The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Songoku Dari Planet Namec


__ADS_3

Kediaman Keluarga Reeves.


Valentino menatap layar iMac nya dengan penasaran mencari tahu tentang Katya D'Angelo yang mengambil kuliah di almamaternya Zinnia Hadiyanto.


Semua informasi yang diberikan oleh orang suruhan nya, pasti sangat akurat dan tepat. Sampai nggak, bikin malu Oom Benji dan Oom David lu!


Valentino melihat beberapa foto Katya kiriman mata-matanya yang sedang asyik membaca buku di taman kampus, bertemu dengan beberapa teman-temannya dan tampak sangat bahagia.


Rasanya Valentino ingin terbang ke Geneva tapi alasannya apa? Kuliah nya saja sudah mulai padat disini dan bisa mengundang pertanyaan papa macannya yang super kepo dan bisa melacaknya dalam sekejap mata apa tujuan utamanya.


Valentino belum sanggup mendapatkan kedurjanaan Hoshi apalagi melihat bagaimana Romeo harus jatuh bangun menghadapi papanya meskipun menyukai kekasih Juliet itu.


"Haaaaahhh menyebalkaaannnn!" teriaknya kesal.


Suara ketukan di pintu kamarnya, membuat pria tampan itu menoleh dan merubah penampilan layar iMac nya dengan game online baru dirinya berjalan ke pintu. Tampak wajah Rina, sang mama macan di hadapannya.


"Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Rina dengan wajah judes.


"Kena tembak sama musuh mama macan. Tuh lihat!" Valentino menunjukkan game onlinenya.


"Nggak usah teriak-teriak! Sudah malam! Kalau opamu kaget gimana!"


"Iya mama macan."


"Tidur nak. Sudah malam!"


"Iya mama macan" senyum Valentino sambil mencium pipi Rina. "Goodnight."


"Goodnight, nak."


Valentino pun menutup pintu kamarnya. Semenjak Juliet memutuskan untuk kuliah di Singapura, rumah semakin sepi tanpa ada si cerewet ditambah Romeo juga semakin jarang bertemu dengannya karena kuliahnya juga semakin padat.


Pria itu kembali membuka email dari orang suruhannya dan melihat kembali foto-foto gadis itu.


Ternyata elu tuh sama keluarga gue udah kenal dari jaman opa buyut yut yut ... Valentino tersenyum smirk. Ternyata circlenya ya itu-itu saja.


***


Tokyo Jepang


Shinichi sengaja mengantarkan adiknya, Sakura, ke sekolah nya yang juga merupakan almamater dirinya dan duo L. Sakura yang bingung dengan sikap kakaknya pun menoleh ke arah remaja akhir itu.


"Kenapa ikutan naik kereta ke arah sekolah aku? Kan beda arah mas" tanya Sakura saat mereka menunggu kereta datang.


"Mas kuliah siang jadi daripada gabut, anter kamu saja lah" jawab Shinichi cuek.


"Bilang saja penasaran sama di muka rata" kekeh Sakura.


"Nah tuh tahu!"

__ADS_1


Keduanya pun masuk ke dalam kereta sambil bergandengan tangan. Sakura memang manja ke Shinichi dan Luke yang ada di Tokyo. Gadis itu tanpa malu bergandengan dengan dua pria tampan itu jika pergi bersama.


Kan kakak gue juga, bukan pacar.


Shinichi sendiri juga sama. Jika pergi bersama Fayza tanpa Hideo, si imut itu selalu bergandengan dengan Mommynya. Tapi jangan harap begitu kalau ada Hideo, bisa manyun mantan ketua mafia Silver Shinning itu. Dan dua pria kesayangannya Fayza dan Sakura bisa berdebat sampai seharian.


Kereta yang membawa mereka berdua tiba di stasiun dekat sekolah Sakura dan Shinichi. Keduanya tadi memang menolak menggunakan fasilitas mobil karena ingin menikmati jalan berdua.


"Mas Shin seperti napak tilas padahal baru kemarin lulus ya" senyum Shinichi. Keduanya kini sampai di depan gerbang sekolah.


Sakura memeluk lengan kakaknya yang membuat banyak teman-temannya iri melihat gadis itu bersama dengan pria imut.


"Sakura, itu siapa?" tanya salah temannya.


"Laki gue!" jawab Sakura asal yang membuat Shinichi mendelik ke arah adiknya. Memang sih keduanya sekilas tidak mirip karena Shinichi lebih kuat darah Asianya sedangkan Sakura kuat darah bule seperti mommnya.


"Benarkah itu, Signora Park?"


Shinichi dan Sakura pun menoleh dan tampak seorang pria bule yang kelihatan darah Italianya menatap tajam ke arah Shinichi.


Ketemu juga yang gue tandai! Shinichi pun menyeringai.


"Apaan sih Morotin?" cebik Sakura judes.


"Moretti, Signora Park. Bukan morotin! Saya tahu itu bahasa Indonesia kan?" balas Raffa.


"Wah, Dekne sinau mas ( dia belajar mas )" gelak Sakura dengan bahasa Jawa yang dia yakin Raffa Moretti tidak paham.


Josephine dan Marissa memang masih kental Solonya karena Miki dan Joshua masih mengajari bahasa Jawa ke keduanya.


"Kamu ngomong bahasa apa itu?" tanya Raffa bingung.


"Bahasa planet Namec!" balas Shinichi judes yang membuat Sakura terbahak.


"Siapa kamu? Lagian kamu ngapain peluk-peluk lengan cowok ini, Signora?" Raffa benar-benar tidak suka melihat Sakura menempel dengan pria lain. Sudah kemarin dengan Luke Bianchi, sekarang dengan cowok sok imut ini!


Shinichi merangkul bahu Sakura dengan memasang wajah songong membuat Raffa semakin kesal.


"Come osi abbracciarla ( beraninya peluk dia )!" hardik Raffa.


"Così? È un problema per te? ( Emang kenapa? Masalah buat elu)?" balas Shinichi judes.


"Eh sudah - sudah, ayo aku mau masuk kelas" lerai Sakura. "Terimakasih sudah mengantarkan aku." Sakura berjinjit dan mencium pipi Shinichi. "Hati-hati ke kampusnya." Setelahnya gadis itu berjalan masuk ke halaman sekolah nya.


Raffa Moretti masih menatap tajam ke arah Shinichi. "Kamu bisa bahasa Italia juga ya?"


"Bahasa kungkang juga bisa! Kenapa? Masalah?" Shinichi membalas tatapan Raffa dengan sama judesnya.


"Jauhi Sakura Park!"

__ADS_1


"Nggak bisa cumi! Kita tinggal serumah!" cengir Shinichi. "Tidur serumah, makan serumah, mandi serumah..."


Raffa melongo tapi saat hendak membalas ucapan pria imut itu, suara bel berbunyi membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk menghajar pria songong di hadapannya.


"Kali ini kamu selamat!" ucap Raffa yang bergegas masuk ke halaman sekolah.


Shinichi hanya tersenyum smirk. "Elu yang kagak selamat muka rata! Gue bakalan minta menyan sama Tante Freya buat nyantet elu biar kagak ngejar adik gue, bambaaannggg! Eh, itu kan nama suaminya Shayna, sahabatnya Jules. Untung kagak ada orangnya."


Pria imut itu pun berbalik dan menuju stasiun untuk ke kampus Todainya.


***


Jam Istirahat Sekolah Internasional Tokyo


Raffa melihat Sakura sedang berjalan bersama dengan temannya yang dia tahu bernama Yumiko, sahabatnya.


Tanpa basa-basi, Raffa segera menarik lengan gadis remaja itu membuat Sakura berteriak judes.


"Morotttiiinnn!!" teriak Sakura kesal tapi Raffa seolah tidak mendengarkan teriakan bungsu Hideo Kojima Park itu.


Keduanya sampai di sebuah ruang gym yang memang sepi saat jam istirahat karena semua berada di kantin.


"Apa sih mau kamu!" hardik Sakura sambil menyentak lengannya yang dipegang oleh Raffa.


"Siapa pria tadi?" tanya Raffa dengan tatapan tajam.


"Songoku" jawab Sakura kalem.


"Sakuraaa..."


"Lho dia memang Songoku!" Kungkang kan satu rumpun sama monyet kan? Songoku di komik Dragon Ball kan punya ekor monyet waktu kecil. - batin Sakura.


"Apa benar dia serumah dengan mu?"


"Serumah..." Sakura nyaris terbahak. "Ohya, kami memang serumah. Makan, mandi, tidur juga serumah. Masalah?"


"Iya! Aku kira kamu gadis baik-baik, ternyata sudah tinggal bareng dengan seorang pria?"


"Ini jaman bebas, muka rata! Terserah aku mau ngapain! Kamu tidak ada hak melarang!" Sakura pun berbalik meninggalkan Raffa yang mengepalkan tangannya.


Awas kamu cowok songong!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2