan tak lama terbuka. Tampak Bayu dan Devan datang membawakan makanan untuk Valentino dan Arka.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1